Ekonomi Kreatif UMKM : Harus Fokus & Benchmarking

0
403
foto : istimewa

Nusantara.news, Jakarta – Kita masih ingat ketika terjadi krisis moneter 1997, pengusaha-pengusaha sekelas UMKM-lah ternyata yang memiliki daya tahan banting. Sementara, pengusaha papan atas banyak yang tumbang lantaran utang-utangnya yang bejibun. runtuhnya nilai rupiah atas dollar AS yang mencapai Rp 17.000 per dolar, membuat pengusaha papan atas (termasuk kalangan developer) kalang kabut karena tak mampu mengembalikan pinjaman plus bunganya yang  tiba-tiba meroket.  Jangankan untuk membayar modalnya, membayar bunganya saja sudah megap-megap. Para taipan yang selama itu banyak menikmati fasilitas dari pemerintah bahkan setelah berhasil mengemplang BLBI melarikan modalnya ke luar negeri, justru berpesta pora di atas penderitaan bangsa. Saat itu, Indonesia sudah di ambang kebangkrutan.

Pasca Krismon, usaha kecil dan menengah digadang-gadang pemerintah sebagai ikon ketahanan ekonomi nasional yang mampu melewati krisis runtuhnya mata uang rupiah. UMKM berperan besar di dalam ketahanan ekonomi nasional dan menjadi  sejarah perjalanan perekonomian bangsa yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Dunia perbankan menyambutnya dengan membuat berbagai program pengucuran kredit bagi UMKM. Kucuran kredit memang sering menjadi Kendala bagi pengusaha UMKM selama ini. Dan kita tahu, permasalahan utama dari UKM adalah terbatasnya modal usaha. Selain itu, masih banyaknya SDM yang kurang berkualitas dan belum memiliki jiwa entrepreneur yang tinggi. Ditambah lagi rendahnya inovasi dalam menghasilkan produk, serta belum fokusnya target yang akan diraih oleh para pelaku UKM dan minimnya skill juga pengetahuan di dalam mengembangkan usaha.

Mampukah UMKM kita menghadapi persaingan usaha pada era perdagangan bebas dalam MEA dan AFTA? upaya  pembinaan seperti apa yang sudah dilakukan pemerintah terhadap para pelaku UMKM yang masih terkendala permodalan dan rendahnya entreprenuer mereka?

Para pelaku UKM masih banyak yang beranggapan masih sulitnya mereka meminjam modal di bank maupun koperasi dengan alasan prosedurnya yang berbelit-belit.  Atas dasar ini, semestinya pihak perbankan harus turut aktif mensosialisasikan program kucuran kreditnya ke UMKM merupakan proses yang mudah. Pemerintah harus pula membantu membuatkan rencana pembangunan usaha demi menetapkan tujuan melakukan wirausaha agar UMKM berkembang menjadi usaha yang tangguh.

Di samping itu, pemerintah harus berbenah ke dalam institusinya yang berperan menangani UKM dengan gebrakan mempermudah birokrasi pada administrasi pemerintahan dengan tujuan supaya pelaku UMKM dengan mudah meraih perizinan dan permodalan. Kualitas produksi dari UMKM harus ditingkatkan dengan kreativitas yang inovatif dalam upaya mengembangkan dunia usahanya.

Di era perdagangan bebas sarat persaingan ini, para pelaku UMKM mau tak mau harus mampu memanfaatkan memanfaatkan internet dan teknologi digital lainnya.  Karena kecepatan meng-handle peluang market bisa meningkatkan omzet pendapatan dengan optimalisasi kinerja bisnis yang mampu memberikan pelayanan bagi customer yang memuaskan dengan kualitas yang tinggi dari produk UMKM-nya.

Hanya pelaku UMKM yang berbasis keunggulan kompetitif yang akan mampu bertahan dan bersaing di tingkat regional. Inilah pekerjaan rumah kita, agar kita mampu mendorong pelaku UMKM yang ada di tanah air mampu naik kelas sehingga mampu bersaing secara kompetitif.

Tidak sepenuhnya pemerintah  bisa memenuhi janji-janjinya membuka luas lapangan kerja  bagi rakyatnya.  Membina dan mengembangkan UMKM justru merupakan salah satu solusi bagi pemerintah karena harus diakui mampu memberikan kesempatan terbukanya lapangan kerja yang besar bagi masyarakat.  Peran pelaku UMKM  sesungguhnya adalah pemain utama penyanggah ketahanan ekonomi nasional di dalam negeri yang seharusnya ‘dimanjakan’ oleh pemerintah.

Pada 2011-2012, Kementerian Koperasi dan UMKM meliris data yang menunjukkan bahwa lebih dari 99 persen perusahaan di tanah air adalah UKM dengan pertumbuhan cukup signifikan, dari 2,41 persen menjadi lebih dari 55,87 juta UMKM. Kenyataannya, juga UKM memberikan kontribusi yang signifikan terhadap Product Domestik Bruto (PDB) Indonesia, sebesar 59 persen, di mana UMKM berkontribusi terhadap lapangan pekerjaan sebesar 97 persen.

Beberapa waktu lalu, Achmad Zaky, pendiri dan CEO Bukalapak Achmad Zaky  saat menjadi pembicara di Pesta Wirausaha “Tangan di Atas” 2015, di Jakarta, Minggu malam (5/4/2015) memberikan resepnya di dalam usaha pengembangan UKM. Menurutnya, agar UKM bisa terus berkembang harus diperhatikan yaitu adanya Dream atau passion, focus, target dan goal, dream team, dan competitive advantage. Dream atau passion, kedua hal ini bisa membuat performance bisnis tetap tumbuh secara konsisten (steady grow) sekaligus menyelamatkan bisnis ketika kondisi bisnis naik-turun tak menentu.

Memegang prinsip dari resep bisnis UMKM-nya itu, Zaky telah membuktikannya sendiri ketika memulai bisnis Bukalapak dari sebuah garasi, kemudian berkembang hingga sebesar seperti saat ini. Dream dan passion ini pula yang membuat bisnis Bukalapak tumbuh secara eksponensial, hingga terakhir mendapatkan investasi ratusan miliar dari Grup Emtek. “Bahkan, beberapa top seller di Bukalapak juga tumbuh secara eksponensial karena mereka memiliki dream dan passion,” ujarnya. Selain dream and passion, lanjut Zaky, pelaku UKM juga harus fokus. “Banyak UKM-UKM di Indonesia, bisnisnya tetap kecil karena mereka tidak fokus. Ini menjadi penyakit yang banyak menghinggapi UMKM-UMKM di Tanah Air,” ujarnya.

Zaky yang merupakan alumnus Teknik Informatika ITB ini menekankan bahwa fokus sangatlah penting. Dia pernah gagal membangun bisnis karena dirinya tidak fokus. “Begitu saya memutuskan fokus pada satu bidang saja, yakni Bukalapak, semuanya menjadi lebih baik dan jauh lebih kompetitif. Ini harusnya juga menjadi pakem bagi UMKM yang ada di Indonesia,” ujarnya. Dia juga menekankan, para pelaku UMKM harus menetapkan target atau goal, baik itu bulanan, semesteran maupun tahunan. Hal ini telah dia lakukan ketika Bukalapak memperoleh suntikan dana segar dari investor Gree Venture Jepang. Investor Jepang ini, katanya,  sangat detail. Investor ini mulai menetapkan target dan goal untuk bisnis Bukalapak serta menerapkan pelacakan (tracking) KPI (Key Performance Indeks) melalui tim khusus Data Sight untuk melacak semua perkembangan bisnis Bukalapak hari demi hari. “Hasilnya, sangat positif. Bisnis Bukalapak menjadi lebih tajam dan kompetitif,” ujarnya.

Menurut Zaky, dalam catatan khususnya, memperkuat goal dan target yang telah ditetapkan harus didukung dengan upaya mengubah paradigma dan melakukan benchmarking. “Benchmark Bukalapak saat ini adalah Alibaba, Amazon, dan online dunia lainnya. Saya track angka-angka penjualannya, cara mereka jualan, hingga teknologi yang dipakai. Ini semata-mata agar kami bisa mengikuti dan mengimbanginya,” ujarnya.

Menurut Joseph A. Schumpeter, perekonomian suatu negara dapat berkembang dengan adanya suatu produk inovasi yang dapat dihasilkan melalui kewirausahaan. Membangun perekonomian di suatu negara membutuhkan sumberdaya manusia yang memiliki jiwa-jiwa entrepreuner untuk mengembangkan kewirausahaan suatu negara.  Di Indonesia sendiri usaha mikro jumlahnya mencapai 98,82% dan usaha kecil jumlahnya hanya 1,09%. Hal tersebut menandakan masih banyaknya usaha-usaha yang tergolong mikro dan tidak mengalami perkembangan berarti karena tidak adanya kenaikan level dari mikro ke kecil, kecil ke menengah, dan seterusnya.

Kemampuan Indonesia dapat bertahan ketika dunia sedang dihantam krisis global sejak tahun 2008 dan hingga saat ini, di mana negara lain yang terkena dampak krisis masih mengalami pemulihan pasca-krisis, sedangkan perekonomian Indonesia masih mengalami pertumbuhan positif, sebenarnya bisa dijadikan indikator bahwa pelaku UKM kita bakal mampu menghadapi persaingan di tingkat regional.

Setidaknya, hal seperti itulah yang menjadi harapan Direktur Utama Bank BRI Asmawi Syam. Dia menaruh harapan besar pada Usaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah  (UMKM).  Pelaku UMKM harus naik kelas ke tingkat global karena pada era digital ini persaingan dagang tidak hanya datang dari pelaku usaha lokal melainkan juga datang dari negara tetangga yang akan  dengan mudah memasarkan produk lintas negara. Di era digital ini,  siapapun bisa melakukan ekspor dengan manfaatkan e-commerce.

Asmawi Syam mencontohkan pelaku UMKM dari Jepang dan Korea yang mampu tumbuh besar karena mampu memanfaatkan kekuatan digitalisasi secara optimal. Adapun pelaku UMKM di dalam negeri belum memanfaatkan sarana e-commerce secara baik. “Kita buatkan rumah kreatif (Rumah Kreatif BUMN (RKB) untuk mendidik mereka agar bisa go regional dan go global. Tahun 2020 kita bisa menjadi yang terbesar di e-commerce,” kata Syam, di Jakarta, Rabu (18/1/17).

UMKM telah menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia dan ASEAN. Sekitar 88,8-99,9% bentuk usaha di ASEAN adalah UMKM dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 51,7-97,2%. Oleh karena itu, kerjasama untuk pengembangan dan ketahanan UMKM perlu diutamakan. Perkembangan potensi UMKM di Indonesia tidak terlepas dari dukungan perbankan dalam penyaluran kredit kepada pelaku UMKM. Menurut data Bank BI, setiap tahunnya kredit kepada UMKM mengalami pertumbuhan. Selain bank, banyak perusahaan BUMN dan swasta yang ikut serta untuk membantu peningkatan UMKM di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah PT. Telkom Indonesia dan PT. Pegadaian yang memberikan bantuan berupa permodalan dan akses pasar.

Yang patut disayangkan, katanya, Ada beberapa pelaku UMKM masuk ke e-commerce, tapi tidak daftarkan HAKI (Hak atas Kekayaan Intelektual). Ini bisa dibajak negara lain. Hal-hal seperti ini yang harus kita bantu. UMKM memiliki peran sangat penting dalam perekonomian nasional karena memiliki kekuatan dalam menghadapi gelombang krisis ekonomi dan lebih tahan inflasi. “Kami ingin pelaku UMKM jadi eksportir,” tegasnya. []

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here