Enam Cabai untuk Sepiring Gorengan

0
425

Nusantara.news, Surabaya – Disambut kabut tipis dan hawa dingin, Nusantara.news berteduh sejenak di sebuah kawasan kaki lima dalam kompleks wisata Padusan, Pacet, Kabupaten Mojokerto. Di dalam petak bearatap seng berlubang berukuran 5×8 meter beraneka jajanan disuguhkan. Tampak sayu dan penuh peluh sorot mata Nurhayani, sang penjual, memandang hilir-mudik pengunjung. Dia mulai merasakan beban ekonomi yang semakin berat.

Perempuan kelahiran Surabaya ini, sudah 20 tahun pindah domisili. Biaya hidup perkotaan yang makin mencekik, membuat ia harus menyerah berjuang meninggalkan kota kelahiran. Keseharian ibu dari lima anak ini akhirnya “memilih” berjualan gorengan gorengan dan kopi di jejeran kios kawasan wisata yang dikenal pemandian air panasnya.

Tempe goreng dan ote-ote menjadi sajian utama dagangannya. Itulah yang dilakukannya untuk menyambung hidup keluarganya. “Setiap hari ya gini, Mas. Kalau Sabtu dan Minggu, ya alhamdulillah. Tapi kalau Senin sampai Jumat lebih sering tutup belakangan ini,” keluh Nurhayani yang ditemui Nusantara.news Minggu (5/3/2017).

Sebulan belakangan memang Nurhayani jarang membuka lapaknya. Selain faktor pengunjung yang sepi, cuaca pun kurang mendukung, juga menjadi alasan Nurhayani untuk tidak membuka lapaknya. Jika dipaksa buka pun, omset yang didapatnya tidak seberapa.

“Kalau hari Senin sampai Jumat, paling cuma dapat Rp300 ribu. Itu belum dipakai untuk kulakan (belanja modal), Mas,” terangnya

Karenanya, akhir pekan memang menjadi berkah tersendiri bagi Nurhayani. Dengan dibantu  kedua putrinya, ia mampu menyambung hidup keluarganya. Tapi siang itu ada yang agak aneh dari biasanya. Gorengan sepiring yang disuguhkan hanya diberi 6 cabe rawit. Meroketnya harga cabai membuat perempuan paruh baya ini harus memeras otak supaya usahanya tak merugi, namun tetap menyenangkan konsumen.

“Cabai di sini harganya Rp150ribu per kilogram, jadi mboten wani (tidak berani) ngasih cabai banyak, Mas. Sebenarnya kasihan karena gorengan itu kan gandengane (pasangannya) sama cabai, namun gimana lagi kalau tidak gitu ya rugi,” ungkap Nurhayani, tersenyum tipis seperti memohon kami untuk maklum .

Sementara untuk menambah penghasilan, Nurhayani yang juga bekas pekerja konveksi ini, menerima pesanan jahit pakaian. Walau hasilnya yang didapat tidak seberapa, namun dia mengaku ikhlas menjalaninya.

“Kalau tutup ya saya nyambi jahit Mas. Lumayan untuk nambah penghasilan dan ngisi kesibukan jika penghasilan warung sepi,” imbuhnya.

Dia berharap, kearifan pemimpin yang sekarang atau nanti, bisa mengayomi wong cilik, serta mampu membuat harga-harga kebutuhan pokok bisa terjangkau.

Sungguh ironi di tanah tropis yang sangat subur bagi tumbuhnya tanaman jenis caba ini,  pemerintah hingga saat ini tidak mampu menekan harga komoditas itu yang kian hari semakin melonjak. Bahkan, sempat muncul ide impor cabai  sebagai solusi jangka pendek. Jargon-jargon pemberdayaan UMKM yang sempat diembuskan seakan hanya angin surga, yang hanya melintas begitu saja di depan ribuan hidung dari orang-orang seperti Nurhayani. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here