Elektabilitas Jokowi Stagnan, Ma’ruf Amin Kewalahan

0
178

Nusantara.news, Jakarta – Survei terakhir Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA per November 2018 memperlihatkan penurunan elektabilitas pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Maruf Amin di angka 53,2% dari angka 57,7% pada bulan Oktober. Adapun, elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengalami kenaikan dari 28,6% menjadi 31,2%. Penurunan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf terjadi di angka 4,5%, sementara Prabowo-Sandi naik 2,6%.

Survei serupa yang menunjukkan penurunan elektabilitas petahana juga dirilis Median. Survei yang dilakukan pada 4-16 November 2018 itu, menempatkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin sebesar 47,7% dan Prabowo-Subianto-Sandiaga Uno 35,5%. Begitupun dengan survei Litbang Kompas sebulan sebelumnya, elektabilitas Jokowi stagnan: 52,6%. Sementara Prabowo-Sandi naik drastis: 32,7%.

Di pihak lain, versi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menunjuk angka yang berbeda. Survei internal Prabowo-Sandi menyebut sudah menembus angka 40% dan tidak lama menyalip Jokowi-Ma’ruf Amin. “Dari survei kita November kemarin, alhamdulillah Prabowo-Sandi sudah 40%, cuma beda 4% dari Jokowi,” kata Jubir BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade.

Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Erick Thohir menduga, kenaikan elektabilitas kandidat oposisi itu tak lepas dari pengaruh Sandiaga Uno. “Pak Prabowo berapa? Kan ada Pak Sandi. Sandi anggap 10%, Pak Prabowo 23, hitung deh. Apabila Pak Prabowo 30, gak mungkin Sandiaga 0. Sandiaga terus bergerak, Pak Sandi itu bergerak baik, makanya jadi 35. Pak Prabowo berapa?” kata Erick di Grand Sahid, Jakarta Pusat, Jumat (7/12).

Sebaliknya, stagnasi elektabiltas Jokowi-Ma’ruf Amin menurut Erick disebabkan sang cawapres, Ma’ruf Amin, belum melakukan kampanye. Pernyataan Erick ini seolah diamini oleh Menteri Koordinator Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Binsar Pandjaitan. Dalam kesempatan berbeda, Luhut meminta cawapres Ma’ruf Amin, turun kampanye agar menaikkan elektabilitas pasangan nomor urut 01 itu. “Kalau Pak Ma’ruf Amin belum banyak turun, kita harap ya (turun kampanye),” kata Luhut.

Sepintas, apa yang dikatakan Erick dan Luhut terkesan menjadikan Ma’ruf Amin sebagai penyebab belum terkereknya elektabilitas Jokowi. Memang lebih dari sepekan ini Ma’ruf Amin tidak berkampanye karena kakinya terkilir sehingga disarankan oleh dokter untuk beristirahat. Namun, jika dikatakan Ma’ruf Amin belum berkampanye, hal itu tidaklah tepat.

Jumat, 7 Desember lalu di kediamannya, Maruf Amin bahkan mengklaim dirinya sering turun ke lapangan sebelum kakinya terkilir. “Keseleo itu juga membawa berkah sehingga saya bisa istirahat sejenak beberapa hari. Saya kan enggak pernah istirahat. Muter terus,” ujar Ma’ruf.

Jika dilihat dari performa Ma’ruf, ia memang tergolong rajin berkampanye. Namun sayangnya, kampanye ini sebagian besar dilakukan di lingkungan pesantren. Contohnya ia sempat mengunjungi dua pondok pesantren di Yogyakarta yakni Pondok Pesantren Ali Maksum dan Pondok Pesantren Al Munawwir.

Sementara itu, di Jawa Timur, ia juga memaksimalkan jadwal kampanyenya hanya dengan mengunjungi beberapa pesantren. Ketua MUI nonaktif itu telah mengunjungi beberapa Pondok Pesantren yang tersebar di Jember, Probolinggo, Pasuruan dan Sidoarjo, Mojokerto, dan Madura.

Kondisi tersebut pada akhirnya memunculkan spekulasi bahwa Ma’ruf selama ini hanya terbatas dikenal di kalangan muslim, itupun juga tak semua muslim. Nyatanya, efek Ma’ruf Amin terekslusif dari kalangan luas. Di titik ini, pengangkatan Ma’ruf Amin sebagai cawapres yang diharapkan dapat meredam segala tuduhan anti-Islam dan menjadi sumber limpahan suara umat Islam, tampaknya tidak akan banyak membantu Jokowi. Terlebih, jika dikaitkan dengan massa 212, konsolidasi politik umat Islam di kubu Prabowo tergolong sukses.

Aksi Sandiaga Uno saat berkampanye

Sebaliknya, cawapres rival, Sandiaga Uno, berperan besar dalam mengerek elektabilitas Prabowo. Dipilihnya Sandiaga, menurut peneliti LSI Adji Alfarabi, membuat elektabilitas Prabowo melonjak di beberapa segmen pemilih: perempuan, pemilih pemula, dan kaum terpelajar. Saat ini, Sandiaga effect bahkan sanggup mengungguli Jokowi effect. Merujuk hasil survei Alvara Research Center beberapa waktu lalu, Sandiaga unggul secara kreatifitas politik dengan perolehan 62%, dan Jokowi 59,8%.

Ma’ruf Amin Kewalahah?

Setelah mengeluarkan pernyataan blunder terkait Ma’ruf Amin, Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, Erick Thohir menyampaikan bahwa kampanye calon wakil presiden Ma’ruf Amin akan dijadwalkan masif mulai awal tahun 2019. Ia bahkan mengklaim bahwa sang kiai akan memberikan kejutan-kejutan.

Nampaknya, menciptakan Ma’ruf Amin effect tak akan semudah menyaingi popularitas Sandiaga effect. Dapat diramalkan bahwa sang kiai akan kewalahan menghadapi jadwal berbagai kampanye di tahun depan. Tentu saja alasannya terdapat pada dua hal, yakni faktor usia dan kesehatan.

Dalam konteks ini, pada kadar tertentu, faktor usia dan kesehatan akan sangat berpengaruh terhadap performa seorang kandidat secara politik. John Corner dalam jurnalnya Mediated Persona and Political Culture: Dimensions of Structure and Process menyebut performa politik sangat dipengaruhi oleh tiga hal antara lain iconicvocal, and kinetic.

Iconic adalah bagian dari ‘kepribadian politik’ yang lekat dengan popularitas seorang politisi. Sementara dalam konteks vocal, adalah indikator bagaimana retorika seorang politisi mampu mempengaruhi atensi publik dan menghasilkan dukungan. Yang terakhir adalah faktor kinetic, yakni  kemampuan politisi dalam berinteraksi dengan melakukan safari politik dan kampanye door to door.

KH Ma’ruf Amin dalam perawatan karena kakinya terkilir

Dari semua indikator, nampaknya sulit bagi politisi berumur sekelas Ma’ruf Amin untuk merealisasikannya di kampanye mendatang. Mengingat bahwa ia tak memiliki identitas kemudaan maupun sosok politisi yang populer. Selain itu, ia juga tak cukup prima secara kesehatan dengan jadwal kampanye yang idealnya padat dan memerlukan energi yang cukup besar.

Apalagi, jika pun pada akhirnya Ma’ruf berkampanye seperti dijanjikan Erick, pengaruh elektabilitasnya masih dipertanyakan. Pada survei yang dirilis LSI Dennny JA misalnya, suara Jokowi mengalami penurunan sebanyak 1,4 persen setelah dipasangkan dengan Ma’ruf Amin. Citranya juga dipandang kurang sedap pasca-insiden pembatalan Mahfud MD sebagai cawapres Jokowi di detik-detik akhir.

Selain itu, tampilnya Ma’ruf di depan publik sering kali berbuah blunder. Mantan Rais Aam PBNU ini misalnya pernah menyebut mobil Esemka akan segera diproduksi massal. Padahal isu ini belum juga terlaksana. Hal serupa berlaku ketika ia menggunakan istilah buta dan budeg yang memicu kontroversi karena dianggap tidak sensitif pada penyandang disabilitas.

Pada akhirnya, kemampuan fisik Ma’ruf akan menjadi hambatan serius bagi petahana. Sebaliknya, energi muda dan agresifnya Sandiaga Uno berkampanye dalam dua bulan terakhir ini yang sudah 818 kali kunjungan ke berbagai lokasi, nyatanya menyumbang kenaikan elektabilitas bagi Prabowo berdasarkan hasil survei. Sebab itu, mandegnya elektabilitas Jokowi menjadi peringatan besar bagi Tim Kampanye Nasional.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here