Dwi Hartanto, Dunia Pendidikan dan Petuah Sambernyawa

2
204
Dwi Hartanto bersama BJ Habibie. Kebohongannya sempat memukau sejumlah media massa di Indonesia yang menjulukinya "the Next Habibie".

Nusantara.news, Jakarta – Muda, sukses dan terkenal. Itulah pandangan umum masyarakat tentang Dwi Hartanto. Bagaimana tidak, sebagai ilmuwan muda dia tampil di acara “Mata Najwa” pada Oktober 2016 dengan pujian segudang prestasi yang dimilikinya. “The Next Habibie”, begitulah julukan bombastis yang disematkan media massa nasional kepada Dwi yang kelahiran Madiun, 13 Maret 1982 itu.

Namun decak kekaguman seketika runtuh saat Dwi mengakui lima kebohongan yang membuatnya terkenal. Rupanya kebohongan Dwi sudah tercium oleh para koleganya yang sama-sama kuliah di Belanda. Pemicunya, ungkap Deden Rukmana, profesor dan pakar urban studies di Savannah State University, Amerika Serikat, tersebarnya klaim kehebatan Dwi di grup WhatsApp Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4).

“Rasa kebanggaan dan kekaguman saya terhadap Dwi Hartanto ‘terganggu’ ketika saya menerima rangkaian pesan dari grup WA Pengurus I-4 yang membahas tentang yang bersangkutan. Pada tanggal 10 September 2017 lalu, salah seorang anggota pengurus I-4 secara terpisah mengirimkan dua dokumen lengkap berisikan investigasi terhadap beragam klaim yang dibuat oleh Dwi Hartanto,” tulis Deden dalam akun Facebook-nya.

Dokumen yang dimaksud Deden terdiri dari paparan 33 halaman berisi foto-foto aktivitas Dwi, baik yang diambil dari Facebook miliknya maupun link dari sejumlah website tentangnya. Satu diantaranya adalah transkrip wawancara di program Mata Najwa, Oktober 2016. Juga surat menyurat dengan sejumlah pihak untuk mengklarifikasi aktivitas yang diklaim Dwi Hartanto.

Dokumen lainnya, imbuh Deden, setebal delapan halaman yang berisi ringkasan investigasi terhadap pengakuan Dwi di akun facebook miliknya maupun media massa. Investigasi ini berhasil membongkar kebohongan Dwi tentang latar belakang sekolah S-1nya, umur, keterlibatannya dalam pengembangan roket militer, PhD in Aerospace, Technical Director di bidang rocket technology and aerospace engineering, interview dengan media international, dan kompetisi riset.

Karena tidak bisa lagi mengelak, akhirnya Dwi Hartanto yang memang tercatat sebagai mahasiswa program doktoral di Technische Universiteit (TU) Delft Belanda mengakui kebohongannya, terutama soal umur yang sudah 35, bukan 28 sehingga dia disebut-sebut doktor termuda, dan asal usul ijazah S-1nya yang bukan didapat di Tokyo Institute of Technology, melainkan dari AKPRIND, sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta.

Pengakuan sepanjang 5 halaman PDF yang dimuat situs ppidelft.net pada tanggal 7 Oktober 2017 itu Dwi menyebut, setelah lulus dari AKPRIND dia mengambil program master di TU Delft, Faculty of Electrical Engineering, Mathematics, and Computer Science, dengan tesis “Reliable Ground Segment Data Handling System for Delfi-n3Xt Satellite Mission“. Namun Dwi mengakui kebohongan untuk lima hal lainnya.

Pertama, dia belum doctor dan bukan asisten profesor di TU Delft. Sebab dia masih menjalani program doktoral di grup riset Interactive Intelligence, Departement of Intelligent Systems di fakultas yang sama di Delft di bawah bimbingan Prof. M.A. Neerincx dengan judul disertasi “Computer-based Social Anxiety’ Regulation in Virtual Reality Exposure Therapy”. “Informasi mengenai posisi saya sebagai post-doctoral apalagi assistant professor di TU Delft adalah tidak benar,” tulisnya.

Kedua, dia tidak ikut Kompetisi Antar-Space Agency Dunia di Jerman. “Saya mengakui bahwa ini adalah kebohongan semata. Saya tidak pernah memenangkan lomba riset teknologi mt&v-space agency dunia di Jerman pada 2017. Saya memanipulasi template cek hadiah yang kemudian saya isi dengan nama saya disertai nilai nominal EUR 15.000, kemudian berfoto dengan cek tersebut. Foto tersebut saya publikasikan melalui akun media sosial saya dengan cerita klaim kemenangan saya.

Ketiga, dia berbohong tentang latar belakang pertemuannya dengan BJ Habibie. Sebelumnya dia berbohong, Habibie sangat ingin bertemu dengannya. Kenyataannya, Dwi sendiri yang meminta petugas KBRI Den Haag untuk mempertemukannya dengan Habibie saat acara Visiting World Class Professor di Jakarta. Dwi mengaku memang diundang, namun kompetensi yang disebutkan sebagai alasan dia diundang adalah tidak benar.

Keempat, dia berbohong telah merancang Satellit Launch Vehicle. Padahal berdasarkan pengakuannya dia hanya bagian dari tim mahasiswa yang merancang subsistem embedded flight computer untuk roket Cansat V7s milik DARE. Dwi juga membantah ada roket bernama TARAV7s.

Kelima, Dwi mengakui kebohongannya saat diwawancara di acara Mata Najwa yang menyebutkan dirinya adalah satu-satunya orang non-Eropa yang masuk ke ring satu teknologi Badan Antariksa Eropa (ESA).

Terus siapa yang mesti bertanggung-jawab atas munculnya kasus seperti Dwi Hartanto? Petama tentu saja dunia pendidikan yang telah kehilangan fungsinya dalam mendidik karakter dan budi pekerti. Sekolah tampaknya hanya mengedepankan fungsi pengajaran, transfer ilmu pengetahuan sehingga melupakan akar filosofisnya.

Maraknya plagiarisme sudah menggejala dalam satu hingga dua dekade terakhir dengan maraknya jasa pembuatan skripsi di sekitar kampus perguruan tinggi. Bahkan Rektor Universitas Negeri Jakarta dicopot dari jabatannya karena diduga melakukan praktek plagiarisme untuk program doktoral di perguruan tingginya.

Dalam hal kejujuran peserta didiknya, peguruan tinggi sebenarnya hanya menampung limpahan persoalan dari jenjang pendidikan sebelumnya. Ketidak-jujuran sebenarnya sudah ditularkan secara terstruktur, massif dan sistemik lewat sistem ujian nasional yang lebih mengedepankan prestise sekolah, bahkan prestise kepala daerah. Untuk mencapai hal itu apa pun cara ditempuh, termasuk mengorbankan kejujuran.

Selanjutnya, media massa turut menyumbang hadirnya orang-orang tidak jujur seperti Dwi Hartanto menjadi ikon publik. Sebab media massa di era percepatan sekarang ini lebih mementingkan adu cepat dalam menyuguhkan suatu fenomena hingga menjadi nilai berita ketimbang melakukan verifikasi sumber berita.

Mestinya klaim-klaim kebohongan Dwi Hartanto sejak awal bisa dicegah apabila ada insan pers yang melakukan klarifikasi ke kolega-koleganya. Namun kebutuhannya tentang ikon atau tokoh anak muda berprestasi telah mengabaikan kesemuanya. Semua terbius oleh kebohongan yang ke depannya bisa dilakukan oleh siapa saja.

Padahal, di Abad ke-18 lalu, Mangkunegara I atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa telah menasehati kita semua dengan petuah, “Ojo gumunan, ojo kagetan, ojo dumeh.” Artinya, jangan mudah terpukau, jangan mudah terkejut dan jangan mentang-mentang.”

Karena mudah terpukau, mudah terkejut dan mudah membangga-banggakan sesuatu padahal tidak ada apa-apanya maka kita rentan menjadi korban kebohongan, bukan hanya Dwi Hartanto, melainkan juga kasus First Travel, sejumlah kasus investasi bodong, bahkan hadirnya tokoh-tokoh politik yang terlihat hebat padahal tidak memberikan manfaat kepada orang banyak.[]

2 KOMENTAR

  1. Byadalaaaa … ini tantangan bagi orang-orang spt saya yang terjun langsung di dunia pendidikan, utk selalu membiasakan nilai-nilai hidup sederhana: jujur, benar, apa adanya, tdk silau ketenaran …!

    • Iya, begitulah. Karena lingkungan pergaulan sudah sangat berubah. Tidak sederhana seperti kita masih kecil. Tapi kuncinya adalah petuah Pangeran Sambernyawa : Ojo gumunan, Ojo kagetan, Ojo dumeh, hehe

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here