Ekonomi Rapuh, Rupiah dan IHSG Berkali-Kali Jatuh

0
94
Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini kompak terpuruk sebagai efek regional, dimana lira Turki terkoreksi atas dolar AS cukup dalam.

Nusantara.news, Jakarta – Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan indikator ekonomi paling sensitif. Jika perekonomian kita kuat, maka kedua indikator pun tampil perkasa. Namun jika perekonomian ini rapuh, maka keduanya pun mudah jatuh, berkali-kali.

Situasi ini persis dialami Indonesia, walaupun tidak separah tahun 1998, namun gejalanya sudah mengarah ke sana. Masalahnya, akankah situasi ini akan berakhir? Apa yang salah dengan ekonomi kita sehingga harus berkali-kali terpuruk?

Hari ini rupiah dipedagangkan langsung melemah ke posisi Rp14.609, padahal pekan lalu masih bertengger di level Rp14.479 per dolar AS, artinya rupiah di buka melemah Rp139 per dolar AS atau 0,9%.

Posisi rupiah terendah di level Rp14,653 dan tertinggi di kisaran Rp14.467 per dolar AS. Rupiah kemarin di tutup pada Rp14.608 per dolar AS.

Sementara IHSG mengawali transaksi langsung jatuh ke zona negatif, bahkan kejatuhan indeks berlangsung hingga 3,55% atau 215,93 poin menjadi 5.861, padahal pekan lalu ditutup di level 6.077,2.

Pada pembukaan pedagangan hari ini, IHSG langsung melemah ke 5.984,5. Indeks LQ45 juga terkoreksi ke 942,8. Pada pukul 09.10 waktu JATS, IHSG melanjutkan pelemahan 111,3 (1,81%) ke 5.965,42. Indeks LQ45 turun 10,762 poin (2,16%) ke 942,7.

Jeda MAKAN siang IHSG masih melanjutkan pelemahan. IHSG turun 200,1 poin (3,29%) ke 5.877,1. Indeks LQ45 melemah 38,5 poin (4,00%) ke 924,5.

Pelemahan masih berlanjut hingga sore ini. IHSG turun 215,9 poin (3,55%) ke 5.861,2. Indeks LQ45 turun 39,852 poin (4,14%) ke 923,2.

Sepuluh saham sektoral kompak melemah dan menyeret IHSG anjlok cukup dalam. Saham sektor tambang jatuh paling dalam mencapai 4,98% diikuti saham sektor keuangan sebesar 4,16% dan sektor industri dasar jatuh 4,03%.

Hanya 52 saham yang berhasil menanjak, sementara ada 366 saham yang melemah dan 88 saham stagnan. Perdagangan saham cenderung ramai dengan frekuensi perdagangan saham 374.729 kali transaksi sebanyak 8,9 miliar lembar saham senilai Rp7,9 triliun.

Sedangkan bursa regional mayoritas bergerak negatif. Seperti indeks Nikkei di posisi 225, atau turun 1,98% ke 21.857,430. Lalu indeks Komposit Shanghai jatuh 0,34% ke 2.785,870. Indeks Strait Times turun 1,20% ke 3.245,340. Sedangkan indeks Hang Seng turun 1,52% ke 27.936,570.

Baik rupiah maupun ISHG bukanlah yang pertama kali jatuh, namun kejatuhan kali ini adalah yang terburuk sejak 2015.

Nilai tukar rupiah hari ini terkoreksi ke posisi Rp14.609, padahal pekan lalu masih bertengger di level Rp14.479 per dolar AS, artinya rupiah di buka melemah Rp139 per dolar AS atau 0,9% (Sumber: XE Currency)

Faktor penyebab

Jika di telisik dari fenomena terdekat dengan pelemahan rupiah dan IHSG kali ini ada beberapa faktor yang memicu. Pertama, dinamika domestik, khususnya terkait jatuhnya mata uang lira Turki terhadap dolar AS. Hal ini masih dipicu oleh ancaman perang dagang AS-China dan kenaikan suku bunga The Fed.

Menkeu Sri Mulyani berpendapat, pelemahan nilai tukar rupiah pada hari ini tak lepas dari sentimen yang berasal dari ketidakpastian Turki, yang merembet ke perekonomian global hingga memengaruhi Indonesia.

“Faktor berasal dari Turki menjadi muncul secara global, karena tidak dari sisi magnitude-nya yang terjadi dinamika di Turki, tapi juga karena nature atau karakter persoalan yang sebetulnya serius,” demikian Sri.

Mulai dari masalah nilai tukar, juga pengaruh terhadap ekonomi domestik, dan terutama juga dimensi politik dan keamanan di Turki.
Bagi ekonomi Indonesia sendiri, sejatinya saat ini masih cukup positif yang tercermin dari realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2018 yang menumbuhkan sedikit optimisme karena mampu tumbuh 5,2%.

Kedua, ketidakstabilan harga minyak dunia menyusul ketegangan di Turki dan sanksi Amerika atas Iran.

Harga minyak jenis brent kontrak pengiriman Oktober 2018 turun 0,14% ke level US$72,71/barel, sementara harga minyak light sweet kontrak September 2018 masih mampu naik tipis 0,09% ke US$67,69/barel pada perdagangan hari ini.

Harga minyak masih bergerak labil, pasca di sepanjang pekan lalu tertekan cukup signifikan. Dalam seminggu terakhir, harga light sweet yang menjadi acuan di Amerika Serikat (AS) terkoreksi 1,26%, sementara brent yang menjadi acuan di eropa juga turun 0,55%. Dengan capaian itu, harga minyak AS bahkan mencetak performa mingguan negatif selama 6 pekan berturut-turut.

Ketiga, sentimen dari rilis data neraca pembayaran Indonesia (NPI) yang masih mengalami defisit US$4,31 miliar pada kuartal II-2018, jauh lebih dalam dari periode sama kuartal lalu.

Pada kuartal II-2018, transaksi berjalan (current account) masih defisit sebesar US$8,03 miliar atau 3,04% dari produk domestik bruto (PDB). Posisi ini lebih dalam dari periode sama kuartal lalu.

NPI yang defisit menggambarkan devisa yang keluar lebih banyak ketimbang yang masuk, baik itu dari ekspor-impor barang dan jasa maupun investasi (sektor riil dan portofolio).

Dengan kata lain, perekonomian Indonesia bisa dinilai rentan menghadapi gejolak eksternal karena minimya sokongan devisa. Meski demikian, BI masih meyakini kondisi ini akan tetap terjaga hingga akhir tahun.

“Defisit yang meningkat tidak dapat dihindari menimbang investasi terkait infrastruktur pemerintah terus berjalan sesuai rencana,” ungkap Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo.

”Namun, defisit CAD dipandang berkualitas atau good deficit karena diperlukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi,” papar Dody.

Pengetatan pengaturan DHE

Melihat dinamika global, regional dan lokal yang terus berlangsung dan selalu berdampak negatif terhadap rupiah dan IHSG, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ekonomi kita ada masalah, persisnya ekonomi kita masih rapuh. Masalah itu tercermin dari terus jatuhnya kedua indikator tersebut, yang beberapa waktu lalu sempat menguat, tapi belakangan jatuh kembali.

Melihat struktur defisit transaksi berjalan yang begitu besar, maka satu-satunya jalan adalah melakukan pengetatan pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE). Upaya Bank Indoensia agar DHE ditamping di perbankan dalam negeri sudah tercapai hingga 80%, namun dari jumlah tersebut yang benar-benar dikonversi ke dalam rupiah hanya 15%.

Kalau total ekspor nasional pada 2017 tercatat sebesar US$$168,82 miliar. Sampai Juni 2018, total ekspor Indonesia sudah mencapai US$89,47 miliar.

Jadi kalau pada 2018 total ekspor bisa mencapai US$170 miliar, maka 80%-nya atau US$136 miliar disimpan ke perbankan dalam negeri. Dari jumlah tersebut yang ditukarkan dalam rupiah hanya US$20,4 miliar, itu sudah cukup memperkuat rupiah.

Akibat tidak dikonversi seluruhnya dalam rupiah, sehingga BI harus melakukan intervensi di pasar uang dan pasar obligasi sebesar US$13 miliar. Itu saja masih dibantu menaikkan suku bunga BI 7 Days Reverse Repo Rate.

Memang tidak ada aturan yang mengikat kapan devisa yang masuk dapat keluar kembali dari Indonesia. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.  Di Malaysia, valas yang masuk minimal harus disimpan di bank selama 6 bulan. Sementara di Thailand, DHE diwajibkan dikonversi ke Thai Bhat.

Kedua hal tersebut belum diberlakukan Indonesia. Sehingga terjadi spekulasi para eksportir hanya sekadar mengambil marjin selisih kurs, tapi korbannya rakyat Indonesia.

Sementara di Indonesia, devisa yang baru masuk dari hasil ekspor bisa langsung dikeluarkan atau di simpan keluar sebab tidak ada aturan yang melarangnya. Undang-undang hanya mengatur valas wajib masuk, namun tidak ada batasan waktu untuk menyimpannya.

Pengetatan pengaturan DHE ini hanyalah bersifat sementara, yakni ketika ada gejolak global, regional dan nasional. Ketika situasi sudah stabil, maka pengaturan DHE bisa diperlonggar lagi secara normal.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here