Elit Tidak Pede, Allan Nairn Pun Ditanggapi

0
195

Nusantara,news, JAKARTA – Elit politik Tanah Air kembali terjangkit penyakit akut tidak percaya diri. Betapa tidak, hanya gara-gara sebuah tulisan dari seorang asing Allan Nairn yang mengklaim sebagai jurnalis investigasi tentang rekayasa mengalahkan Ahok, para petinggi negeri ini langsung angkat bicara.

Tak hanya petinggi militer yang membantah isu yang meragukan itu, bahkan politisi Senayan sampai Presiden Joko widodo pun ikut menanggapinya. “Yang nulis siapa? Tanyakan ke yang nulis,” ujar Jokowi di ‎Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah, Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (25/4) kemarin.

Sebenarnya, orang-orang asing seperti Allan kerap muncul di era pemerintahan sebelumnya. Sebut saja, masa pemerintahan BJ Habibie muncul ‎ Jeffrey Winter analis politik dari Northwestern University, yang selalu menilai negatif semua kebijakan pemerintah.

Bahkan di era Soeharto, ada Adam Schwarz yang menulis buku A Nation In Waiting: Indonesia in The 1900. Dalam buku itu, Adam mengutip hasil wawancaranya dengan Gus Dur yang menyebut Soeharto “bodoh”.

Adam adalah wartawan majalah Far Eastern Economic Review yang berbasis di Hongkong. Dalam tulisannya mengutip kalimat, “That is the stupidity of Soeharto that he did not follow my advice.” (Itulah kebodohan Soeharto yang tidak mengikuti nasehat saya).

Akibatnya, Sohearto ‘perang dingin’’ dengan Gus Dur. Bahkan, Soeharto dikabarkan melakukan berbagai upaya mendongkel Gus Dur dari posisinya di PBNU melalui Muktamar NU pada 1994 di Cipasung, Jawa Barat. Namun, misi itu gagal dan Gus Dur tetap bertahan di posisinya.

Kembali ke Allan, pengamat politik dan pertahanan Salim Said tidak percaya terhadap isu yang dilempar Allan tersebut.

“Analisisnya Allan Nairn itu Sangat spekulatif. Saya tidak percaya itu,” tandas Salim di Jakarta, Senin (24/4).

Guru Besar Univestitas Pertahanan ini menyatakan alasan ketidakpercayaan terhadap isu yang dibungkus investigasi oleh Allan. Karena, kondisi TNI sangat jauh berbeda dengan beberapa dekade sebelumnya. TNI saat ini sangat taat dan tunduk pada presiden sesuai Pasal 10 UUD 1945. Dalam pasal tersebut presiden adalah pemegang kekuasaan tertinggi Angkatan Darat, Laut dan Udara.

“Jadi gimana militer mau kudeta, konspirasi dan sebagainya. Makanya jangan percaya Allan yang ngerti Indonesia,” tegasnya.

Seperti diketahui, Allan Nairn menulis sebuah artikel investigasi soal upaya kudeta yang dilakukan kelompok asing yang berkonspirasi dengan kekuatan politik dalam negeri bersama TNI.

Artikel itu pertama kali muncul di media online Amerika Serikat, “The Intercept.” Artikel Allan lalu dialihbahasakan ke bahasa Indonesia dan dimuat oleh media online Indonesia, www.tirto.id.

Keraguan Salim soal kredibilitas jurnalis atau pengamat asing seperti Allan mungkin saja bisa luntur, jika yang menganalisa itu adalah seorang Indonesianis atau benar-benar ahli tentang Indonesia, seperti Barbara Sillars Harvey seorang akademisi Skotlandia lulusan Universitas George Washington, yang mengkhususkan diri dalam penelitian di Pulau Sulawesi.

Dosen politik di Universitas Monash di Melbourne, Australia ini telah melahirkan sejumlah buku di antaranya berjudul “Permesta : Pemberontakan Setengah Hati” dan “Pemberontakan Kahar Muzakkar : Dari Tradisi ke DI/TII”.

Selain itu, ada Herbert Feith yang wafat pada 2001 dalam sebuah kecelakaan. Lulusan Universitas Melbourne ini adalah   salah seorang Indonesianis dan profesor ilmu politik yang paling terkemuka dengan perhatian khusus pada sejarah Indonesia modern.

Dia bahkan sempat menjadi pegawai selama dua tahun di Departemen Informasi di Indonesia.

Atau mungkin Bennedict Rog Anderson, atau dikenal Ben Anderson, merupakan seorang profesor ilmu politik di Cornell University. Dia juga pakar pengamat bidang sosial politik Indonesia khususnya kebudayaan Jawa dalam praksis politik Indonesia modern.

Beberapa karyanya bahkan menjadi bacaan wajib bagi Indonesianis lainnya, seperti A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia, Java in the Time of Revolutions, dan Imajined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism.

Para elit memang harusnya tidak mudah termakan isu yang dilempar seseorang hanya karena dia orang asing. Karena, negara ini butuh pemimpin yang memiliki karakter dan percaya diri tinggi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here