Emil-Azrul Berharap Ikuti Jejak Sukses Anis-Sandi di DKI

0
1568
Emil Dardak dan Azrul Ananda disebut sebagai generasi milenial. Kekuatan poros tengah tertarik untuk mengusung keduanya dalam Pilgub Jatim 2018.

Nusantara.news, Surabaya – Munculnya “Poros Tengah” diprediksi akan membuat perebutan kursi gubernur Jawa Timur bakal sengit. Sehingga Pilkada Jatim 2018 tidak monoton hanya di dua kandidat saja, yakni Khofifah Indar Parawangsa dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Disebut-sebut, saat ini tiga partai sedang mematangkan rencana guna menggalang kekuatan. Ketiga partai tersebut adalah Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Mereka tampaknya tidak akan mengusung dua nama cagub yang sudah muncul. Pasalnya, sampai detik ini ketiganya belum menentukan pilihan bakal mengusung salah satu kandidat yang sudah ada diusung sejumlah Parpol.

Indikasi ketiga partai menggalang koalisi sebenarnya sudah terlihat sejak akhir September lalu. PAN, Gerindra, dan PKS membuat acara nonton bareng Film Pemberontakan G30 S/PKI di Surabaya.

Hingga hari ini, 5 partai sudah menentukan dukungan politiknya di Pilkada Jatim 2018. PKB dan PDI-P mengusung pasangan Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas. Sementara Golkar, Nasdem, dan PPP memilih Khofifah Indar Parawansah sebagai gubernur Jatim pengganti Soekarwo. Tampaknya Demokrat juga akan menyusul.

Baca juga: Menanti Pendamping Khofifah di Pilgub Jatim

Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim, Anwar Sadad mengatakan, ketiga partai itu sudah menggelar pertemuan dan memantapkan koalisi sejak Kamis (26/10/2017). “Kita lebih dari cukup untuk mengusung pasangan calon di Pilkada Jatim. Cuma kami masih membuka diri jika masih ada partai yang bersedia bergabung,” ujarnya.

Ketiga partai jika berkoalisi sudah memiliki persyaratan untuk mengusung calon sendiri. Di parlemen Jatim, Gerindra memiliki 13 kursi, PAN 7 kursi, dan PKS 6 kursi. Total 26 kursi. Sementara syarat minimal mengusung pasangan calon adalah 20 kursi.

Dalam pertemuan terakhir dengan PAN dan PKS, ketiganya membahas seputar tabulasi nama-nama yang layak untuk diusung di Pilkada Jatim. Masing-masing partai, sambung dia, masih dalam tahap menyampaikan nama-nama yang layak untuk diusung.

Yang menarik, kekuatan poros tengah tampaknya tertarik untuk memunculkan calon-calon generasi milenial atau disebut generasi jaman now. Ini bukan tanpa alasan, sebab generasi milenial diprediksi bakal menjadi suara penentu kemenangan dari kandidat gubernur maupun di pemilihan presiden 2019. Terlebih populasi pemilih dari kalangan milenial pada 2019 bisa mencapai 50 persen lebih.

Itu penting dicatat bagi politisi dan partai politik, bagaimana mereka menangkap aspirasi kelompok milenial. Strategi kampanye yang usang di era milenial dianggap sudah tidak berlaku. Berikut juga dengan para kandidatnya. Justru, kini giliran generasi muda yang meneruskan tongkat estafet.

Generasi milenial sendiri memiliki tiga karakteristik utama, pertama karena faktor connected, creative, and confidenceConnected atau koneksi karena mereka sebagai pribadi yang pandai bersosialisasi terutama di dalam komunitasnya. Mereka juga aktif berselancar di media sosial dan internet.

Kedua, karena mereka kreatif, geneari milenial adalah orang-orang yang berjiwa muda yang berpikir out of the box, kaya dengan berbagai ide dan gagasan, serta mampu mengkomunikasikan ide dan gagasannya dengan baik. Mereka boleh dikatakan sebagai generasi kreatif. Sebagai bukti, saat ini industri kreatif yang dimotori anak-anak muda berkembang pesat.

Baca juga: Pilgub Jatim dan Generasi Milenial yang Dikebiri

PDIP-PKB sebenarnya sudah memiliki kandidat dari generasi milenial, yakni Azwar Anas. Bupati Banyuwangi itu disebut-sebut telah mewakili generasi milenial. Bahkan, Anas sudah mulai tancap gas untuk ‘berselancar ria’ di sejumlah daerah untuk merangkul pemilih dari generasi muda. Sebelumnya Anas sudah mengunjungi wilayah Mataraman. Kemudian wilayah Arek juga dituju. Pun wilayah Madura tak mau kalah. Yang pasti, hampir semua kantong-kantong suara yang disasar Anas adalah kelompok-kelompok berbasis milenial. Kendati cara kampanye Anas banyak dikritik kalangan karena kerap melalaikan tugas-tugas sebagai bupati.

Untuk Khofifah, tentu tergantung siapa wakilnya. Cuma santer disebut-sebut sosok Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) masuk dalam radar Tim 9. Bila memang pilihannya jatuh pada AHY, maka Khofifah akan memiliki perwakilan dari generasi milenial yang tentu menjadi kekuatan penyeimbang bagi lawan-lawannya. Nah, bagaimana dengan poros tengah?

Kekuatan poros tengah saat ini sudah mulai melirik sejumlah generasi milenial yang bakal diusung untuk Cagub maupun Cawagub. Ada dua sosok yang masuk radar, yakni Bupati Trenggalek Emil Dardak dan bos muda Jawa Pos Group Azrul Ananda.

Nampaknya poros tengah tidak main-main dalam berburu kursi Jatim 1. Bila pelawan memiliki wakil dari generasi milenial, poros tengah malah berani memunculkan dua sekaligus generasi milenial. Seperti apa kekuatan Emil Dardak dan Azrul Ananda?

Jangan Remehkan Generasi Milenial

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerindra Jatim sudah lama kesensem dengan Emil Dardak. Dikabarkan Gerindra bakal mengusung Emil dalam poros baru yang digagasnya jelang Pilgub Jatim 2018. Hal itu disampaikan Sekretaris Gerindra Jatim, Anwar Sadad. Dia mengaku selama ini kerapkali mengobrol dengan suami artis Arumi Bachsin tersebut. Menurutnya sosok Emil adalah profil generasi milenial yang mempunyai kemampuan di bidang kepemimpinan.

“Kita komunikasi dengan Emil iya, kita pernah sedikit ngobrol, kita sampaikan kecenderungan Gerindra soal generasi milenial,” kata Anwar Sadad, Selasa (31/10/2017).

Menurutnya, kepemimpinan di Jawa Timur dalam hal ini Calon Gubernur maupun Calon Wakil Gubernur tidak bisa dimaknai secara tradisional saja, melainkan harus dimaknai secara general.

“Saya kira kepemimpinan tidak harus dimaknai secara klasik, harus digagas kepemimpinan yang baik di era milenial, salah satunya pemimpin muda yang berkompeten,” tandas Anggota Fraksi Gerindra DPRD Jatim ini.

Oleh karena itu, Gerindra merasa bahwa ada saatnya generasi muda yang mempunyai kemampuan persuasi yang bagus, punya retorika yang bagus, punya background kepemimpinan politik yang bagus untuk ikut serta dalam menjadi bakal calon gubernur.

Figur Emil sempat dianggap tidak layak oleh sebagian kalangan mengingat dirinya yang baru menjabat sebagai Bupati Trenggalek selama dua tahun. Pengalaman Emil dalam bidang politik jelas terbilang masih minim jika dibandingkan dua calon lainnya baik Gus Ipul maupun Khofifah. Namun itu bukan jaminan. Publik tidak melihat dari kacamata kuda saja. Tapi bagaimana kapasitasnya dalam memimpin.

Buktinya, saat pertama kali terjun ke dunia politik, peraih gelar Doktor Ekonomi Pembangunan termuda di Jepang dari Ritsumeikan Asia Pacific University pada usia 22 tahun itu, mampu mengalahkan pesaingnya di Pilkada Trenggalek. Bersanding dengan Wakil Bupati, Mochamad Nur Arifin, Emil memenangkan pemilihan kepala daerah serentak di Kabupaten Trenggalek tahun 2015 dengan perolehan suara signifikan sebanyak 292.248 suara atau sekitar 76,28 persen.

Baca juga: KPU Jatim Minta Masyarakat Gunakan Hak Pilih

“Sekali lagi saya tegaskan yang bisa mengukur layak tidaknya itu publik, bukan kalangan tertentu,” tambah politisi asal Pasuruan ini.

Inilah alasan mengapa Gerindra sangat menginginkan Emil Dardak ikut maju menjadi calon gubernur dari partai Gerindra bersama porosnya. Politisi alumni pascasarjana UIN Sunan Ampel ini merasa bahwa sosok Emil Dardak adalah profil generasi milenial yang mempunyai potensi dan mampu menjadi pemimpin di Jawa Timur lima tahun mendatang. “Saya sampaikan kepada Mas Emil itu, dia (layak) menjadi calon gubernur bukan calon wakil gubernur dari Gerindra dan porosnya,” kata dia.

Bahkan Gubernur Jatim Soekarwo pun melontarkan sanjungan pada Emil Dardak terkait kapasitasnya sebagai pemimpin. “Dia anak muda yang potensial,” tutur Pakde Karwo usai menghadiri Konferensi Wilayah Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jatim di Spazio Hall Surabaya, Jatim, beberapa waktu lalu.

Pada acara tersebut, Ketua Partai Demokrat Jatim terlihat menepuk-nepuk lengan kanan Emil. Keakraban dan rasa sayang orang tua kepada anak terkesan ingin dipertunjukan. Kata Pakde Karwo, dirinya sangat menginginkan figur-figur pemimpin seperti Emil dari kalangan Mataraman.

Baca juga: Pilgub Jatim, Bukan Adu Sosok Tapi Program Inovatif

Namun, tampaknya yang kebakaran jenggot justru PDIP. Sebagai Parpol pengusung Emil, PDIP tidak rela jika jagoannya tersebut maju dalam Pilgub Jatim 2018. Pasalnya, suara Emil bakal memberangus suara di wilayah abangan di Mataraman. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyebut majunya Emil Dardak (diusung poros tengah) tidak sesuai etika politik. Kendati PDIP menghargai hak setiap orang untuk mencalonkan dan dicalonkan, Hasto berharap kader PDIP berpegang pada aspek etika politik.

“PDI Perjuangan memang melahirkan begitu banyak pemimpin muda, tentu saja kami berharap aspek etika itu dikembangkan karena PDIP juga tidak pernah membajak calon-calon dari partai lain,” kata Hasto di kantor Dewan Pengurus Pusat PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, (28/10/2017).

Menurut Hasto, kepemimpinan seseorang diukur dari konsistensi dan komitmen untuk memenuhi tanggung jawabnya dan bukan kepemimpinan yang meloncat-loncat. “Kami tumbuh, dari dalam kami melakukan rekrutmen-rekrutmen, sehingga politik jalan pintas dalam etiket politik yang berkeadaban seharusnya dihindari,” kata dia.

Emil sendiri kepada wartawan mengaku saat ini belum ada Parpol yang ‘melamar’ dirinya. Namun, dia tidak menutup pintu bagi Parpol yang nantinya akan mencalonkan dirinya. “Belum dilamar kok bilang siap? Belum, belum, belum dilamar. Belum ada yang melamar,” jawabnya.

Sekilas soal Emil yang dilansir dari wikipedia, dia merupakan cucu H. Mochamad Dardak, salah satu kyai Nahdlatul Ulama (NU). Ayahnya adalah Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum periode tahun 2010-2014. Sementara ibunya bernama Sri Widayati, dari sang ibu mengalir darah Letjen Anumerta Wiloejo Poespojudo, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional pertama di era Bung Karno.

Akademisi Bertemu Pengusaha

Apa jadinya bila figur akademisi bertemu pengusaha? Pilgub DKI Jakarta merupakan jawabannya. Penggabungan kedua figur yang berlatarbelakang akademisi dan pengusaha, mampu menciptakan dimensi baru dalam kancah perpolitikan di Tanah Air. Pasangan Anies Baswedan (akademisi) dan Sandiaga Uno (pengusaha) berhasil meraih hati pemilih masyarakat DKI.

Inilah yang bakal terjadi bila poros tengah mengusung generasi milenial dari kalangan akademisi dan pengusaha. Mereka bakal mengulangi kesuksesan di Pilgub DKI Jakarta. Seperti diketahui Emil Dardak bisa dibilang berasal dari akademisi. Pada tahun 2001 atau saat berusia 17 tahun, Emil memperoleh gelar diploma dari Melbourne Institute of Business and Technology. Emil kemudian meneruskan pendidikan S1 di Universitas New South Wales, Australia. Sedangkan gelar S2 dan S3 didapatkan dari Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang. Pada tahun 2001-2003, Emil menjadi World Bank Officer di Jakarta, dan Media Analysis Consultant di Ogilvy. Puncak karier Emil dicapai saat didaulat menjadi Chief Business Development and Communication-Executive Vice President di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero).

Bagaimana dengan pasangannya? Azrul Ananda juga generasi milenial. Dia memiliki latar belakang pengusaha, sama seperti bapaknya, Dahlan Iskan. Tampaknya poros tengah akan menyandingkan keduanya dalam Pilgub Jatim 2018. Mungkinkah itu? Dalam politik semua tidak ada yang tidak mungkin. Selain Emil, nama Azrul Ananda juga menjadi sorotan.

Sejauh ini, PAN sudah menggadang-gadang Azrul Ananda untuk calon wakil gubernur. Dua nama itu (Emil dan Azrul) saat ini masuk dalam penjaringan PAN untuk disiapkan menjadi bakal calon pada Pilgub Jatim 2018.

“Bupati Trenggalek Emil Dardak dan Azrul Ananda, tokoh muda milennial yang layak maju di Pilgub Jatim 2018 mendatang. Bisa sebagai Cagub atau Cawagub Jatim,” kata Bendahara DPW PAN Jatim, Agus Maimun, Selasa (31/10/2017).

Agus Maimun menuturkan, kedua tokoh tersebut merupakan tokoh milenial yang mampu membawa perubahan di bidang kepemimpinan di Jawa Timur. “Pemikiran anak muda seperti mereka sangat fresh, sehingga kami nilai dapat mendatangkan kebaikan bagi masyarakat Jatim,” tandas pria yang juga anggota DPRD Jatim ini.

Baca juga: Pilihan Jamaah Maiyah Cak Nun di Pilgub Jatim

Pihaknya mengaku akan segera mengkomunikasikan dengan partai politik koalisinya, yakni Gerindra, PAN, dan PKS, dalam mengusung tokoh muda milenial. “Saya pikir Gerindra dan PKS bakal setuju soal calon milennial yang kami gagas di DPW PAN,” kata politisi tersebut.

Memang tidak banyak media mengekspos sosok Azrul Ananda. Namun di kalangan jurnalis, sosoknya sangat kontroversi. Dikutip dari buku Bahari, mantan wartawan senior Jawa Pos berjudul “Azrul Ananda Dipuja & Dicibir, Penguasa Baru Jawa Pos, Ahli Waris Jawa Pos”, secara riil saat ini Azrul telah memegang tampuk kekuasaan tak hanya koran Jawa Pos tapi juga grupnya. Azrul Ananda yang tepat 4 Juli 2017 lalu genap 40 tahun itu tak hanya menjadi Dirut PT Jawa Pos Koran. Tapi, juga menjabat Komisaris Utama (Komut) Jawa Pos Grup (JPG) yang mengendalikan ratusan koran dan belasan tv lokal.

Versi terbaru Zainal Mutaqien, salah satu Direktur PT Jawa Pos Holding, pada Juni 2017, ada 180 koran dan 42 tv lokal on air yang tergabung dalam JPG. Versi Azrul Ananda berdasar laporan 2015 masih sekitar 170 koran dan 30 tv on air. Tersebar mulai Serambi Makkah sampai tanah Papua. Dari Banda Aceh sampai Merauke ada koran JP Group. Padahal, tiap bulan ada tv terutama koran baru lahir dari Jawa Pos Grup yang masuk sampai kota kabupaten.

Menurut Azrul dalam tulisan Happy Wednesday seri 54, berdasar laporan tahun 2015 sedikitnya ada 4013 pekerja terlibat dalam pembuatan berita di JPG. Kalau jumlah karyawan totalnya bisa lebih dua kali lipat atau sekitar 8026 karyawan lebih.

Tak heran wajah Azrul begitu familiar dengan pembaca Jawa Pos. Tak jauh beda mantan Menteri Penerangan (Menpen) Harmoko yang tiap hari wajahnya menghiasi layar kaca TVRI saat Soeharto berkuasa.

Sebagai suksesor Dahlan Iskan, sosok Azrul juga tidak bisa dianggap remeh. Terlepas dari kontroversi Azrul di internal Jawa Pos, dan jika dia diusung maju Pilgub Jatim bersanding dengan Emil, maka lulusan dari International Marketing Universitas California, Amerika Serikat itu, bukan tidak mungkin akan menggerakkan seluruh jaringan medianya. Bapaknya pun pasti tidak akan tinggal diam. Untuk menjadi pemenang, untuk meningkatkan popularitas, untuk menaikkan elektabilitas, bagi seorang Azrul dan Jawa Pos bukan hal sulit. Terlebih selama ini Jawa Pos kerap mendukung calon-calon kepala daerah di Jawa Timur. Dan, siapa calon yang didukung Jawa Pos biasanya pasti menang.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here