Emha Ainun Nadjib : Saya Nasionalis Justru Karena Saya Muslim

0
1004
Emha Ainun Nadjib yang dikenal piawai merangkai kata baik lisan maupun tertulis dengan gagasan-gagasan kadang tak terduga, segar dan menghibur / Foto : Istimewa

Nusantara.news, Yogyakarta – Cinta tanah air, merawat Indonesia, hukumnya wajib. Kalau itu tidak dilakukan Tuhan akan marah.

Begitu ucapan Budayawan Emha Ainun Nadjib saat didaulat berbicara dalam diskusi bertajuk “Kebangsaan dalam Kebudayan” yang diselenggarakan Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta (PWSY) di Yogyakarta, Senin (17/4) kemarin sore.

Cak Nun, begitu panggilan akrab penyair kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 itu memberikan gambaran bahwa setiap manusia telah ditentukan oleh Tuhan hidup di negara-negara tertentu. Oleh karenanya, sebagai rasa bhakti dan syukur kepada Tuhan, maka wajib hukumnya setiap warga negara Indonesia mencintai negara yang telah ditakdirkan Tuhan sebagai tanah tumpah darahnya.

“Saya menjadi nasionalis justru karena saya seorang muslim. Bagi saya nasionalisme itu wajib, karena asal-usulnya oleh Tuhan saya ditentukan lahir dan menjadi anak orang Indonesia sehingga saya wajib merawat Indonesia,” tutur Cak Nun yang pernah mengikuti International Writing Program di IOWA University, Amerika Serikat tahun 1984 ini.

Cendikiawan muslim yang hanya menikmati bangku kuliah satu semester di Fakultas Ekonomi Universitas Gajahmada ini tidak memungkiri adanya oknum atau kelompok yang menolak nasionalisme dan ingin menidrikan negara dengan orientasi keagamaan. “Bagi saya itu karena mereka salah paham dalam mengkaji ajaran agama,” ujarnya.

Selain Emha Ainun Nadjib hadir pula Budayawan Yogyakarta Ahmad Charis Zubair yang menyayangkan banyaknya warga negara Indonesia yang tidak percaya diri mengakui keunggulan budayanya sendiri. “Mereka silau dengan budaya asing dan menganggap negaranya tertinggal dari standar yang diterapkan negara-negara maju,” paparnya.

Ahmad Charis juga mengkritisi adanya penggolongan negara maju, negara berkembang dan negara tertinggal yang baginya merupakan hegemoni politik dan budaya oleh sekelompok negara tertentu yang terus ingin mengatur peradaban bangsa-bangsa di dunia.

“Dengan mengikuti stigma itu kita akan terus terjebak oleh persoalan ekonomi dan budaya, karena setiap  bangsa atau negara memiliki nilai budaya masing-masing yang tidak bisa diukur dengan standar peradaban dan pola pikir mereka,” tuding Ahmad Charis. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here