Elegi Sejarah Surabaya di Lapangan Tenis Pores

0
326

Nusantara.news, Surabaya – Surabaya sebagai kota Pahlawan mempunyai banyak sekali peninggalan bersejarah ketimbang kota-kota lain di Indonesia. Sayang, satu persatu keberadaan cagar budaya yang ada di Surabaya hilang. Ada yang sebagian milik perorangan, swasta bahkan diakusisi oleh pemerintah sendiri dengan mengalihfungsikan menjadi hunian mewah dan sifatnya komersil.

Salah satunya adalah keberadaan lapangan tenis yang berada di jalan Embong Gayam tembus ke jalan Embong Sawo yang letaknya berada di trisula strategis antara jalan Basuki Rakmat dan Panglima Sudirman di jantung kota Surabaya. Lapangan tenis Pores  (Perkumpulan Olahraga Embong Sawo) sudah ada sejak tahun 1897, 20 tahun lebih muda dari turnamen tenis tertua di dunia, Wimbledon di Inggris yang dibangun pada tahun 1877.

Untuk diketahui bahwa PT Inter Surabaya Intiland (ISI) memenangkan gugatan yang dilayangkan melalui PTUN (pengadilan tata usaha negara). Putusan PTUN menyebutkan SK Walikota yang menyatakan lapangan PORES sebagai situs cagar budaya tidak sah dan dibatalkan.

Sengketa lapangan tenis Embong Sawo mengemuka karena Pores dan PT Inti Surabaya Interland (ISI) sama-sama mengklaim berhak memiliki. Setelah persidangan digelar sejak 23 Mei 2001, Mahkamah Agung dua tahun kemudian mengeluarkan putusan lapangan tenis peninggalan Belanda itu harus diserahkan ke PT ISI.

Dari data yang berhasil dihimpun nusantara.news, kepemilikannya sekarang jatuh ke PT PP Properti Tbk. (PPRO) yang tak lain adalah anak usaha kontraktor BUMN, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk dengan menyulap lapangan tenis menjadi Apartemen mewah Grand Shamaya. PP Properti sendiri didirikan pada 12 Desember 2013. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan PPRO bergerak dalam sektor jasa, pembangunan, dan perdagangan.

Kegiataan utama PP Properti yakni melakukan pengembangan properti seperti apartemen, hotel, perkantoran, mall, pusat perdagangan dan perumahan untuk dijual dan disewakan. Kiprah proyek-proyek PP Properti di Surabaya seperti halnya membangun apartemen Grand Sungkono Langoon Surabaya. Selain itu, PP Properti memiliki proyek Dharmahusada Surabaya, Apartemen Pavilion Permata 1 & 2 Surabaya, Kaza City Surabaya.

Apartemen premium Grand Shamaya dibangun di atas tanah seluas 1,6 hektar itu menjadi tower pertama dengan nama Aubrey. Ditargetkan ada lima tower yang akan dibangun. Total unit yang dijual mencapai 387 unit hunian dengan aneka type. Proyek senilai Rp 600 miliar itu, membuat PP Property melakukan investasi Rp 200 miliar. Dengan target tower Aubrey ini bisa terjual semua unitnya di akhir tahun 2017.

Mohammad salah satu petenis yang pernah menjadi saksi keberasaran lapangan tenis Pores Embong Sawo menceritakan dengan gamblang, bagaimana dulunya Pores menjadi barometer olahraga tenis di Surabaya. Tak hanya sebagai lapangan olahraga yang menuai prestasi saja, namun Pores bisa menjadi sarana untuk berkumpul dan ajang silaturahmi jauh sebelum adanya lapangan golf yang kini lebih nge-trend daripada tenis.

“Sayang, kini tinggal kenangan. Keputusan mantan Walikota Surabaya Bambang DH NO 188.45/71/436.1.2/2009 tentang penetapan Bangunan dan Lapangan Olahraga Embong Sawo sebagai bangunan dan cagar budaya milik warga Surabaya seperti hanya selembar surat yang tak penting. Buktinya, melalui keputusan pengadilan lapangan Pores yang ditetapkan jadi cagar budaya tetap dibongkar akibat kalah di persidangan dan kini akan disulap jadi apartemen mewah Grand Shamaya,” jelasnya kepada Nusantara.news.

Menjadi Penguasa di Negeri Sendiri
Ditambahkan Mohammad, kini, lapangan tenis PORES yang pernah menjadi kebanggaan warga Surabaya tinggal nama saja. Hilang sudah salah satu aset terbaik di Surabaya. Tak hanya warga Surabaya saja, beberapa Petenis tanah air pernah besar di lapangan ini juga merasa kehilangan. Tertua di Indonesia yang bernilai sejarah, karena lapangan ini dibangun pada era jaman penjajahan Belanda.

Tak hanya itu, masih ingat betul dibenak Mohammad saat mencerikan apa yang pernah diucapkan almarhum ayahnya, bahwa lapangan Tenis Pores ini dibangun  Belanda sebagai bentuk koreksi terhadap politik penajajahan dan eksploitasi hasil bumi untuk Belanda saat itu, sehingga muncul politik etis atau politik balas budi bahwa pemerintah Belanda memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Bahkan menurut AD/ART kerkumpulan ini mayoritas harus beranggota pribumi.

“Dulu anggotanya banyak pribuminya, bahkan orang Belanda sendiri hanya beberapa orang. Niatannya – kan membangun lapangan untuk warga pribumi jadi hampir seratus persen ya diperuntukan bagi pribumi,” jelasnya menirukan cerita yang disampaikan oleh ayahnya.

Masih ingat dalam benak warga Surabaya di lapangan Pores ini menjadi saksi bisu beberapa kejuaraan bertaraf internasional. Seperti yang terjadi pada tahun 1994-1995 pernah diselenggarakan Kejuaraan Tenis Wanita Dunia (WTA) untuk pertama kalinya digelar di lapangan PORES. Sejarah pun mencatat bahwa Surabaya pernah menjadi kota kebanggaan yang dulu pernah menelorkan Petenis sekelas Yayuk Basuki.

Sayang, PT PP Properti Tbk. (PPRO) yang tak lain adalah anak usaha kontraktor BUMN sebagai wakil pemerintah mestinya lebih berpihak untuk penyelamatan situs-situs budaya bangsa yang selalu menghargai dan melindungi nilai-nilai sejarah seperti halnya lapangan tenis PORES yang merupakan tertua dan mengandung nilai-nilai sejarah yang luhur. Bukan menyulap situs budaya menjadi bangunan megah dan bersifat komersil, apakah ini yang disebut nasionalisme terhadap warisan leluhur bangsa?

Dari semua sejarah dan prestasi yang pernah ditorehkan lapangan tenis PORES seakan tak ada artinya lagi dan berlalu begitu saja seiring dengan waktu dan menonjolnya kepentingan segelintir orang yang tega menghapus sejarah dengan mudahnya. Pesatnya pembangunan ekonomi disektor properti akhirnya menomorsatukan keuntungan daripada nilai-nilai sejarah dan kalah oleh urusan perut.

Menjadi Penguasa di negeri sendiri. Itulah kata-kata yang pas untuk menggambarkan elegi sebuah sejarah lapangan tenis Pores yang pernah menjadi kebanggaan warga kota Pahlawan. Dan jika mengharapkan penguasa saat ini untuk berbelaskasihan kepada lapangan tenis yang pernah menjadi bagian sejarah Surabaya sepertinya hanya fatamorgana di tengah panasnya padang gurun yang tandus.

Maklum, penguasaa saat ini sudah terjebak pada urusan fisik daripada mengedepankan niali sejarah demi mengejar PAD. “Jangankan memperhatikan milik warganya yang bersejarah, miliknya yang jelas-jelas berniali sejarah – pun sudah tidak dihargai lagi. Grand Shamaya yang dibangun oleh PT PP Properti anak perusahaan kontraktor BUMN salah satu bukti kongkrit bahwa pemerintah lebih mengedepankan urusan perut daripada sejarahnya sendiri,” pungkasnya.

Yang menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana mungkin perusahaan pemerintah yang seharusnya berada di garda paling depan untuk menjadi benteng pertahanan terhadap situs-situs bersejarah malah mengakuisisi dan menjadikan situr bersejarah menjadi temapt hunian yang dikomersilkan. Apakah ini yang disebut dengan nasionalisme? Jangan karena berlomba-lomba untuk mencari keuntungan namun mengkorbankan sejarah bangsa sendiri.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here