Dwi Sutjipto Bermain Api Terkait Impor Solar 1,2 Juta Barrel

0
231

Nusantara.news, Surabaya – Penyebab pemberhentian Dirut Pertamina Dwi Sutjipto (DS) masih menjadi pergunjingan. Belakangan muncul argumen bahwa Dwi Sutjipto diberhentikan karena dia bermain api yang membuat pihak tertentu tiak suka keapdanya.

Tanda ketidaksukaan pihak-pihak tertentu terhadap DS telah dimulai pada oktober tahun lalu, dimana adanya perubahan AD/ART yang memasukkan jabatan wakil direktur utama (Wadirut) yang diisi oleh Akmad Bambang(AB) yang sebelumnya menjabat direktur pemasaran.

Hal ini memancing munculnya isu tidak sedap dimana adanya kudeta terhadap DS oleh Wadirut. Beberapa kali dalam hal strategis antara Dirut dan Wadirut terdapat perbedaan. Paling nyata terkait impor solar 1,2 juta barrel. AB diisukan melangkahi wewenang Dirut.

Perselisihan antara Dirut dan Wadirut ini mengingatkan kita akan cerita Aji Saka. Setelah menjadi raja di Medang Kamulan, Aji Saka mengirim utusan pulang ke rumahnya di Bumi Majeti untuk mengabarkan kepada abdinya yang setia Dora and Sembodo, untuk mengantarkan pusakanya ke Jawa.

Utusan itu bertemu Dora dan mengabarkan pesan Aji Saka. Maka Dora pun mendatangi Sembodo untuk memberitahukan perintah Aji Saka. Sembodo menolak memberikan pusaka itu karena ia ingat pesan Aji Saka: tidak ada seorangpun kecuali Aji Saka sendiri yang boleh mengambil pusaka itu. Dora dan Sembodo saling mencurigai bahwa masing-masing pihak ingin mencuri pusaka tersebut.

Akhirnya mereka bertarung, dan karena kedigjayaan keduanya sama, maka mereka sama-sama mati. Aji Saka heran mengapa pusaka itu setelah sekian lama belum datang juga, maka ia pun pulang ke Bumi Majeti. Aji Saka terkejut menemukan mayat kedua abdi setianya dan akhirnya menyadari kesalahpahaman antara keduanya berujung kepada tragedi ini. Untuk mengenang kesetiaan kedua abdinya maka Aji Saka menciptakan sebuah puisi yang jika dibaca menjadi Aksara Jawa Hanacaraka.

Lantas apa sesungguhnya yang membuat pihak-pihak tertentu tersebut marah?

Terdapat isu penting yang dihadapi Pertamina yakni, lifting minyak yang selalu turun, kapasitas kilang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan konversi energi ke BBG (Bahan Bakar Gas), serta tidak kalah pentingnya terbentuknya Holding BUMN Migas.

Terkait isu di atas akhir tahun 2015 menteri ESDM yang waktu itu masih dijabat oleh Sudirman Said mengeluarkan SK nomor 4822 K/12/MEM/2015 tentang penugasan kepada PT. Pertamina (Persero) dalam pembangunan dan pengoperasian jaringan distribusi gas bumi untuk rumah tangga tahun anggaran 2016.

Sebagai konsekuensi SK ini, Pertamina harus membeli gas dari PT. Chevron Indonesia Company sebesar 0,5 MMSCFD. Setahun lebih DS terlihat enggan merealisasikan keputusan ini. Baru teralisasi 4 hari setelah DS dicopot.

Selasa(7/2/2017) Pertamina telah menandatangani jual beli gas untuk pasokan Stasiun Pengisian Bahan bakar Gas (SPBG) dan Jaringan Gas Rumah Tangga penugasan pemerintah kepada Pertamina di Balikpapan.

Pasokan gas bersumber dari lapangan-lapangan pemasok, yaitu Chevron Indonesia Company dengan volume sebesar 1,5 MMSCFD yang berlaku hingga 2018. Penandatanganan dilakukan oleh VP Natural Gas Pertamina, Wiko Migantoro.dan VP Commercial Chevron Indonesia John White dan disaksikan oleh Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar.

Dari pasokan tersebut, 1 MMSCFD diperuntukkan bagi SPBG Mother Station Rapak Balikpapan dan 0,5 MMSCFD diperuntukkan bagi jaringan gas rumah tangga di Balikpapan. Ada sekitar 3.849 sambungan rumah tangga yang akan mendapatkan pasokan gas dari jaringan yang dioperasikan oleh PT Pertagas Niaga

Proyek Ambisius Jaringan Gas

Selama Dwi Sutjipto menjabat Dirut Pertamina, yang menjadi fokus adalah realisasi kilang minyak Tuban dan Bontang dengan nilai Investasi USD25 miliar. Sementara untuk jaring gas yang dikelola oleh anak perusahaan PT. Pertagas disesuaikan dengan kemampuan.

Namun setelah Dwi Sutjipto dicopot, fokus pertamina dalam 30 hari kedepan sudah berubah. Dalam International Indonesia Gas Conference & Exhibition 2017, terungkap  adanya proyek ambisius yang ingin digapai pertamina.

Yenni Andayani yang menjadi Plt. Direktur Utama Pertamina yang juga menjabat Chairman Indonesia Gas Society mengatakan, meningkatnya kebutuhan energi domestik ini disebabkan oleh pertumbuhan populasi kelas menengah dan meningkatnya gross domestic product (GDP). Angka pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan konsumsi energi secara global.

Sekitar 15% kebutuhan energi tersebut dipasok dengan gas, sedangkan sisanya dipasok dengan bumi, batubara dan lainnya. Indonesia merupakan negara yang diberkahi dengan sumber gas yang cukup berlimpah.

Sejak tahun 1970an,  Pertamina telah menjadi salah satu exporter LNG di dunia dan terlibat dalam pembangunan  infrastruktur LNG yang berkelas dunia  seperti fasilitas LNG di Arun, Bontang, dan Donggi Senoro. Disamping itu, Pertamina juga telah memiliki jaringan pipa gas transmisi dan distribusi, serta lapangan-lapangan gas besar antara lain Mahakam dan Corridor.

Peran gas alam untuk ekonomi Indonesia ke depan akan cukup menonjol yang utamanya dipicu oleh pertumbuhan permintaan gas dari pembangkit listrik PT PLN (Persero) untuk kapasitas total sekitar 14 GW yang merupakan  bagian program 35 GW Pemerintah dan proyek Refinery Development Master Plan pada empat kilang dan dua New Grass Root Refinery milik Pertamina. Selain itu, pertumbuhan juga akan didukung oleh penambahan kapasitas pabrik pupuk dan sektor transportasi.

“Proyek-proyek tersebut menjadikan permintaan gas meningkat dan tantangan selanjutnya adalah upaya yang harus dilakukan untuk memenuhi permintaan tersebut dari hulu ke hilir. Indonesia memerlukan investasi baru untuk mengeksplorasi dan mengembangkan sumber-sumber gas baru serta membangun infrastruktur gas yang akan mengirimkannya ke konsumen akhir,” kata Yenni dalam pembukaan International Indonesia Gas Conference & Exhibition 2017.

Berdasarkan kalkulasinya, untuk membangun infrastruktur gas secara menyeluruh Indonesia memerlukan investasi baru sekitar US$70-80 miliar hingga 2030. Selain mendukung upaya pemenuhan gas domestik, investasi baru tersebut juga berarti menciptakan ribuan lapangan kerja, memicu pertumbuhan industri, dan juga memacu pertumbuhan GDP Indonesia.

“Investasi infrastruktur gas merupakan investasi jangka panjang untuk 30-an tahun dan untuk menjadi tujuan investasi, Indonesia berkompetisi dengan negara lain. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi yang baik di seluruh stakeholder, insentif, harga yang kompetitif, dan memastikan iklim investasi dalam negeri yang baik,” terangnya.

Pertamina, lanjut Yenni, sebagai pioner bisnis gas dan LNG dalam skala global telah melakukan upaya pengembangan infrastruktur gas di seluruh mata rantai bisnis gas. Pertamina secara terus menerus melakukan pengembangan gas hulu,  menyiapkan rencana revitalisasi Blok Mahakam, membangun FSRU (Floating Storage Regasification Unit), mengembangkan pipa gas, dan telah mengamankan pasokan LNG dari dalam dan luar negeri. Pertamina siap menjadi agen untuk memacu pertumbuhan infrastruktur dan konsumsi gas di Indonesia. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here