Emil Dipinang Khofifah, PDIP Serang Balik

0
148
Foto yang beredar di grup WA, Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, bersama Khofifah Indar Parawansa, Emil Elistianto Dardak, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo.

Nusantara.news, Jawa Timur – Munculnya Emil Dardak dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur pada 2018 mendampingi Khofifah Indar Parawansa, membuat banyak pihak kaget. Pasalnya, sejak Selasa (21/11/2017) malam, beredar foto Emil bersama Khofifah dan Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta Ketua DPD PD Jatim Soekarwo.

Foto itu beredar di WA grup wartawan dan tokoh politisi Jatim. Sekjen DPP Demokrat Hinca Pandjaitan membenarkan foto tersebut. Kepada wartawan, Hinca mengatakan bahwa keputusan Demokrat sudah final mengusung Khofifah dan Emil.

“Sudah Bro sudah final, itu tadi (Selasa pagi) di Puri Cikeas,” tulis Hinca dalam WA tersebut, Selasa (21/11/2017).

Sementara sumber Nusantara.News menyebutkan, pada Selasa malam Khofifah dan Emil sempat menjalin pertemuan di Hotel Shangri La Surabaya. Siapa saja yang bertemu dan apa yang dibicarakan, sumber tidak menyebutkan. Yang jelas Khofifah dan Emil sedang melakukan konsolidasi.

Dengan adanya pernyataan dari Demokrat, sebetulnya rencana Khofifah untuk mengumumkan ke publik Minggu depan pasangannya, bocor sebelum waktunya. Adanya keputusan SBY memilih Emil, membuat kasak kusuk siapa yang dipilih Khofifah semakin terang benderang.

Namun demikian, dipilihnya Emil ini bisa saja meninggalkan persoalan baru, sebab Nasdem dan Hanura yang juga mendukung Khofifah lebih sreg memilih Ipong Bupati Ponorogo. Alasannya Ipong lebih punya pengalaman politik yang lebih matang dari pada Emil. Apalagi secara finansial Ipong jauh lebih mempuni dari pada Emil.

Lalu bagaimana dengan Golkar? Ya, Partai Golkar rupanya secara resmi telah mengusung Khofifah berpasangan dengan Emil untuk maju dalam Pilgub Jawa Timur 2018 mendatang.

Pengusungan ini secara resmi dilakukan setelah Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, menyerahkan surat keputusan (SK) yang merekomendasikan Paslon tersebut sebagai pasangan yang diusung partai berlambang pohon beringin tersebut di Gedung DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Rabu (22/11/2017).

“Bismillahirrahmanirrahim, kami menyerahkan surat ini, yang nama lengkapnya Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak. Semoga insya Allah bisa menang dalam Pilkada Jawa timur 2018 mendatang,” ucap Idrus sembari menyerahkan SK tersebut.

Jumlah kursi yang dimiliki oleh Partai Demokrat dalam DPRD Jawa Timur sendiri mencapai 13 kursi. Sedangkan, kursi yang dimiliki Partai Golkar dalam parlemen Jawa Timur mencapai 11 kursi. Syarat pendaftaran dalam Pilgub Jatim sendiri harus memiliki dukungan 20 kursi di DPRD Jawa Timur.

Plt Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, menyerahkan surat keputusan (SK) yang merekomendasikan Paslon Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak di Gedung DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Rabu (22/11/2017).

“Jadi kalau kami mendaftar ke KPUD (Jawa Timur), 24 kursi ini sudah menjadi pemenuhan prasyarat untuk bisa mencalonkan sebagai Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Jawa Timur,” ucap Khofifah.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah yang hadir dalam penyerahan tersebut mengucapkan terima kasih kepada DPP Partai Golkar atas dukungan yang diberikan kepadanya dan Emil Dardak.

“Ini tanda tangan pertama dari Plt Ketua Umum Partai Golkar (Idrus Marham). Semoga berkah,” tutupnya.

PDIP Kebakaran Jenggot

Emil Dardak menjadi Bupati Trenggalek karena diusung PDI Perjuangan. Dengan keputusannya maju di Pilgub Jatim, maka akan membuat pendukung PDI Perjuangan terbelah. Sebab, sebelumnya partai berlambang banteng itu telah mengusung calon sendiri yakni pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Abdullah Azwar Anas.

Dengan adanya Emil, maka suara PDI Perjuangan di wilayah Mataraman bisa saja tergerus. Tentu, PDI Perjuangan selaku partai pengusung Emil sangat keberatan. Wajar jika kini kubu PDI Perjuangan kebakaran jenggot dan balik ‘melawan’ pilihan politik Emil. Bahkan mereka tidak segan-segan mengkritik gaya kepemimpinan Emil selama menjabat Bupati Trenggalek.

Sekretaris DPD PDIP Jatim Sri Untari mengaku tidak kaget dengan kabar Emil mendampingi Khoffiah. Sebab 10 hari lalu pihaknya sudah mendengar kabar tersebut. “Saya sudah dengar 10 hari lalu, kalau hari ini muncul itu tinggal resminya aja,” ungkap Sri Untari.

Apakah kecewa karena Emil yang diklaim sebagai kader PDIP memilih jadi Cawagub Khofifah? “Kecewa bukan karakter kami. Kami sudah punya pasangan calon ideal untuk masyarakat Jatim, lnsya Allah semua menerima Paslon kami,” tegasnya.

Ketua DPC PDI Perjuangan Trenggalek Doding Rahmadi kepada wartawan, Rabu (22/11/2017), juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap Emil Dardak. Menurut dia, Emil telah mbalelo, tidak mau menuruti imbauan partainya untuk bertahan memimpin daerahnya. Demi jabatan lebih tinggi, Emil memilih meninggalkan Trenggalek menuju ke Pilgub Jatim bersama Khofifah. Untuk itu, PDIP meminta maaf.

“Sebagai parpol yang ikut mengusung dalam Pilkada 2015, PDIP meminta maaf kepada rakyat Trenggalek jika pilihan politik Bupati Emil telah mencederai mandat-mandat yang diberikan, ketika rakyat ramai-ramai memilih di bilik suara. Kalau kemudian Emil Dardak berubah dan mengambil pilihan politik berbeda, dengan maju dalam Pilkada Jawa Timur 2018, maka keputusan itu di luar kuasa kami. PDIP tidak pernah diajak bicara, PDIP juga tidak bisa mencegah. Kami pada sikap, mengikhlaskan Emil Dardak yang memilih jalannya sendiri,” kata Rahmadi.

Namun PDIP tak berhenti pada permintaan maaf. Partai berlambang banteng moncong putih itu juga mengkritik Emil. PDIP bahkan mengungkit-ungkit performa Emil sebagai bupati, dikaitkan dengan peningkatan angka kemiskinan.

“Rakyat Trenggalek berharap perubahan, pembenahan, dan perbaikan. Pada pundak keduanya, warga berharap Trenggalek bisa lebih maju dan lebih baik. Itulah mandat yang diberikan.

Sebagai gambaran, akhir 2015 saat Pilkada digelar, kemiskinan di Trenggalek mencapai 267.274 jiwa. Awal 2016, angka kemiskinan meningkat menjadi 272.792 jiwa. Angka itu diketahui setelah Bupati Emil Dardak dan Wakil Bupati Mochamad Nur Arifin dilantik Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Februari 2016,” kritik Rahmadi.

Sebenarnya bagi rakyat Trenggalek, lanjutnya, pasangan Bupati Emil Dardak dan Wakil Bupati Mochamad Nur Arifin telah menerbitkan harapan baru. Keduanya adalah pasangan anak muda, yang terdidik, dan punya komitmen untuk membenahi situasi Trenggalek, dengan segenap ketertinggalan, kemiskinan, dan keterbelakangan yang terjadi selama ini.

Dalam Pilkada 2015, pasangan Emil Dardak-Mochamad Nur Arifin meraih dukungan 76,28 persen suara, atau dipilih oleh 292.248 jiwa penduduk. Tinggginya dukungan suara ini menjadi cermin betapa besar harapan rakyat Trenggalek pada keduanya.

Warga Trenggalek memang membutuhkan banyak intervensi kebijakan dari pemerintah. Ini belum termasuk pembenahan infrastruktur, perbaikan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, yang menantang kerja keras bagi dua pemimpin muda itu.

“Membandingkan dengan daerah lain, seperti Kota Surabaya, betapa warganya sungguh beruntung karena mendapatkan pemimpin yang berhati baja. Walikota Tri Rismaharini dengan tegas menolak dicalonkan dalam Pilkada DKI maupun Pilkada Jawa Timur. Bu Risma memilih tetap setia bersama rakyat Kota Surabaya yang memberikan mandat, sekalipun beliau telah banyak melakukan perubahan dan meraih prestasi pemerintahan. Kami menduga, bisa jadi Trenggalek tidak membuat betah Bupati Emil Dardak, karena itu tidak tertantang untuk membenahinya. Sehingga di tengah jalan Emil Dardak berubah haluan dan mengambil pilihan politik berbeda dari mandat yang diterimanya. Bukankah Pilkada Jawa Timur menjadi tangga untuk kenaikan karier pemerintahan?” sindirnya.

Di akhir kata-kata, Rahmadi mengatakan PDIP Trenggalek dengan segala daya upaya akan tetap bekerja untuk kepentingan rakyat, termasuk menyelesaikan janji-janji kampanye Pilkada hingga akhir masa jabatan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Bicara Baik-baik dengan PDIP

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mungkin saja orang yang paling kecewa dengan keputusan Emil Dardak yang menerima ‘pinangan’ dari Khofifah. Namun Hasto menunjukkan rasa kekecewaannya dengan bijak. Dia menyebut sangat menghormati pilihan Emil untuk maju menjadi wakil gubernur Jawa Timur.

Namun demikian, Hasto bukannya tidak mengkritik langkah politik Emil. Menurutnya, cara politik Emil merupakan hasil didikan dari luar negeri. Dengan kata lain, sindiran Hasto ini secara tersirat menyebut jika Emil tidak memiliki etika dalam berpolitik. Emil bisa juga disebut berkhianat dan tidak punya rasa berterima kasih terhadap partai yang pernah mengusungnya dua tahun lalu.

“Setiap warga negara memiliki hak konstitusional untuk memilih dan dipilih. Pilihan Emil Dardak sah-sah saja. Sebagai seorang yang lama berpendidikan barat wajar jika memandang proses kepemimpinan sebagai proses loncatan karier sebagai hak individu sebagaimana diagungkan di Barat,” kata Hasto Kristiyanto dalam keterangan tertulisnya, Rabu (22/11/2017).

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.

Dan sekali lagi Hasto menyindir Emil, bahwa menjadi Bupati Trenggalek memang tidak mudah. Saat PDI Perjuangan mendukung pencalonan Emil Dardak, partai melihat bahwa yang bersangkutan punya semangat untuk membangun Kabupaten Trenggalek yang dikenal penuh tantangan untuk memajukan daerah yang memiliki problem sebagai daerah tertinggal dan terisolir. “Saat itu kami menghargai semangat anak muda yang ingin membangun kampung halamannya,” kenang Hasto.

Karena semangat membangun Trenggalek itulah, kata Hasto, PDI Perjuangan bersama koalisi partai bertekad mengusung Emil. “Persoalan kemudian, dia berubah dan memilih untuk mencalonkan diri. Sekarang kami serahkan sepenuhnya kepada masyarakat Trenggalek. Biarkan rakyat yang menilai, sebab rakyatlah berdaulat di dalam memilih pemimpin,” ujar Hasto seperti memendam kekecewaan.

Dengan munculnya pasangan baru, Khofifah dan Emil, Hasto menilai Pilkada Jawa Timur akan semakin menarik. “Berkompetisi dengan memberikan dukungan kepada Khofifah dan Emil memberikan seni tersendiri dalam strategi,” urainya.

Namun demikian, PDI Perjuangan sudah siap dengan segala kemungkinan. Malahan pihaknya tetap optimistis dengan perjuangan Gus Ipul dan Azwar Anas untuk meraih kemenangan di Pilgub Jatim mendatang. Sebab, keduanya merupakan kombinasi kepemimpinan yang menarik dan saling melengkapi. Keduanya mengedepankan pembangunan berbasis kebudayaan dan kerakyatan sesuai dengan jiwa masyarakat Jawa Timur. “Gus Ipul sangat berpengalaman luas, dan Azwar Anas penuh daya terobosan,” serunya.

Terpisah, Emil Dardak sebenarnya mengaku sudah bicara dengan elit PDI Perjuangan soal Pilgub Jatim 2018. Kalau pun kemudian ada hal-hal yang tidak berkesan di partai, maka itu hal yang wajar. “Saya sudah bicara baik-baik. Intinya saya sudah berbicara dan menemui dengan iktikad baik dengan Pak Sekjen (PDIP),” kata Emil kepada wartawan usai menerima rekomendasi dukungan Pilgub Jatim 2018 dari Golkar, Jakarta Barat, Rabu (22/11/2017).

Emil memang tidak banyak merespon sikap PDI Perjuangan yang kebakaran jenggot atas pencalonan dirinya sebagai bakal Cawagub Jatim. Dia hanya menyebut PDIP ikut berperan dalam pembangunan Trenggalek, wilayah yang dipimpinnya.

“Saya kemarin sudah bicara langsung kepada pimpinan-pimpinan partai politik yang mengusung saya dan tentunya kita sepakat untuk melihat ke depan dan juga tetap menghormati pilihan dari masing-masing pihak,” pungkasnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here