Dunia Sedang Mengadili Aung San Suu Kyi, Begini Ceritanya

0
234
Sikap Aung San Suu Kyi yang pasif atas kejahatan kemanusiaan oleh militer terhadap Rohingya di negaranya menuai protes di sejumlah penjuru dunia

Nusantara.news, Jakarta – Sikap pasif pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi atas dugaan kejahatan kemanusiaan terhadap Rohingya oleh militer Myanmar menuai kecaman dunia Internasional. Protes dan pencabutan penghargaan yang pernah diraih Aung San Suu Kyi saat dianggap sebagai ikon demokrasi dicabut.

Protes keras dilakukan musisi Irlandia penggagas konser Live Aid yang legendaris, Bob Geldof, dengan cara mengembalikan penghargaan Freedom of the City of Dublin, jenis penghargaan yang juga pernah diraih oleh pemimpin de facto Myanmar itu.

Geldof mengatakan “keterkaitan Suu Kyi dengan kota kita adalah hal yang memalukan”. Geldof adalah musisi dan penggagas Live Aid, konser raksasa pada tahun 1985 yang sukses melibatkan para pemusik top dunia untuk membantu para korban kelaparan di Afrika.

Bob Geldof, mengembalikan penghargaan Freedom of the City of Dublin, jenis penghargaan yang juga diraih Suu Kyi

Saat mengembalikan kembali penghargaan di Balai Kota Dublin, Senin (13/11) kemarin lusa, Geldof tegas mengatakan, “Hubungan (Suu Kyi) dengan kota kita membuat kita malu. Kita dulu menghormatinya, dan sekarang dia begitu mengerikan sikapnya dan mempermalukan kita.”

Suu Kyi mendapat kecaman dari para pemimpin internasional dan kelompok-kelompok hak asasi manusia karena enggan mengakui kekerasan militer negerinya, yang oleh PBB disebut “contoh buku teks tentang pembersihan etnis”.

Selain Geldof, Sabtu (11/11) kemarin, kelompok musik U-2 yang juga berasal dari Irlandia juga mengkritik Suu Kyi, mendesaknya untuk mengambil sikap lebih tegas menentang kekerasan yang diduga dilakukan oleh pasukan keamanan.

Dalam pernyataan di laman band U-2, kelompok musik bahkan menuding kegagalannya dalam mencegah kejahatan kemanusiaan di negaranya itu mulai terlihat sebagai kesengajaan. Untuk itu U-2 mendesak Suu Kyi, “kekerasan dan teror yang diarahkan kepada orang-orang Rohingya merupakan kekejaman sangat mengerikan dan harus dihentikan.”

Cabut Penghargaan

Bukan itu saja, bahkan bulan lalu Dewan Kota Oxford mencabut penghargaan Freedom of the City untuk Suu Kyi, yang dianugrahkan pada tahun 1997. Mengutip keterangan Ketua Dewan Kota Oxford Bob Price, mengakui pencabutan penghargaan itu belum pernah terjadi sebelumnya” di kota itu.

Orang-orang “sangat terguncang” oleh situasi di Myanmar, ucap Bob. Terlebih sikap Suu Kyi yang tidak mengeluarkan sepatah kata tentang kekerasan yang dilaporkan di negaranya merupakan hal yang “luar biasa.”

Bukan hanya penghargaan dari Dewan Kota, St Hugh’s College di Universitas Oxford, tempat Suu Kyi mempelajari politik, pun sudah mencopot foto Aung san Suu Kyi dari dinding kampus.

Kekerasan di Rakhine yang meletus sejak 25 Agustus ketika gerilyawan Rohingya menyerang pos-pos keamanan di negara bagian Myanmar, Rakhine, itu telah memicu tindakan keras dari militer setempat. Perempuan Rohingya diperkosa militer Myanmar, desa-desa mereka dibakar, dan puluhan orang dilaporkan tewas terbunuh.

Militer Myanmar berdalih menumpas militan Rohingya, dan menyangkal telah memburu warga sipil. Namun faktanya lebih dari 500 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh. Maka ribuan aktivis melalui laman Change.org mengeluarkan petisi kepada komite Nobel Perdamaian untuk mencabut hadiah Nobel yang pernah diterima tokoh politik Myanmar, Aung San Suu Kyi, 2012 silam.

Petisi itu juga disulut oleh pernyataan Suu Kyi yang dinilai rasis, saat Suu Kyi memberikan pernyataan di buku biografinya, “Tak seorang pun memberi tahu bahwa saya akan diwawancara oleh seorang Muslim.”

Komentar itu tertulis di buku biografi berjudul “The Lady and The Generals : Aung San Suu Kyi and Burma’s Struggle for Freedom”, dikeluarkan Suu Kyi karena ‘geram’ usai wawancara dengan wartawan BBC Mishal Husain yang berdarah Pakistan, 2013 silam. Dalam wawancaranya itu Suu Kyi dimintai konfirmasi tentang sikapnya yang membisu atas terjadinya diskriminasi terhadap warga muslim Rohingya.

Seorang penggagas petisi, aktivis sosial Hamid Basyaib yang juga kesayangan almarhum Taufiq Kiemas itu menilai pernyataan Suu Kyi itu sebagai tindakan “diskriminatif” terhadap Muslim.”Itu pernyataan yang tidak pantas dan tidak relevan,” beber Hamid.

Bantahan Myanmar

Tudingan serius Perserikatan Bangsa-Bangsa dan aktivis kemanusiaan yang secara terang-terangan menyebutkan adanya indikasi kuat pembersihan etnis itu dibantah oleh militer Myanmar.

Dalam rilisnya yang berdasarkan hasil penyelidikan internal mereka, militer Myanmar telah menyangkal membunuh orang Rohingya, membakar desa mereka, memperkosa kaum perempuannya dan mencuri hartanya.

Pernyataan itu bertentangan dengan bukti yang dilihat oleh koresponden BBC tentang krisis yang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa disebut “contoh buku teks tentang pembersihan etnis”.

Amnesty International mengatakan laporan tentara itu bertentangan dengan bukti-bukti yang ada. Terlebih organisasi-organisasi kemanusiaan yang bertugas mencari fakta tidak pernah diizinkan oleh otoritas setempat memasuki wilayah konflik.

Akses media ke daerah itu sangat dibatasi. Namun pada satu perjalanan yang dikontrol ketat, koresponden BBC South East Asia Jonathan Head melihat pria Buddhis setempat mendirikan pemukiman di sebuah desa Rohingya di depan polisi bersenjata.

Tidak mengherankan apabila berbagai elemen di dunia Internasional, dengan cara masing-masing, mengadili sikap diam Aung San Suu Kyi. Jadi siapa bilang diam itu emas? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here