Ekspansi AS-Cina Di Tengah Krisis Rohingya

0
132

Nusantara.news, Jakarta –  Cadangan minyak yang diprediksi akan habis pada tahun 2030 mendatang. Membuat negara adikuasa, seperti Amerika dan Cina bersaing dalam perang energy security. Myanmar sebagai salah satu negara penghasil minyak di Asia Tenggara ternyata menjadi medan perebutan untuk memasang komprador dari dua negara adikuasa tersebut. Terlebih Myanmar merupakan salah satu negara yang masuk dalam grand design mega proyek One Belt One Road (OBOR) yang digagas Cina.

Tahun 1988 saat rezim junta militer mengambil kekuasaan. Myanmar terisolasi dari negara barat akibat sanksi PBB. Cina punya pengaruh besar karena Cina adalah salah satu negara yang menolak akan sanksi tersebut. Perang pengaruh ini berlanjut saat Januari 2007 Amerika dan Inggris mempelopori sanksi untuk myanmar akibat penyerangan militer Rkepada kaum minoritas. Namun, gagal akibat manuver Cina, Rusia dan Afrika Selatan.

Kini saat Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut konflik di Myanmar bisa mengarah pada “pembersihan etnis” atau genosida. Suu Kyi melalui Penasihat Keamanan Nasional Myanmar Thaung Tun Myanmar kembali melobi Cina dan Rusia untuk memblokir potensi resolusi PBB mengenai krisis di Rakhine. Myanmar jadi medan perang AS-Cina.

 

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here