Ekspor Bawang Merah, Sudahkah Kebutuhan Nasional Cukup?

1
123
Pedagang menurunkan bawang merah di pasar bawang merah Tamansari, Drigu, Probolinggo,Jawa Timur, Selasa (1/8). ANTARA FOTO/Umarul Faruq/aww/17.

Nusantara.news, Jakarta – Bertepatan hari Kemerdekaan kemarin, dengan bangganya Menteri Pertanian Amran Sulaiman mempersembahkan kado ulang hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 berupa ekspor bawang merah ke Thailand.

“Ekspor ini kita persembahkan di hari kemerdekaan,” ungkap Amran Sulaiman usai memimpin upacara kemerdekaan di kantornya, kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis (17/8) kemarin.

Publik yang terbiasa inferior dengan produk pertanian yang serba branding “Bangkok” tentunya bangga. Tapi apakah ekspor yang sifatnya insidental itu sesuatu yang patut dibanggakan? Terlebih belakangan ini memang sedang musim panen bawang merah di sejumlah daerah penghasil seperti Brebes, Jawa Tengah.

Bahkan mantan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said yang sedang mem-branding diri menjadi Calon Gubernur Jawa Tengah sengaja pulang ke kampung masa kecilnya di pedukuhan Siramin, Desa Slatri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, untuk panen bawang pada 20 Juli 2017 lalu. Rupanya setelah tidak jadi Menteri, Sudirman Said menyewa lahan petani untuk ditanami bawang merah.

Panen bawang merah pertengahan tahun ini memang terbilang melimpah. Selain di kampung halamannya Sudirman Said, bawang merah juga sedang dipanen di Lampung. “Hasilnya menggembirakan, setengah hektar bisa panen 21 ton,” ucap seorang petani bawang asal Kecamatan Tuha, Kabupaten Lampung Selatan kepada wartawan Jawa Pos, akhir Juli lalu.

Panen raya bawang merah juga terjadi di Nganjuk, Jawa Timur. Sayangnya, panen bawang yang melimpah itu disertai anjloknya harga bumbu dapur utama umumnya orang Indonesia itu. Harga bawang merah yang biasanya dijual Rp15 ribu per Kg di tingkat petani, harganya anjlok hingga Rp5 ribu. Bawang merah dengan kualitas paling bagus hanya dihargai Rp10 ribu oleh para tengkulak yang menampung panenan bawang merah dari petani.

“Kalau harganya seperti ini balik modal saja sudah bagus,”keluh Wariyem, petani bawang merah asal desa Selorejo, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur saat dihubungi kontributor nusantara.news di Surabaya, Rabu (9/8) pekan lalu.

Jadi, persoalan ekspor bawang merah sebenarnya bukan suatu prestasi yang luar biasa. Karena memang di sejumlah sentra penghasil bawang merah sedang panen raya, kebutuhan dalam negeri sudah lebih dari cukup, ketimbang barang membusuk di gudang maka barang itu lebih baik diekspor. Begitu logika ekonominya?

Selain itu, cerita pilu anjloknya harga bawang merah di musim panen raya terus berulang. Ini yang sebenarnya perlu lebih diseriusi oleh Menteri Pertanian. Bagaimana membuat harga stabil di tingkat petani sehingga nilai tukar petani (NTP) bukan justru anjlok seperti sekarang. Bukan justru pamer keberhasilan dengan melakukan ekspor yang bersifat sewaktu-waktu.

Dalam catatan nusantara.news, Kementerian Pertanian memang kerap sekali unjuk keberhasilan dengan mengungkap jumlah produksi yang selalu di atas kebutuhan. Sebut saja pada Desember 2016 lalu Direktorat Jenderal Hortikultural Kementan Spudnik Sudjono menyebutkan produksi bawang merah tahun 2016 mencapai 1.212.044 ton, sedang total kebutuhan nasionalnya berjumlah 993.846 ton.

Neraca Perdagangan Defisit

Logika berpikirnya, kalau produksi nasional sudah di atas kebutuhan nasional maka tidak perlu lagi impor. Sekarang kita check apakah sepanjang tahun 2016 kita tidak impor bawang merah sebagaimana yang diungkap Mentan Amran pada Desember 2015?

Ternyata apa yang dijanjikan Menteri Amran tidak terbukti di lapangan. Buktinya, pada Juni 2016 Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) diberi tugas mendatangkan bawang merah asal Vietnam sebanyak 5000 ton. Hal itu dibenarkan oleh Direktur Pengadaan Bulog Wahyu pada 4 Juni 2016 tahun lalu.

Impor yang dilakukan oleh Bulog, terang Wahyu, bukan semata-mata bawang bibit. Melainkan juga bawang konsumsi. Bahkan kala itu impor dalam bentuk benih belum keluar izinnya. Selain kepada Perum Bulog, izin impor juga diberikan kepada dua BUMN lainnya, masing-masing PT Berdikari (Persero) dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero).

Sepanjang 2014 sendiri Kementan mencatat ekspor bawang merah mencapai 4.439 ton dan tumbuh 219% pada tahun berikutnya menjadi 14.149 ton pada 2015. Di saat bersamaan, di tengah pasokan dalam negeri yang dikabarkan surplus masih ada impor 87.526 ton pada 2014 dan turun menjadi 15.769 ton pada 2015.

Sekarang lihat neraca perdagangan antara ekspor dan impor pada 2015, ternyata kita masih defisit 1.620 ton. Jadi dimana letak surplus produksinya? Padahal di tahun 2015 lalu, Menteri Amran mengumumkan produksi bawang merah mencapai 1,265 juta ton sedangkan tingkat kebutuhan hanya 947.385 ton, alias surplus 318.325 ton.

Terkait masalah impor, bahkan neracanya terhitung defisit terhadap ekspor, Mentan berkilah karena faktor tata niaga, rantai pasok yang terlalu panjang, sehingga membuka celah spekulan menaikkan harga. “Mata rantai perdagangan yang panjang, membuat pasokan bawang merah menjadi tidak stabil walaupun produksi nasional tercatat surplus,” jelasnya.

Upaya memangkas mata rantai perdagangan yang panjang, Mentan menugaskan Perum Bulog membeli bawang merah langsung dari petani dengan harga menguntngkan petani, sebagian produk disimpan dan stoknya dikeluarkan saat pasokan bawang merah di pasar menipis. “Dengan upaya ini kekurangan pasokan di bulan-bulan tertentu dapat dipenuhi sendiri tanpa impor,”ujarnya.

Tapi kenyataannya masih ada impor, bahkan defisit apabila dibandingkan dengan jumlah bawang merah yang dikapalkan ke luar negeri. Karena siapa tahu kebutuhan per kapita dalam negeri sudah meningkat, misal makin banyaknya penggemar bumbu bawang merah dalam setiap masakan sehingga patokan per kapita yang lama sudah tidak dapat digunakan.

Sebab data sudah bicara, dengan rumus apa pun kalau secara jumlah, pasokan impor lebih banyak dari ekspor itu artinya memang kebutuhan nasional belum cukup. Jadi untuk apa kita membanggakan bisa ekspor bawang merah ke Thaland? []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here