Eksplorasi Sumur Baru, HCML Umbar Janji Selamatkan Lingkungan

0
104
Work Plan Husky-CNOOC Madura Limited (HCML

Nusantara.news, Sumenep – Setelah ‘meredam’ gejolak nelayan Pulau Giliraja yang sebelumnya melakukan protes terhadap aktivitas survei Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) yang merusak rumpon, manajemen perusahaan transnasional itu kini lebih memilih sikap berhati-hati dalam beraktifitas. Apalagi jika terkait isu lingkungan.

Bersama SKK Migas, perusahaan yang berpusat di Kanada tersebut menggelar sosialisasi intensif dengan melibatkan ratusan nelayan asal Kecamatan Gayam, Nonggunong, Pulau Sapudi ketika akan mengembangkan sumur MDA-MBH, awal April 2017 mendatang. “Keselamatan lingkungan kami junjung tinggi. Masyarakat tidak perlu khawatir akan itu (kerusakan lingkungan, red.). Karena itu, kami minta dukungannya,” terang Singgih, perwakilan SKK Migas Jabanusa, Jumat (17/3/2017).

Permintaan ini memang terkait dengan strategisnya pengeboan migas tersebut bagi Indonesia karena masih menjadi tulang punggung APBN. “Sektor migas ini menyumbang APBN sekitar 20 persen. Masih lumayan besar. Karena itu, kami meminta dukungan dari masyarakat,” ucapnya sekali lagi.

Sementara Head of Relation HCML, Hamim Tohari menjelaskan, sosialisasi ini juga sebagai bentuk kepedulian perusahaan. “Insha Allah pada bulan April, kami akan memulai pengembangan sumur atau kegiatan pengeboran, dengan memasang ‘platform’. Nah, karena kami ini menjunjung adat ketimuran, maka kami datang ke sini, bertemu langsung dengan warga,” terangnya.

Sosialisasi persiapan pengembangan sumur MDA dan MBH tersebut digelar di kantor Kecamatan Gayam. Selain dihadiri Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) setempat, juga dihadiri unsur TNI-AL yang diwakili Perwira Staf Potensi Maritim (Paspotmar) dari Lanal Batuporon. “Lokasi sumur baru ada dalam wilayah latihan TNI AL. Karena itu, kami bertugas mengamankan obyek vital negara,” terang Erdis Suprisancoko Paspotmar Lanal Batuporon.

Ia menjelaskan, seharusnya wilayah kerja HCML tersebut rahasia. Namun karena lokasi pengeborannya berada di lokasi latihan TNI AL, maka pihaknya harus memberitahukan kepada warga maupun HCML agar bersama-sama menjaga kepentingan negara. “Jadi, kami tegaskan, kehadiran kami di sini ini netral, yakni untuk mengamankan obyek vital nasional, juga mengamankan kepentingan hajat hidup orang banyak,” ucapnya.

Lapangan MDA-MBH adalah salah satu lapangan temuan gas yang terletak di Selat Madura, Cekungan Jawa Timur. Empat sumur eksplorasi telah dibor untuk mengetahui potensi lapangan ini. Tiga sumur yang dibor, yaitu MDA-1, MDA-2 dan MDA-4, ditemukan gas pada reservoir batu gamping globigerina berumur pliosen.

Sedangkan pada sumur MDA-3, batuan reservoir tidak berkembang. Pada sumur MDA-3 didominasi oleh fasies foraminifera wackestone dan mudstone yang kurang berpori. Perbedaan hasil ini menunjukkan adanya variasi dalam kualitas reservoir pada lapangan ini yang mempengaruhi potensi dan biaya eksplorasi nantinya.

Secara umum fasies foraminifera grainstone dan foraminifera packstone mendominasi daerah selatan Lapangan MDA di sekitar sumur MDA-1, MDA-2 dan MDA-4 dengan arah barat-timur.

Hasil produksi sumur MDA dan MBH milik HCML sendiri, nantinya akan disambungkan ke pipa Pertamina East Java Gas Pipeline (EJGP) ke Porong, Sidoarjo, yang berjarak kurang lebih 200 km dari lokasi pengeboran. Gas yang dihasilkan itu akan dimanfaatkan sebagai pemenuhan kebutuhan industri pupuk di Jawa Timur.

Sebelumnya, HCML bersama SKK Migas Jabanusa melakukan sosialisasi tambahan terkait rencana aktifitas eksplorasi migas kepada nelayan Giliraja dan Giligenting. Koordinator warga Giligenting mengungkap, sosialisasi awal nelayan yang terdampak langsung justru tidak pernah dilibatkan. Padahal itu merupakan syarat penyusunan Amdal sesuai peraturan pemerintah. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here