Efek Berantai Koalisi PKB-PDIP di Pilkada Probolinggo Kota

1
628

Nusantara.news, Probolinggo – Peta politik di beberapa daerah diprediksi berubah total pasca rekomendasi DPP PDI Perjuangan turun kepada pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Abdullah Azwar Anas di Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018 Jawa Timur. Penetapan itu menjadi penegas koalisi partai berlambang banteng moncong putih dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bakal berlanjut hingga Pemilihan Presiden 2019.

Pertanyaannya, akankah dua kekuatan besar ini solid hingga ke kota/kabupaten yang bersamaan dengan Pilgub juga menggelar pemilihan kepala daerah (Pilkada). Seperti di Kota Probolinggo. Selain telah bermunculan beberapa nama kader calon suksesor di internal PDI Perjuangan, gerakan masif Ketua DPC PKB Kota Probolinggo Habib Hadi Zainal Abidin setahun terakhir, menjadi sinyal bahwa partai berbasis Nahdliyin tersebut ingin mengusik dominasi tersebut.

Tetapi dengan keputusan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang kembali menjalin koalisi dengan PKB di Pilgub Jatim, tentu bakal jadi dilema bagi Habib Hadi. Meneruskan gerakan politiknya merebut simpati 165.211 warga yang sudah masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) KPU untuk Pilkada 2018 atau menuruti instruksi Ketua DPP PKB Muhaimin Iskandar yang tak ingin kemesraan dengan PDI Perjuangan terganggu?

Sumber dekat politisi muda yang pada 2013 hanya menempati peringkat buncit dari 4 pasangan yang bertarung di Pilkada, mengatakan kendati loyal pada partai namun Habib Hadi tidak mungkin mengabaikan dukungan yang terus berdatangan. “Apalagi strategi Habib Hadi selain lewat jalur agama juga intens mendekati generasi muda,” terangnya ketika dihubungi Nusantara.News, Selasa (17/10/2017).

Tak hanya memperkuat basis lini masa, Habib Hadi bahkan sudah menjalin koalisi dengan partai lain, terutama yang sama-sama berbasis Islam. Dengan hanya syarat minimal 6 dari 30 kursi, PKB tinggal mencari tambahan 2 kursi lagi. Syarat itu menjadi jalan mendekati PPP yang memiliki keterwakilan 3 kursi di DPRD Kota Probolinggo periode 2014-2019.

“Saya serius dan sudah persiapan jauh-jauh hari. Ikut penjaringan melalui PPP menjadi salah satu bukti keseriusan itu. Kenapa PPP, karena sama-sama berbasis Islam dan memiliki kesamaan dengan PKB dalam beberapa hal. Kami siap bekerja sama dengan PPP memajukan kota dan mensejahterakan rakyat Probolinggo,” kata Habib Hadi kepada media usai menyerahkan formulir pendaftaran ke DPC PPP Kota Probolinggo, Senin (11/9/2017) lalu.

Kelanjutan Poros Pilgub?

Dari komposisi 8 partai yang memiliki keterwakilan di legislatif, 3 di antaranya partai berbasis Islam. PKB menjadi leader dengan 4 kursi disusul PPP dan PKS masing-masing 3 dan 1 kursi. Sedangkan PDI Perjuangan masih memegang dominasi dengan 8 kursi. Sementara Partai Golkar ada di peringkat kedua dengan 5 wakil.

Melihat komposisi itu, peluang Golkar membentuk poros sendiri juga cukup besar. Apalagi ada 3 partai tengah yang memiliki keterwakilan signifikan. Masing-masing NasDem (3), Gerindra (3) dan Demokrat (2). Jika mengikuti dinamika di Pilgub Jawa Timur, poros tengah ini kekuatannya bakal melejit ke posisi teratas.

Preseden ini yang kemungkinan jadi pertimbangan PDI Perjuangan memperkuat posisi tawar kepada PKB. Sehingga rela tidak mengusung kader sendiri di Pilgub asalkan PKB juga membantu kekuatan PDI Perjuangan di daerah di Jawa Timur yang secara tradisional menjadi kawasan merah. Sinyal ini bisa dibaca dari kedatangan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristanto sebelum Megawati ke Jawa Timur beberapa waktu lalu. Hasto menegaskan partai sudah instruksikan untuk memprioritaskan daerah yang dipimpin kader PDI Perjuangan. Termasuk di Kota Probolinggo.

Statemen lebih nyata dikeluarkan Ketua KPP PKB Jawa Timur Thoriqul Haq. Menurut dia, kedua partai akan melakukan sinkronisasi massa dukungan. “Artinya jika di daerah itu dominan basis PDI Perjuangan, konsolidasi dominannya dilakukan PDI Perjuangan. Begitu juga sebaliknya,” katanya ketika disinggung perkembangan arah koalisi di Pilgub apakah akan berlanjut di Pilkada Kota/Kabupaten.

Dengan adanya sinyal dari petinggi PDI Perjuangan dan PKB tersebut, bisa dikatakan koalisi ini akan berimbas pada niat Habib Hadi. PDI Perjuangan tentu tidak ingin dominasinya di kota angin terhenti di periode ketiga. Apalagi dukungan dari PKB sangat berarti untuk menyelamatkan elektabilitas partai yang sempat meredup pasca Walikota 2 periode HM Buchori tersandung kasus korupsi.

Petahana Hj Rukmini Buchori yang tak lain istri Buchori dipandang sebagai titik lemah jika tetap memaksa ikut bertarung di 2018. Sembari menunggu sosok kader yang popularitasnya cukup tinggi muncul, PDI Perjuangan bisa saja menekan PKB agar sedikit “mengerem” gerakan Habib Hadi sebelum tahapan pendaftaran KPU dibuka resmi Januari mendatang.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here