Dunia yang Mulai Berancang-ancang

0
120
Photograph: Drew Angerer/Getty

Nusantara.news, Jakarta – Sejak diumumkan kemenangannya pada Pemilu Amerika Serikat November 2016, sosok Donald Trump sudah membuat resah para pemimpin negara-negara di dunia, terutama yang pro sistem kapitalisme global. Trump dianggap sosok pemimpin yang akan membawa negara adidaya itu ke dalam ideologi tertutup dengan mengusung populisme serta nasionalisme sempit.

Rencana-rencana Trump dibaca sebagai jalan Amerika menuju ideologi proteksionis yang cenderung anti terhadap globalisasi. Dunia pun mulai berancang-ancang, menyambut kebijakan-kebijakan Trump yang bagi sebagian kalangan sangat merisaukan.

Sehari setelah diambil sumpahnya di Gedung Capitol, Jumat (20/1/2017) Trump tak mau menunggu lama untuk membuktikan janji-janjinya. Dia menandatangani nota eksekutif yang cukup penting dan menimbulkan reaksi, pertama soal penghapusan Obamacare, kedua soal keputusan AS menarik diri dari kemitraan perdagangan Trans-Pacific Partnership (TPP) pada Senin (23/1/2017).

Memutus Kemitraan di TPP

Kemitraan Tras-Pasifik (TPP) meliputi 12 negara termasuk AS, masing-masing negara memang berhak untuk mengajukan pengunduran diri dari perjanjian perdagangan tersebut. Keputusan ini dinilai bakal membuat AS menjauh diri negara-negara sekutunya di Asia dan membuat pengaruh Cina diperkirakan menguat di kawasan tersebut.

TPP adalah rencana perjanjian dagang yang dirundingkan oleh Australia, Brunei, Chili, Kanada, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, Amerika Serikat, dan Vietnam. Perjanjian dagang ini diarahkan untuk menangani masalah perdagangan abad ke-21.

Pada awalnya TPP didukung oleh kalangan bisnis AS yang telah dinegosiasikan oleh pemerintahan mantan Presiden Partai Demokrat Barack Obama tetapi tidak pernah disetujui oleh Kongres AS.

TPP dirancang oleh Obama, dimana Cina tidak berada di dalamnya, sebagai upaya untuk membuat aturan perdagangan di Asia. Perjanjian ini sebenarnya ditujukan untuk membangun kepemimpinan ekonomi AS di Asia sebagai bagian dari “Poros Asia”.

Sementara, Cina telah mengusulkan Kawasan Perdagangan Bebas Asia Pasifik dan memperjuangkan Asia Tenggara yang didukung Regional Comprehensive Economic Partnership.

Langkah Trump menarik diri dari TPP tentu memicu kekhawatiran negara-negara Asia termasuk Jepang dan negara-negara lain di Asia-Pasifik, selain kebijakan lain Trump yang tampaknya juga akan segera dilaksanakan, yaitu menuntut sekutu AS membayar lebih bagi biaya keamanan negara-negara mereka.

Sikap perdagangan Trump ini sebetulnya mewakili perasaan yang berkembang di kalangan Amerika yang selama ini merasakan bahwa perdagangan internasional telah bersikap tidak adil terhadap pasar kerja AS. Partai Republik telah lama berpandangan bahwa perdagangan bebas adalah suatu keharusan, tapi suasana hati mereka saat ini telah berubah karena tidak menguntungkan AS.

“Ini akan menjadi pertarungan yang  sangat sulit,” kata Lanhee Chen, dari Hoover Institution yang pernah menjadi penasihat kebijakan domestik untuk capres dari Partai Republik tahun 2012, Mitt Romney. “Trump telah mencerminkan tren yang sudah jelas selama bertahun-tahun,” kata dia sebagaimana dilansir Politico.

Dengan mundurnya AS dari TPP, menurut Harry Kazianis, direktur studi pertahanan di Center for the National Interest, sebuah lembaga think-tank di Washington, Trump sekarang harus mencari cara alternatif untuk meyakinkan sekutu-sekutunya di Asia.

“Hal ini dapat mencakup beberapa perjanjian perdagangan bilateral. Jepang, Taiwan dan Vietnam yang harus didekati pertama karena mereka adalah kunci untuk setiap strategi baru di Asia,” katanya.

Selain TPP, Trump juga berencana melakukan negosiasi ulang terhadap Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) yang melibatkan Meksiko dan Kanada.

Trump akan bekerja untuk menegosiasikan kembali NAFTA untuk memberi persyaratan yang lebih menguntungkan bagi AS. Trump mengatakan, dia akan bertemu dengan para pemimpin NAFTA yaitu Meksiko dan Kanada untuk memulai proses tersebut dalam beberapa waktu ke depan.

Kurangi Regulasi dan Potong Pajak

Terkait perekonomian dalam negeri, Trump telah bertemu dengan 12 CEO perusahaan AS di Gedung Putih pada Senin (23/1) dia berjanji untuk mengurangi regulasi hingga 75% dan memotong pajak perusahaan, tapi juga memperingatkan para pengusaha, bahwa dia akan mengambil tindakan atas transaksi perdagangan yang tidak adil.

Trump berjanji untuk memulangkan pabrik-pabrik kembali ke AS, hal yang dijanjikannya pada saat memenangi Pemilu AS November tahun lalu. Dia juga mengatakan, perusahaan yang memilih untuk berinvestasi di luar negeri akan membayar pajak.

“Kami akan memberlakukan pajak perbatasan yang sangat besar,” kata Trump meskipun belum dijelaskan secara rinci berapa besarannya dan bagaimana mekanismenya.

Trump meminta sekelompok CEO dari perusahaan-perusahaan itu, termasuk Ford Motor Co, Dell Technologies Inc, Tesla Motors Inc dan lain-lain untuk membuat rekomendasi dalam 30 hari untuk merangsang manufaktur.

Di bidang manufaktur Trump menginginkan AS membuat penawaran perdagangan bilateral (satu per satu) dengan negara-negara yang memungkinkan untuk menghentikan kerja sama dalam 30 hari pada saat negara tersebut “bertingkah”.

“Kami akan menghentikan transaksi perdagangan konyol,” kata Trump.

Membuat kuping panas

Sejak diumumkan sebagai pemenang Pilpres, Trump sudah membuat kuping para pemimpin dunia, terutama Eropa panas. Trump memulai kebijakan luar negerinya dengan mengkritik aliansi militer yang paling penting di Amerika, NATO, bahkan sebelum dia dilantik sebagai presiden. Dia menyatakan bahwa NATO telah usang.

Seperti diketahui, NATO dibentuk pada akhir masa Perang Dingin dengan AS sebagai penggeraknya. Organisasi ini didirikan untuk menjadi pelindung Eropa dari Rusia. Dengan kesepakatan, “Satu serangan pada negara anggotanya, itu berarti serangan untuk seluruh anggota NATO.”

Selain itu, miliarder gaek ini juga mengkritik kanselir Jerman Angela Merkel sebagai telah melakukan kesalahan fatal dengan membiarkan terjadinya migrasi massal (imigran Timur Tengah). Merkel yang cukup dihormati di Eropa saat itu menjawab, keputusannya bukanlah keputusan seorang diri, tapi Uni Eropa.

Presiden Prancis Francois Hollande sempat masuk dalam pusaran kritik Trump dengan membela Merkel, dengan mengatakan, “(Eropa) tidak butuh nasihat orang luar soal apa yang harus dilakukan,” ungkap Hollande.

Sikap Trump di awal kepemimpinannya tentu menjadi tugas berat berikutnya bagi Menlu AS Rex Tillerson dan Menhan AS Jim Mattis yang telah mendapat konfirmasi Kongres, untuk mengendalikan hubungan yang memanas antara AS dan Eropa ini. Bagaimanapun Eropa adalah sekutu strategis AS.

Terhadap Cina, Trump seolah ingin menegosiasi soal ‘Kebijakan Satu Cina’ dengan menerima telepon kenegaraan dari Presiden Taiwan. Pemerintah Cina memprotes langkah Trump ini dan tegas menyatakan tidak mau bernegosiasi soal ‘Kebijakan Satu Cina’.

Pernyataan-pernyataan presiden Trump juga mendapat respon dari presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Turki sebetulnya mempunyai peluang yang lebih besar untuk bekerja sama dengan AS di Era Trump ketimbang Obama, tapi dukungan kuat Trump terhadap program pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat dan Yerusalem menjadi keprihatinan Erdogan.

Erdogan telah menyampaikan kekhawatirannya pada Minggu (22/1) dengan mengatakan, ia mendengar kalimat-kalimat Trump tentang Timur Tengah yang mengganggu.

Donald Trump masih akan membuat kejutan demi kejutan dalam hari-hari ke depan, yang mungkin saja akan membuat pandangan dunia terhadap Paman Sam ini menjadi berubah dari sebelumnya. Terpenting, negara-negara dunia saat ini bersiap-siap mengantisipasinya. Bagaimana Indonesia? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here