E-Commerce, Trend Ekonomi Bak Pisau Bermata Dua

0
113
Trend ekonomi e-commerce akan menjadi acuan ekonomi ke depan, perlu diatur dengan regulasi yang tak merugikan ekonomi nasional.

Nusantara.news, Jakarta – Beberapa waktu lalu owner Grup MNC Hary Tanoesoedibjo mengingatkan perlu adanya aturan tarif pajak belanja online asing untuk melindungi ritel dalam negeri. Sebab kalau dibiarkan, akan mengganggu bahkan merusak perekonomian nasional.

Peringatan Hary Tanoe ini patut dicermati karena memang sekarang ini adalah fase disruption teknologi informasi, era dimana ketidakteraturan teknologi informasi dan komunikasi karena belum adanya aturanya jelas. Bahkan era borderless, dimana batas-batas benua, negara, wilayah, usia, bahkan batas nilai sudah tak ada lagi.

Secara tersirat, peringatan Hary Tanoe ini ada benarnya bahwa dalam ketidakteraturan teknologi informasi dan komunikasi, bisa saja membuat ekonomi terpuruk.

Namun memang cakupan disruption ini harus dipahami dulu duduk perkaranya agar dapat melihat dengan jernih duduk perkaranya.

Menurut Guru Besar UI Rhenald Kasali, disruption adalah sebuah inovasi, yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disruption berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru. Disruption menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologl digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat.

Disruption pada akhirnya menciptakan suatu dunia baru, seperti digital marketplace. Pasar virtual, konsep yang serasa asing bagi para pelaku usaha lama maupun regulator senior. Kini kaum muda hidup di dunia yang berbeda, dunia virtual yang tak kelihatan sehingga para regulator perlu siap adaptif terhadap perubahan ini.

Pada era ini, perdagangan melalui dunia maya akan semakin intensif, membuat para pendatang baru menantang korporasi-korporasi besar dan para incumbentDisruption menjadi sesuatu yang tak terhindarkan atau sudah menjadi keniscayaan.

Selain menghancurkan Kodak, Western Union, Nokkia, Blackberry dan menggergaji taksi Express, Bluebird dan banyak lagi lainnya, disruption juga melahirkan platform-platform baru seperti MOOC (Massive Open Online Course), ekonomi berbagi (sharing economy), online economy, peer to peer Iending, smart home, fleet management, smart cities/kampong, surveilIance, dan lain-lain.

Transaksi e-commerce

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengungkapkan kontribusi ekonomi kreatif (ekraf) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) naik hingga Rp1.000 triliun lebih pada tahun ini. Beragam kegiatan pun digelar demi mendukung ekosistem ekraf di tanah air.

Kepala Bekraf Triawan Munaf menyebutkan, kontribusi ekraf terhadap PDB terus mengalami kenaikan. Pada 2015 hanya Rp852,56 triliun (tumbuh 7,38%) lalu pada 2016 menjadi Rp922,58 triliun (tumbuh 7,44%).

“Maka saya yakin di akhir 2017 sudah naik sampai Rp1000 triliun. Hal itu karena, rata-rata kenaikannya setiap tahun Rp70 triliun,” ujar Triawan beberapa waktu lalu.

Menurutnya, gagasan kreatif tidak akan pernah habis. Maka diharapkan bisa menggantikan Sumber Daya Alam (SDM) menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Selama tiga tahun keberadaan Bekraf, kata dia, berbagai kegiatan telah dilakukan. Tahun ini pun, Bekraf sudah menyusun berbagai program pengembangan sistem ekraf, di antaranya Coding Mum, Bekraf Animation Conference (Beacon), Bekraf Creative Labs, Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON), Bekraf Festival, dan lainnya.

Pertumbuhan sektor perdangan elektronik (e-Commerce) yang cukup bagus pada tahun lalu, membuat sektor ini masih menjadi primadona para investor pada 2018.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai investasi di sektor e-commerce pada 2017 mencapai lebih dari US$5 miliar (ekuivalen Rp71,5 triliun), sehingga membuatnya sebagai salah satu sektor ekonomi paling strategis.

Melihat pertumbuhan ini Shopback sebagai platform e-Commerce cashback menganalisis kecenderungan yang akan menjadi tren di sektor e-commerce pada 2018.. Sedikitnya ada lima hal yang diprediksi akan menjadi buah bibir di sektor e-commerce pada tahun ini.

Pertama, semakin banyak pedagang offline beralih ke online. Pertumbuhan positif e-commerce di Indonesia membuat perubahan pola belanja masyarakat yang semakin bergeser ke arah elektronik atau belanja online.

Perubahan pola perilaku belanja ini juga ditunjukkan dengan jumlah transaksi e-commerce yang meningkat. Laporan tahunan yang dikeluarkan We Are Social menunjukkan persentase masyarakat Indnesia yang membeli barang dan jasa secara online dalam kurun waktu sebulan pada 2017 mencapai 41% dari total populasi, naik 15% dibandingkan 2016 yang hanya 26%. Pada 2018 diperkirakan masih akan naik menjadi 60%.

Berdasarkan survei Shopback terhadap lebih dari 1.000 responden di Indonesia untuk melihat pola belanja masyarakat, sebanyak 70,2% mengaku keberadaan toko online memengaruhi pola belanja. Mereka menjadi lebih sering berbelanja online dibangingkan di toko offline.

Selain itu, sebanyak 83,1% responden mengaku pernah ke toko offline untuk melihat barang, tapi kemudian membelinya secara online.

“Hal ini disebabkan banyak promo diskon yang ditawarkan platform e-commerce, ditambah lagi mereka akan mendapatkan cashback jika melakukan transaksi belanja di ShopBack,” ​Country General Manager Shopback Indonesia, Indra  Yonathan.

Kedua, mobile wallet (dompet dalam handphone) semakin marak. Berdasarkan data lembaga riset digital eMarketer, jumlah pengguna smartphone di Indonesia diprediksi akan mencapai lebih dari 350 juta.

Jumlah ini diklaim akan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar ke empat di dunia setelah Tiongkok, India dan AS. Hal ini tentunya menjadi potensi sangat besar untuk mengembangkan mobile wallet atau dompet digital di Indonesia.

Sepanjang 2017, ShopBack melihat ada beberapa mobile wallet yang sering diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia, yakni GoPay, Jenius, TCash, Pay Pro dan OVO. Dilihat dari Google Trends, jumlah pencarian untuk kelima mobile wallet ini mengalami peningkatan.

Tahun ini penggunaan mobile wallet akan mengalami peningkatan. Selain itu, akan lebih banyak lagi bermunculan beberapa kerja sama untuk menciptakan mobile wallet.

Ketiga, jasa pengiriman di hari yang sama jadi pilihan utama. Kendala pengiriman barang yang membutuhkan waktu cukup lama, menjadi salah satu permasalahan e-commerce dalam dua tahun belakang. Kemunculan jasa transportasi online dengan fitur pengiriman barang pun menjadi solusi dari permasalahan ini.

Kecepatan dan harga terjangkau dibanding jasa pengiriman logistik konvensional, menjadi alasan konsumen lebih memilih layanan pengiriman di hari yang sama (same day service delivery) serta satu hari (one-day service delivery).

Namun, ini hanya berlaku untuk pengiriman dalam kota saja karena jasa pengiriman logistik konvensional masih menjadi pilihan untuk antar kota.

Keempat, penjual di Instagram beralih ke toko online Google mencatat ketertarikan masyarakat Indonesia berkecimpung di dunia e-commerce semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan data Top 10 pencarian populer di Google sepanjang 2017 dalam hal “Cara Menjadi”.

Dari data tersebut, masyarakat Indonesia ingin mengetahui cara menjadi agen Bukalapak, reseller toko online dan penjual Lazada, yang masing-masing berada di peringkat 6, 7 dan 9.

Kelima, penjualan tiket online meningkat. Mulai bergesernya pola perilaku belanja masyarakat, juga berdampak pada penjualan tiket. Selain di sektor transportasi, penjualan tiket untuk acara pertunjukan, musik dan olahraga mulai banyak dijual secara online. Baru-baru ini, penjualan tiket pertandingan Indonesia kontra Islandia mencetak rekor penjualan online.

Berdasarkan data Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), sebanyak 7.542 tiket terjual pada 10 Januari 2018, sehingga berhasil mencetak rekor penjualan tiket online terbanyak dalam satu hari di Indonesia.

Pada tahun ini akan banyak gelaran acara yang menyedot animo masyarakat. Sebut saja, gelaran pesta olahraga terbesar di Asia, Asian Games 2018, yang akan dilaksanakan pada Agustus mendatang. Gelaran ini diprediksi akan turut berkontribusi pada peningkatan penjualan tiket secara online di Indonesia.

Sisi negatif

Jadi begitu luas manfaat teknologi informasi berikut turunan dan inovasinya buat pengembangan bisnis dan ekonomi. Masalahnya, adalah sisi negatif dari teknologi informasi ini juga tidak sedikit.

Serangan e-commerce asing, menurut Hary Tanoe, bisa mengancam ekonomi nasional. Karena barang-barang asing bisa masuk lewat transaksi e-commerce, sementara uangnya tersedot ke negara asal e-commerce tersebut.

Hary mengungkapkan seharusnya lapangan kerja harus tumbuh lebih cepat dari pada pertumbuhan pencari kerja, sehingga kesejahteraan akan meningkat. Namun pertumbuhan e-commerce asing yang tak terbendung bisa menggerus tenaga kerja lokal. Lagi-lagi karena barang-barang yang diperdagangkan berasal dari negeri asal e-commerce.

Karena itu Hary Tanoe mengusulkan regulasi belanja online diperlukan untuk melindungi usaha padat karya. Selain itu ia mengusulkan perlunya ada pengaturan tarif pajak belanja online asing untuk melindungi ritel dalam negeri. Diketahui saat ini belanja online asing baru akan dikenakan pajak bila harga barang yang dibeli di atas USD100. Barang di bawah harga tersebut tidak dikenai pajak.

Hal tersebut berdampak pada lesunya usaha lokal, bahkan tak sedikit yang harus menutup usahanya karena tidak mampu bersaing. Sementara Indonesia membutuhkan lapangan kerja menghadapi pesatnya pertumbuhan usia produktif karena bonus demografi.

Seperti diketahui, saat ini Indonesia membebaskan bea masuk untuk barang bernilai hingga US$100 atau sekitar Rp1,3 juta. Hal inilah yang menimbulkan kerugian bagi industri UMKM Tanah Air.

Sementara UMKM sendiri menjadi salah satu sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, UMKM menyerap tenaga kerja lebih dari 114 juta orang di hampir 58 juta unit usaha.

Kalau harga mereka terlalu murah industri dalam negeri tidak akan mampu bersaing, bisa-bisa kita rusak karena tidak ekspor dan produksi lagi dan ini akan berakibat pada produksi dalam negeri yang terus menurun, tidak berkembang, gulung tikar kemudian pengangguran di mana-mana.

Itu sebabnya, pemerintah harus bijak menyikapi kecenderungan pemain e-commerce asing yang makin agresif di dalam negeri. Disatu sisi ia menawarkan segudang kemudahan, disisi lain ia memberikan ancaman.

Memang begitulah e-commercer, bak pedang bermata dua. Satu sisinya memberi manfaat, sisi lainnya memberi mudharat. Karena itu bijak-bijaklah dalam mengambil keputusan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here