Ekonomi Melemah, Cina Tak Pede Rilis Anggaran Militer?

0
120
Tentara Cina berjalan di luar The Great Hall pada sesi pembuka National People's Congress (NPC) di Beijing, China, 5/3/2017. (Foto: Reuters)

Nusantara.news, Beijing – Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada pembukaan sidang tahunan parlemen, Minggu (5/3) Cina tidak merilis jumlah pasti kebutuhan anggaran militernya untuk tahun 2017. Ini langkah yang tidak biasa bagi negara itu. Apakah Cina tidak pede dengan kekuatan anggaran militer yang dimilikinya, efek dari ekonomi Cina yang terus melemah?

Dilaporkan sebelumnya, Cina berjanji akan lebih banyak memberikan dukungan militer termasuk memperkuat pertahanan maritim dan udara yang dibutuhkan guna melindungi kedaulatannya.

Sebagaimana dilansir Reuters, juru bicara parlemen Fu Ying, mengatakan (Sabtu, 4/3) anggaran pertahanan tahun ini akan meningkat sekitar 7 persen atau sekitar 1,3 persen dari PDB Cina, kenaikan yang tidak begitu berbeda seperti tahun-tahun terakhir.

“Kami akan mendukung upaya untuk melakukan reformasi pertahanan nasional dan angkatan bersenjata, dengan tujuan membangun pertahanan yang solid dan angkatan bersenjata yang kuat dan sepadan dengan dunia internasional serta cocok untuk kepentingan keamanan dan pembangunan nasional kita,” tulis sebuah laporan anggaran yang dibuat Pemerintah Cina.

Kantor berita Cina Xinhua juga tidak menurunkan laporan soal angka, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sementara Departemen Pertahanan dan juru bicara parlemen juga tidak segera menanggapi sejumlah pertanyaan soal ketidaktransparanan mengenai anggaran pertahanan/militer.

Padahal, Cina telah berulang kali mengatakan bahwa anggaran pertahanan akan dibuat transparan. Belum jelas alasan mengapa angka anggaran pertahanan tidak dirilis.

Sebagai gambaran, tahun lalu, dengan perlambatan ekonomi yang dialami Cina, anggaran pertahanan mencatat kenaikan terendah dalam enam tahun yakni 7,6 persen, kenaikan satu digit pertama sejak tahun 2010, sebelumnya Cina selalu menaikkan anggaran militer dua digit.

Sejumlah perwira militer yang menghadiri sidang tahunan parlemen, sebagian besar menolak untuk berbicara terhadap wartawan tentang anggaran, sama halnya dengan tahun lalu ketika mereka diperintahkan untuk tidak mengeluhkan rendahnya kenaikan anggaran untuk institusi mereka.

Penguatan Pertahanan

Pembangunan militer Cina telah membuat resah negara-negara di kawasan, terutama karena Cina telah mengambil sikap yang semakin tegas dalam sengketa teritorial di Laut Cina Timur, Laut Cina Selatan dari Taiwan, dimana Cina mengklaim sebagai wilayahnya.

Dalam sambutannya kepada parlemen, Perdana Menteri Cina Li Keqiang mengatakan Cina akan melakukan reformasi militer.

“Kami akan memperkuat maritim dan pertahanan udara serta kontrol perbatasan, dan menjamin operasi penting yang berhubungan dengan melawan terorisme, menjaga stabilitas, perdamaian internasional dan memberikan pengawalan di laut lepas yang terorganisir dengan baik,” kata Li.

“Kami akan meningkatkan pelatihan militer dan kesiap-siagaan, untuk memastikan bahwa kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunan terjaga,” tambahnya.

Angka anggaran pertahanan tahun lalu adalah sekitar USD 138,40 miliar. Artinya, kenaikan 7 persen untuk tahun ini berdasarkan anggaran tahun lalu, membuat angka anggaran militer Cina menjadi sekitar USD 145 miliar, hanya sekitar seperempat atau lebih dari anggaran pertahanan AS.

Gedung Putih telah mengusulkan kenaikan 10 persen anggaran militer hingga mencapai angka USD 603 miliar untuk 2017 (baca: Anggaran Pertahanan: AS Naik, Cina Turun).

Cina pangkas target pertumbuhan

Tahun ini, Pemerintah Cina merevisi target pertumbuhan ekonominya pada 2017 menjadi 6,5 persen, atau lebih kecil 0,2 persen dari realisasi pertumbuhan ekonominya tahun lalu. Kondisi perlambatan laju ekonomi Cina ini bukan baru terjadi tahun ini, tapi sejak beberapa tahun yang lalu. Ekonomi Cina terus mengalami tren penurunan.

Kini, pertumbuhan.ekonomi Cina hanya ada di kisaran 6 persen. Padahal pada dekade lalu ekonomi Cina mampu tumbuh double digit alias di atas 10 persen.

Pemerintah Cina telah mengurangi pasar perumahan, memperlambat kredit baru dan mengencangkan anggaran, Cina saat ini harus lebih bergantung pada konsumsi domestik dan investasi swasta untuk pertumbuhan negara itu.

Seperti pada tahun 2016, Cina tidak menetapkan target untuk ekspor karena prospek global yang tidak menentu.

“Perkembangan baik dalam dan luar negeri Cina mengharuskan kami siap untuk menghadapi situasi yang lebih rumit,” kata PM Li Keqiang. Dia menambahkan, pertumbuhan dunia masih lesu sementara deglobalisasi dan proteksionisme yang tengah menguat. Apakah karena hal ini Cina kemudian tidak pede umumkan secara terbuka jumlah pasti anggaran militer yang naik hanya satu digit (7%), kenaikan terendah sejak 2010? Mungkin saja. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here