Ekspansi Pasar Asia-Pasifik, Modal Jawa Timur Tarik PMA

0
126
JIIPE punya dukungan infrastruktur distribusi ke berbagai belahan dunia, antara lain Bandara International Juanda Surabaya yang sedang diperluas.

Nusantara.news, Surabaya – Target Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur menarik Rp165 triliun sepanjang 2017 dari kantong investor ke Jawa Timur, bukan perkara mudah. Tantangan sudah terasa begitu triwulan pertama berakhir. Dibanding periode serupa 2016, arus investasi diprediksi mengalami penurunan. Padahal laporan berkala jurnal Bank Indonesia menunjuk bahwa perkembangan global trendnya stabil.

Karena itu, kendati potensi cukup besar realisasi investasi asing sangat dinanti. Seperti yang diwujudkan Clariant. Produsen bahan kimia asal Swiss ini mulai membangun pabrik baru sebagai bagian dari ekspansi usaha ke kawasan Asia Pasifik di Java Integrated Industrial & Port Estate (JIIPE) Gresik.

Dalam rilis yang disebar ke media Selasa (4/4/2017), kepala Unit Usaha Funcion Minerals, Sven Schulteis menganggap langkah investasi ini strategi penting perusahaan. “Kami berharap bisa memperkuat posisi di pasar Asia Pasifik. Termasuk dalam penambahan kapasitas produksi bleaching earth,” terangnya.

Selain di Gresik, penghasil produk berbasis bentonit itu juga sudah mendirikan pabrik di Turki dan Meksiko pada 2016. Khusus pabrik baru di Indonesia, Schulteis targetkan ada penambahan kapasistas bleaching earth hingga 35 persen. Kawasan JIIPE dipilih juga berdasarkan pertimbangan matang.

Sebagai kawasan industri, JIIPE dinilai punya dukungan infrastruktur untuk distribusi bahan ke berbagai belahan dunia. Seperti dekat dengan pelabuhan internasional Tanjung Perak an Bandara International Juanda Surabaya. “Kawasan JIIPE juga tersedia koneksi logistik. Sehingga, alasan itulah yang membuat Clariant memilih JIIPE menjadi tempat ekspansinya,” tambah Schulteis.
Kendati belum ada data jumlah investasi yang ditanamkan di Jawa Timur, namun berjalannya produksi Clariant setidaknya bisa memancing arus investasi lain dari Eropa. Sebab, target investasi penanaman modal asing (PMA) bakal digenjot untuk menggantikan potensi dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) Non Fasilitas yang terlalu mendominasi seperti periode 2016.

Pada tahun lalu, dari target investasi yang mencapai Rp75 triliun. Realisasi investasi di Jawa Timur memang melonjak lebih dari 100 persen. Yakni mencapai Rp155,04 triliun dengan didominasi PMDN Non Fasilitas sebesar Rp82,14 triliun. Sedangkan dari PMA, Pemprov hanya ‘berhasil’ menggaet total Rp26,57 triliun.

Selisih ini yang menjadi pertimbangan pemprov untuk agresif berburu investor asing. Apalagi kendati penyumbang terbesar, PMDN Non Fasilitas mengalami penurunan jika mengacu periode sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah segmen UKM yang sedikit tertahan akibat perkembangan ekonomi global yang menunggu respon Amerika dan Uni Eropa serta domestik di satu sisi.

Seperti yang diungkap Kepala Badan Penanaman Modal Jawa Timur, Lili Soleh Wartadipradja beberapa waktu lalu, target Rp165 triliun diharapkan bisa dipenuhi dari PMA (Rp60 triliun), PMDN (Rp40 triliun), dan PMDN non fasilitas senilai Rp65 triliun. “PMDN Non Fasilitas, walaupun skalanya lebih kecil, namun rata-rata setiap tahun antara Rp70 triliun hingga Rp90 triliun realisasinya,” terangnya.
PMDN Non Fasilitas merupakan penanaman modal yang dilakukan oleh kelompok usaha kecil dan menengah (UKM) yang tidak mendapatkan dan mengurus bea masuk dan pajak untuk mesin dan bahan baku. Di Jawa Timur, investasi oleh UKM dicatat oleh Badan Penanaman Modal kendati di pusat dicatat oleh Kementerian Koperasi dan UKM. Sejak 2011, realisasi PMDN Non Fasilitas selalu berada di atas Rp70 triliun.

 

Berharap dari Kawasan Teluk

Misi kejar target investasi ini melatari Pemprov Jawa Timur berburu investor hingga ke Eropa dan Iran. Terutama yang telah memiliki izin prinsip cukup lama, namun belum mulai realisasi. Tahun lalu, melalui langkah ini berhasil meraih realisasi investasi senilai Rp1,3 triliun dari izin prinsip senilai Rp12 triliun. “Tahun ini kami akan mengejar investor dari Iran dan Arab Saudi,” cetus Lili.

Mengenai investasi dari Cina, Lili mengungkap ada kendala yang membuat realisasi investasi dari raksasa ekonomi dunia baru itu lamban mengucurkan dana. Ini diperkuat dengan data Badan Penanaman Modal yang menyebutkan hanya 391 perusahaan yang didirkan dalam urun 1996-2016. Permasalahannya antara lain ketersediaan lahan, belum mengenal baik budaya bisnis di Jawa Timur dan kendala perizinan lanjutan di kabupaten atau kota.
Adapun, berdasarkan data tahun lalu, Jepang menjadi negara dengan nilai realisasi invetasi terbesar di Jawa timursenilai Rp7,45 triliun, disusul Singapura (Rp6,39 triliun), Belanda (Rp3,12 triliun) dan Cina dengan nilai investasi Rp2,04 triliun.

Sementara itu, dalam laporan tiga bulanan Bank Indonesia, peningkatan pertumbuhan investasi di Jawa mampu menahan perlambatan ekonomi yang  lebih dalam. Membaiknya pertumbuhan sektor konstruksi seiring dengan realisasi pembayaran termin akhir proyek-proyek infrastruktur di triwulan laporan.

Meliputi antara lain LRT Jabodetabek, Jalan Tol Seroja, Bandara Kertajati serta jalan tol Trans Jawa. Selain itu, investasi dari sektor swasta juga mulai tumbuh, terindikasi dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), yang  menunjukan meningkatnya impor barang modal dan juga peningkatan permintaan kredit investasi. Saldo Bersih Tertimbang (SBT) SKDU tercatat sebesar 9,91%, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang sebesar 7,92% (yoy).

Impor barang modal mulai menunjukkan peningkatan pada triwulan IV 2016, terlihat dari kontraksinya yang membaik dari sebelumnya -8,12% (yoy) menjadi sebesar -2,74% (yoy). Peningkatan investasi juga dicerminkan oleh peningkatan kredit investasi yang tumbuh dari semula 9,10% (yoy) menjadi 10,4% (yoy) pada triwulan laporan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here