Energi Positif Sandiaga, Ancaman Bagi Petahana

0
227

Nusantara.news, Jakarta – Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno mengimbau para pendukungnya agar tak perlu nyinyir atau meremehkan program Kartu Pra Kerja yang digaungkan oleh calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi). Menurut Sandiaga, ide tersebut merupakan respons dalam menjawab persoalan lapangan kerja yang sulit. Ia menegaskan, ide itu juga patut diapresiasi oleh berbagai pihak.

“Sekarang ada ide Kartu Pra Kerja, karena sekarang mereka menyadari juga bahwa masalah lapangan kerja menjadi masalah, jangan kita ketawain, jangan kita sindir, jangan kita nyinyirin, tidak apa-apa,” kata Sandiaga di depan peserta OK OCE Festival di Kinanti Building, Jakarta, Senin (11/3) sore.

Di sisi lain, Sandiaga menegaskan, masyarakat khususnya anak-anak muda harus berinisiatif dalam menciptakan lapangan kerja. Ia menilai, generasi muda Indonesia maunya ‘tangan di atas’ bukan ‘tangan di bawah’. Generasi muda harus diposisikan sebagai pemecah solusi, termasuk dalam persoalan lapangan kerja. Ia lantas menyinggung program kerjanya yang sudah dirintis, One Kecamatan, One Center of Entrepreneurship (OK OCE).

Tentu saja, di tengah tensi politik Pilpres 2019 yang kian memanas dengan narasi saling mengumbar kebencian dan menegasikan antarkubu, komentar Sandiaga tersebut patut diacungi jempol. Komentar positif Sandiaga dalam merespons wacana lawan politik ataupun isu yang tengah menjadi polemik, memang bukan satu kali ini saja. Mantan Wagub DKI Jakarta ini kerap menyuarakan pendapatnya secara santun dan menyejukkan.

Dalam kadar tertentu, Sandiaga justru sering kali memberi imbauan untuk tidak melakukan serangan berlebihan pada pemerintah petahana saat ini. Jelang Asian Games 2018 lalu misalnya, ia melarang lingkaran pendukungnya untuk berkomentar negatif terkait gelaran tersebut.

Hal serupa juga ia lakukan pada kasus gejolak dolar AS terhadap rupiah beberapa waktu lalu. Kala itu, ia meminta politisi untuk shut up atau berdiam diri dan tidak melontarkan kritik berlebihan. Alih-alih melakukan kritik, ia justru mengajak masyarakat membantu pemerintah untuk melepaskan dolar AS yang ada di simpanan mereka.

Ia bahkan meminta pasangannya, Prabowo Subianto, untuk tidak berbicara terlalu keras. Sandiaga menyarankan Prabowo untuk lebih fokus pada isu-isu ekonomi ketimbang melakukan kritik dengan bahasa-bahasa yang keras.

Begitu pula ketika sebagian pendukungnya ‘mencurigai’ netralitas dan profesionalitas kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) serta Bawaslu, Sandi malah meminta masyarakat termasuk pendukungnya untuk berpikir positif terhadap penyelenggara pemilu. “Jadi saya husnuzan saja. Saya berpikir positif karena aura berpikir optimis itu harus lahir dari pikiran-pikiran positif,” kata Sandi.

Di awal-awal memasuki tahapan kampanye, Sandi juga mengingatkan kepada pendukungnya untuk mengingat tiga hal sebelum menyebarkan konten kampanye di medsos. Tiga hal itu adalah melakukan verifikasi, mencari tahu manfaat konten itu, serta memastikan tak ada orang yang tersinggung. Ia bahkan siap melaporkan sendiri timnya yang berkampanye hitam ke pihak yang berwajib.

Tidak sampai di situ, narasi positif Sandi juga ditunjukkan lewat sikapnya yang tenang dan easy going meski di beberapa tempat yang ia kunjungi mendapat ‘penolakan’ dari kelompok Pro-Jokowi. Penolakan itu ditunjukkan dengan menggunakan beberapa baliho kertas yang berisi pesan-pesan yang tidak menginginkan keberadaan Sandiaga di sana. Sebagian besar penolakan terjadi di Jatim, Jateng, dan terakhir di Bali yang jika mengacu pada Pemilu sebelumnya (2014), Jokowi memang unggul dari Prabowo di tiga provinsi itu.

Sandiaga misalnya pernah disambut oleh barisan pendukung Jokowi saat mengunjungi Bojonogero. Pengalaman serupa ia alami ketika ia pergi ke Bondowoso. Kemudian, di Banyuwangi, spanduk bernada dukungan kepada Jokowi sudah lebih dahulu terpampang sebelum Sandi tiba di kota tersebut. Teranyar, Sandi juga mendapat penolakan dari sekelompok orang yang ‘mengklaim’ masyarakat Tabanan, Bali, sehingga ia harus membatalkan kunjungannya ke Pulau Dewata itu. Padahal, kunjungan Sandi ke Tabanan untuk memenuhi undangan masyarakat di sana.

Dengan sikap yang tenang, Sandiaga pun menyatakan respons yang membuat suasana tidak menjadi semakin panas. “Ya oke. Kami bersahabat, kami tidak akan memisahkan. Bapak memilih Pak Jokowi juga enggak apa-apa. Salam untuk Pak Jokowi,” ucap Sandiaga kepada pendukung Jokowi.

Honour of Politics Sandiaga 

Saat ini, Sandiaga boleh jadi menjadi buah bibir utama dalam pesta demokrasi 2019. Nyaris setiap hari namanya disebut dalam peliputan media terkait dengan gelaran tersebut. Ada saja cara dari mantan Ketua Umum HIPMI ini untuk mendapatkan sorotan dari khalayak luas. Mulai dari istilah yang akrab dengan generasi millenial, gaya angsa terbang, hingga daya tarik interpersonal skill-nya. Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, bahkan menyebut Sandiaga Effect telah menenggelamkan Jokowi Effect di Pilpres kali ini.

Dipilihnya Sandiaga, menurut peneliti LSI Adji Alfarabi, membuat elektabilitas Prabowo melonjak di beberapa segmen pemilih: perempuan, pemilih pemula, dan kaum terpelajar. Merujuk hasil survei Alvara Research Center beberapa waktu lalu, Sandiaga bahkan unggul secara kreatifitas politik dengan perolehan 62%, dan Jokowi 59,8%. Sandiaga juga disebut punya gaya komunikasi politik dumbing down, yakni istilah yang tren di Eropa dalam 10 tahun ini untuk menyederhanakan kalimat politik yang sangat serius sehingga mudah dipahami rakyat kebanyakan.

Pemilik nama lengkap Sandiaga Salahuddin Uno ini memang berkampanye secara unik. Tak tampak kampanye di tanah lapang, apalagi di aula dengan mengumpulkan banyak orang. Boleh disebut, ia berkampanye door to door, bertemu sekelompok orang di pasar-pasar tradisional, bercengkerama dengan orang-orang di kampung-kampung, mendengar suara mereka, lalu menyampaikan sesuatu kepada media. Tercatat, Sandiaga telah berkeliling ke sejumlah daerah lebih dari 1.000 titik.

Tata Krama Politik: Cawapres 02 Sandiaga mencium tangan cawapres 01 Kiai Ma’ruf Amin sebelum Debat Capres Pertama beberapa wakrtu lalu.

Namun yang menarik, dari sekadar Sandiaga effect, yakni sikap politiknya yang terpuji. Sebagai pendatang baru di jagat politik dan usianya yang paling muda dibanding ketiga kontestan pilpres lainnya (Prabowo, Jokowi, Ma’ruf Amin), justru tingkat kematangan politiknya dipandang lebih baik. Tak sekalipun Sandi mengeluarkan diksi-diksi negatif dan kontroversial seperti yang ducapkan Jokowi: Sontoloyo, Genderewo; Prabowo: Tampang Boyolali, antek asing; Ma’ruf Amin: budek dan buta. Ia tak ingin meniru gaya menyerang Prabowo, sindiran memukul ala Jokowi, ataupun komentar ‘sekenanya’ khas Maruf Amin.

Kehadiran Sandi seolah menjadi antitesis di antara perilaku para elite politik belakangan yang kerap ‘berkawan’ dengan amarah dan dendam. Sebaliknya, Sandi hendak membangun tradisi kesantunan dan kesejukan dalam berpolitik. “Kemarahan adalah lawan. Kita harus menjunjung harga diri, kehormatan, menelan semua kemarahan itu. Kita junjung demokrasi yang junjung silaturrahim,” kata Sandi saat meluncurkan Prabowo-Sandiaga Digital Team (Pride) di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (6/9).

Berdasarkan kondisi tersebut, strategi kampanye Sandiaga yang menggelorakan kampanye positif bisa saja memberi hasil yang menggembirakan bagi kubunya. Namun dengan syarat, ia perlu secara konsisten bersikap positif terlepas dari apa yang dilakukan oleh tim pemenangannya. Ia perlu menjadi ‘anak baik’ dari berbagai kampanye negatif dan kampanye menyerang yang bahkan dilakukan oleh kader-kader partai yang menjadi pendukungnya, lebih-lebih lawan politiknya.

Kemudian, yang juga penting adalah Sandiaga harus memperhatikan strategi mengalahkan lawan tanpa melukai. Aspek ini kerap kali dilupakan oleh kandidat oposisi yang lebih banyak menyerang kinerja petahana. Padahal, dengan menunjukkan simpati kepada lawan politik yang sedang “terpuruk” atau terbelit polemik, misalnya, selain akan menuai simpatik publik dan mungkin mendapat “bonus” elektoral, juga menunjukan watak Sandiaga yang oleh pujangga kenamaan, William Shakespeare, disebut sebagai honour of politics.

Honour berhubungan dengan integritas seseorang yang biasanya ditunjukkan oleh sifat-sifat seperti keberanian, ksatria dan kejujuran, namun pada saat yang sama juga bisa menunjukkan welas asih. Karena sifat-sifat tersebut, honour seringkali menjadi hal yang integral dengan kualitas seseorang, utamanya lebih kepada etos personal. Maka, sebutan sebagai honourable man (orang yang terhormat) sering disematkan pada orang-orang yang dianggap punya kualitas tersebut.

Di titik itu, para elite sepatutnya memulai berpolitik dengan menyemai watak-watak baik di Pemilu 2019 ini. Saatnya meninggalkan politik bermental predator. Senang melihat rival susah, susah melihat rival senang. Narasi-narasi kedua kubu yang negatif dan tuna-kolektivitas mungkin di satu sisi menjadi keuntungan jika berhasil menguasai wacana. Namun di sisi lain, cara-cara berpolitik seperti itu sesungguhnya tidak disukai publik, bahkan membuat calon pemilih (utamanya massa mengambang) apatis terhadap Pilpres.

Yang perlu dihadirkan untuk memenangkan sebuah kontestasi kekuasaan, sejatinya adalah memenangkan hati dan simpati rakyat lewat sikap-sikap yang terpuji. Dalam konteks ini, tampaknya tidak berlebihan jika gaya berpolitik ala Sandiaga layak diteladani, termasuk oleh politisi tua yang kadung terperosok dalam ‘lembah hitam’ politik elektoral.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here