Ekspansi Bisnis Cina ke Afrika (1)

0
1089

Nusantara.news – Cina dalam perang dingin dengan Amerika Serikat (AS), pada awalnya bermula terjadinya American Bubble/Subprime Mortgage (ledakan ekonomi), ditandai dengan hancurnya salah satu soko guru keuangan AS yakni Lehman Brothers (2008). Dalam krisis ekonomi ini investor di AS berupaya memindahkan uangnya (USD) ke area yang mampu melipatgandakannya ke negara yang nyaman untuk investasi. Cina dengan ciri One State Two Systems dikenal sebagai State Capitalism, dimana untuk ketatanegaraan tetap dengan komunisme, sedangkan untuk ekonomi dan perdagangan menggunakan sistem kapitalisme. Setelah hancurnya Uni Sovyet (1989), Cina di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping merumuskan siasat mengakali kapitalisme agar komunisme sebagai paham yang dianutnya tetap eksis.

Dalam proxy war atau perang Asimetris, Cina mengarahkan sasaran kepada 3 hal:

  • Membelokan ideologi, serta mengubah pola pikir rakyat
  • Melemahkan ideologi, serta mengubah pola pikir rakyat
  • Merebut food security dan energy security yang menjadi sasaran dari proxy war

Pada gilirannya akan menciptakan ketergantungan pada 2 sektor vital, yaitu food security dan energy security. Cina dalam berekspansi ke luar negaranya, seperti ke Afrika, dengan strategi sangat simpatik, berbeda dengan kebijakan dalam negerinya yang sangat keras. Tawaran simpatik berupa bantuan dan hibah, pembangunan gedung-gedung, infrastruktur dengan persyaratan tersirat dan mengikat.

Pendekatan simpatik ini merupakan roh dari perang asimetris Cina dalam ekspansi investasi di luar negeri Cina. Adapun model investasinya adalah Turnkey Project Management (TPM), dimana Cina akan menerapkan sistem satu paket. Mulai dari top management sampai dengan buruh, material/bahan baku, mesin, dan teknologi, begitu juga operasional manajemen A to Z adalah dari Cina.

Seperti diketahui setelah Zhe Rong Jie menjadi Presiden, pembangunan Cina yang begitu pesat telah berhasil memproduksi secara masif produk-produk tertentu, diantaranya: baja dan kayu untuk konstruksi dan meubel, sehingga menjadi over capacity. Cina dengan keunggulan jumlah penduduknya dijadikannya sebagai captive market sehingga bisa memproduksi barang dengan harga murah. Over capacity ini yang menjadi alasan Cina untuk ekspansi di tengah perlambatan ekonomi, sehingga Asia dan Afrika dijadikan pasar produksinya.

Perancis meninggalkan Afrika ekses perlambatan ekonomi dunia

Tahapan strategis Cina di Afrika:

  1. Menjadikan benua Afrika sebagai pasar yang berkelanjutan untuk produksi dalam negeri Cina, bernilai tambah untuk jangka panjang ini memadai mengembalikan nilai investasi pada tahap awal, khususnya komoditi yang di Cina mengalami over capacity.
  2. Secara geopolitik, Cina memiliki mitra politik strategis dalam mengimbangi pengaruh Amerika Serikat (AS) di kawasan, dan juga dapat digunakan sebagai lobby lembaga internasional seperti, PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa), dan lembaga donor (IMF dan Bank Dunia).

Afrika sedang diperebutkan oleh Cina, Uni Eropa, AS, dan Jepang, setelah ditinggalkan Perancis yang sibuk mengurusi ekonomi dalam negerinya.

AS masuk ke Afrika dengan kebijakan memerangi teroris, mensyaratkan pemberantasan korupsi, good governance, peningkatan kehidupan buruh, dan penegakan HAM (Hak Azasi Manusia). Sedangkan Cina justru tidak mau ikut campur urusan dalam negeri, dan tidak peduli birokrasi Afrika yang masih tinggi korupsinya. Bagi Cina, yang penting investasi berjalan dengan skema Turnkey Project Management. Hal ini membuat “jengkel” AS, menyebut Cina sebagai pesaing ekonomi yang sangat agresif, merusak, dan tanpa moral.

Cina menerapkan strategi yang agresif di Afrika karena menurut data Bank Dunia, benua hitam ini membutuhkan investasi USD 93 miliar per tahun selama 10 tahun ke depan untuk infrastruktur. Cina mengambil peluang itu sehingga negara mampu bekerjasama dengan Chine Overseas untuk melakukan investasi di bidang infrastruktur, seperti: jalan, pengadaan air bersih, listrik, hingga sektor air dan kebutuhan dasar lainnya.

Masih ingat dengan Sampa, pemilik Sona Gold yang ditangkap karena konon memiliki kewarganegaraan ganda, sehingga bisa memiliki izin eksplor minyak dan gas bumi di Republik Angola. Sampa adalah kunci yang membuka pintu hubungan Cina dengan Afrika, dengan menyuap birokrat pemerintahan Angola untuk menjalankan diplomasi minyak dan gas.

Zimbabwe dan Angola terjebak dalam utang yang diberikan Cina, baik itu melalui kerjasama yang diberikan oleh Cina, maupun sektor privat yang berafiliasi dengan pemerintah Cina (Cina’s Overseas). Ekonomi Zimbabwe dan Angola saat ini dikuasai oleh Cina untuk pembangunan besar-besaran di bidang infrastruktur, dan mengimpor berbagai produk dari Cina. Hal ini memperlihatkan betapa kuatnya cengkeraman para taipan Cina’s Overseas pada birokrasi negara tersebut.

Zimbabwe, mulai 1 Januari 2016 terpaksa menggunakan mata uang Cina (Yuan/RMB) sebagai pengganti dari penghapusan utangnya terhadap Cina senilai USD 48 juta. Zimbabwe terpaksa menerima pinjaman dari Cina karena diisolasi oleh negara-negara tetangga, akibat pelanggaran HAM di negara tersebut. Bermula dari investasi Cina di Zimbabwe pada tahun 2007, dalam tempo 9 tahun Cina berhasil menaklukan Zimbabwe. Di tahun 2014 elit militer negara tersebut di bawah pengaruh Cina.

Seharusnya Indonesia belajar dari negara-negara di Afrika (Zimbabwe dan Angola), karena skema kekuasaan yang diterapkan hampir sama dengan pembangunan infrastruktur, proses peminjaman dimudahkan, namun dengan jaminan yang menyangkut kedaulatan negara.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here