Elektabilitas Presiden Jokowi di Bawah 50 %. Ini Masalahnya

2
506
Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR Maruarar Sirait (tengah) bersama Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan (kiri), dan anggota Fraksi Partai Golkar DPR Ace Hasan Syadzily (kanan) menjadi nara sumber dalam rilis hasil survei terkait elektabilitas dan kinerja pemerintahan Joko Widodo di Jakarta, Kamis (5/10). ANTARA FOTO/Reno Esnir/kye/17

Nusantara.news, Jakarta – Selain CSIS, hampir semua lembaga yang mempublikasikan temuan hasil survei terbarunya mencatat elektabilitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) berada di bawah angka 50 %. Bagi petahana, ungkap sejumlah analis politik, elektabilitas di bawah 50% riskan.

Mengutip data terbaru yang diumumkan lembaga kajian KedaiKOPI menyebutkan, memang 55,7% masyarakat puas atas kinerja Presiden Joko Widodo. Namun 55,4 % mengaku masih mengeluhkan persoalan ekonomi, khususnya tingginya tarif listrik, harga-harga kebutuhan pokok dan BBM.

Data terbaru KedaiKOPI diperoleh dengan metode wawancara tatap muka terhaap 800 responden di delapan kota, meliputi Padang, Palembang, Jakarta minus Kepulauan Seribu, Bandung, Semarang, Surabaya dan Makassar, pada 8-27 September dengan margin of error +/-3,6%.

Selain masalah ekonom, terang Direktur Ekesekutif KedaiKOPI Hendri Satrio, di Jakarta, Minggu (8/10) kemarin, responden juga mengeluh persoalan lapangan pekerjaan yang mencapai 14,1%, korupsi 3,9%, maraknya peredaran narkoba 3,3%, maraknya berita hoax tentang SARA 2,5%, tercatat 7,6% menjawab tidak tahu, dan sisanya menjawab hal-hal lainnya.

Sedangkan dari tingkat elektabilitas. KedaiKOPI mencatat elektabilitas Presiden Jokowi 44,9% dan yang akan memilih selain Jokowi lebih tinggi lagi, mencapai 48,9% dan sisanya tidak menjawab. Artinya, kalau hari ini terjadi Pemilihan Presiden, Presiden Jokowi potensial untuk dikalahkan siapa pun calon penantangnya.

Sedangkan opsi siapa calon selain Jokowi, nama Prabowo Subianto masih bertengger di urutan paling atas, diikuti nama-nama lain seperti Gatot Nurmantyo, Tri Rismaharini, Agus Harimurti Yudhoyono, dan beberapa nama lainnya.

Untuk memenangkan Pemilu Presiden 2019, tandas Hendri, peran figur calon Presiden yang diajak bersanding akan sangat menentukan. Berdasarkan jajak pendapatnya, ada 49,9 % menjawab akan mempengaruhi pemenangannya, sedangkan 48,4 % mengaku tidak berpengaruh dan sisanya tidak menjawab.

Komposisi partai-partai pendukung pemerintah di Parlemen sekarang ini tercatat ada 6 partai politik dan 1 partai politik yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) mengambang, dan 3 partai politik lainnya tegas di luar pemerintahan. Pertanyaannya, sejauh mana jawaban responden atas derajat keterpilihan partai-partai politik pendukung koalisi pemerintahan?

“Hanya 41,3 persen responden yang mengaku akan memilih partai politik pengusung Jokowi pada 2019 nanti, 53,5 persen menjawab tidak akan memilih, sementara sisanya memilih untuk tidak menjawab atau tidak memilih,” ungkap Hendri.

Berdasarkan survei KedaiKOPI secara keseluruhan, tercatat 55,7 persen responden puas dengan pemerintahan Jokowi-JK, lebih besar dibandingkan yang tidak puas 43,3 persen dan sisanya tidak menjawab. Kepuasan itu utamanya terkait pembangunan bidang infrastruktur 32,7% dan bantuan kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan 16,3%.
Adapun alasan ketidak-puasan terhadap pemerintah adalah tingginya harga-harga kebutuhan pokok yang mencapai 22,7% dan janji-janji Jokowi yang belumterpenuhi 8,5%.

Responden juga menjawab, janji-janji yang sudah dipenuhi Jokowi meliputi infrastruktur yang didukung 24,9% responden, pelaksanaan Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Kesejahteraan Sosial (KKS) disetujui 15% responden, pemberantasan korupsi dan narkoba disetujui oleh 2,6% responden, blusukan oleh 1,3% responden.

Hasil Survei Lainnya

Tingkat elektabilitas di sejumlah lembaga survei juga kurang menggembirakan. Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dalam survei terakhirnya juga mencatat elektabilitas Presiden Jokowi hanya 38,9%. Oleh karenanya Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon optimis pada 2019 nanti Prabowo Subianto bisa mengalahkan Jokowi.

“Kalau menurut pribadi saya, itu rendah, 38 persen itu kecil. Biasanya (petahana) 50 persen elektabilitas. Artinya itu rendah dan masyarakat menginginkan pemimpin baru,” terang Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (6/10) pekan lalu.

Fadli juga membandingkan Capres petahana di sejumlah negara, seperti Vladimir Putin di Rusia dan Rodrigo Duterte di Filipina yang keduanya selalu memiliki tingkat elektabilitas di atas 50% sepanjang tahun kekuasaannya. Maka Fadli sangat yakin Prabowo akan mengungguli Presiden Jokowi pada Pemilu 2019 nanti.

Berdasarkan survei SMRC terakhir, elektabilitas Prabowo berada di urutan kedua dengan elektabilitas sebesar 12 %. Memang masing njomplang apabila dibandingkan dengan Jokowi yang 38,9 %. Namun yang perlu digaris-bawahi, keterpilihan Jokowi sebagai calon presiden hanya didukung angka kurang dari 50 % dan itu sebagai peluang bagi pesaingnya.

Media Survey Nasional (Median) juga menyebut elektabilitas Presiden Jokowi di urutan paling atas. Namun perolehannya bahkan lebih kecil lagi dari hasil survei SRMC. Media hanya mencatat elektabilitas mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu hanya 36,2 % yang posisinya terus ditempel Prabowo dengan angka 23,2 %.

Bagaimana dengan calon-calon lain? Diantara 10 tokoh nasional yang namanya dimunculkan dalam survei, tercatat Susilo Bambang Yudhoyono di urutan ketiga dengan perolehan 8,4%, diikuti oleh Gubernur terpilih DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan dengan perolehan 4,4%, dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dengan 2,8%.

Berdasarkan hasil survei Median, elektabilitas Gatot Nurmantyo masih di atas Wakil Presiden Jusuf Kalla yang didukung oleh 2,6 % responden. Nama-nama lain tercatat, Hary Tanoesoedibjo 1,5%, Aburizal Bakrie 1,3 %, Ridwan Kamil 1,2 %, Tri Rismaharini 1% dan beberapa nama lain yang elektabilitasnya di bawah 1 %.

Sejauh ini hanya Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang hasil survei elektabilitas Presiden Jokowi mencatat angka tipis di atas 50%. Calon pesaing terdekatnya, seperti halnya hasil lembaga-lembaga survei lainnya, masih Prabowo Subianto.

“Jokowi mengalami kenaikan signifikan dari tahun ke tahun. Kenaikan fantastis dari tahun 2016 ke 2017 dari angka 41,9% ke 50,9%. Sementara Prabowo tak ada kenaikan berarti dari 28% turun ke 24,3% dan 25,8%,” ucap Peneliti CSIS, Arya Fernandes dalam paparan di Kantor CSIS, Jakarta Pusat, Selasa (12/9) bulan lalu.

Data itu diperoleh dari survei tanggal 23-30 Agustus 2017 melalui wawancara terhadap 1.000 responden di 34 provinsi. Sample dipilih secara multistage random sampling. Margin of eror +/- 3,1% pada tingkat kepercayaan 95%.

Kendati sejumlah lembaga survei masih menempatkan Presiden Jokowi di urutan paling atas, namun elektabilitas yang cenderung di bawah 50 persen memang masih beresiko untuk tidak kembali terpilih pada Pilpres 2019. Sudah itu, elektabilitas partai pendukungnya, kecuali PDI Perjuangan, berdasarkan survei SMRC juga cenderung terus merosot.

Mengutip hasil survei SMRC satu bulan lalu, elektabilitas PDI-P 27, 1 %. Disusul Partai Golkar 11,4 %, Partai Gerindra 10,2 %, dan Partai Demokrat 6,9 %, Partai Kebangkitan Bangsa 5,5 %, Partai Keadilan Sejahtera 4,4 persen, Partai Persatuan Pembangunan 4,3 persen, Partai Amanat Nasional 2,4 persen, Perindo 2,0 persen, Hanura 1,3 persen, Partai Bulan Bintang 0,1 persen, PBN 0,1 persen, dan PKPI 0,1 persen.

Artinya dukungan kepada Presiden Jokowi tidak berbanding lurus dengan elektabilitas partai pendukungnya. Terlebih hasil survei KedaiKOPI menyebutkan koalisi partai pendukung pemerintah tidak akan didukung oleh 53,5% calon pemilih. Jadi, cerdas dalam membaca situasi akan menjadi penentu sukses partai politik dalam Pemilu Nasional Serentak 2019 nanti.[]

2 KOMENTAR

  1. Siapakah sesungguhnya setnov itu begitu besar perannya terhadap negara ini sorong tarik kasus E ktp membuat sorotan masyarakat indonesia

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here