Episentrum Krisis Utang Global Pindah ke Venezuela

0
150
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyatakan negaranya tidak akan mengalami kebangkrutan. Saat ini Venezuela memiliki utang sebesar US$150 miliar.

Nusantara.news, Jakarta – Dalam waktu 48 jam ke depan, Venezuela akan dinyatakan bangkrut lantaran tak mampu melunasi utangnya senilai US$150 miliar (ekuivalen Rp2.025 triliun). Ancaman gagal bayar (default) utang Venezuela ini dikhawatirkan bisa menjadi picu krisis global.

Episentrum krisis utang yang awalnya ada di Eropa–terutama dialami oleh Portugal, Irlandia, Greece (Yunani) dan Spanyol (PIGS nation)—nampaknya akan bergeser ke Venezuela. Krisis utang Venezuela ini diperkirakan berpotensi memicu kekacauan finansial yang besar di seluruh dunia.

Krisis tersebut terungkap setelah terungkap perusahaan milik negara PDVSA belum melakukan pembayaran hutang tunggal ke produsen minyak utama ONGC selama enam bulan.

Sebelumnya menggunakan bank milik negara Rusia dan perusahaan energi India lainnya sebagai perantara untuk melakukan pembayaran.

Dalam laporan www.expres.co.uk yang bertajuk Venezuela to go BANKRUPT in 48 hours triggering US$60BILLION global financial crisis, terungkap sejak April PDVSA belum melakukan pembayaran ke ONGC yang juga berutang US$540 juta (ekuivalen Rp7,29 triliun) dalam simpanan dividen karena investasi yang dilakukan perusahaan India atas sebuah proyek energi di Venezuela.

Ternyata sampai Juli 2017 total utang swasta dan pemerintah Venezuela sudah mencapai US$150 miliar.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan bahwa seminggu ini negara tersebut berencana untuk merestrukturisasi US$150 miliar obligasi, sebagian besar obligasi tersebut dipegang oleh PDVSA.

ONGC Videsh, sayap investasi luar negeri ONGC, mengungkapkan PDVSA telah jatuh di balik pembayarannya.

Perusahaan India tampaknya cukup tenang tentang kurangnya pembayaran selama setengah tahun dan menyatakan bahwa mereka bersedia memberi Maduro keuntungan dari keraguan tersebut.

Juru bicara ONGC Videsh mengatakan: “Mereka mendapat tantangan tertentu pada tahap ini. Mereka telah meyakinkan bahwa mereka mengerjakannya (pembayaran cicilan). Pada waktunya akan diselesaikan dan langkah tindak lanjut akan dilakukan.”

Meskipun demikian, Venezuela bisa menyatakan kebangkrutan dalam beberapa jam ke depan.

Pembayaran terakhir PDVSA tidak menghasilkan tagihan sebesar US$1,1 miliar pada Jumat lalu.

Siobhan Morden, kepala strategi obligasi Amerika Latin di Nomura, mengatakan: “Belum ada komunikasi resmi mengenai penundaan pembayaran. Sangat aneh bahwa dana belum diterima dengan cukup waktu untuk diproses jika dana tersebut dikirim minggu lalu.” Demikian penjelasan Morden sebagai pejabat yang ditunjuk berkomunikasi soal tagihan utang.

Menurut Bloomberg, Asosiasi Swap dan Derivatif Internasional telah sepakat untuk meninjau permintaan untuk menentukan apakah tahap default telah terjadi karena kurangnya pembayaran.

Bantah bangkrut

Sementara Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyatakan negaranya tidak akan mengalami kebangkrutan. Saat ini Venezuela memiliki utang sebesar US$150 miliar.

“Strategi kami adalah dengan menegosiasikan ulang dan melakukan pembayaran kembali semua utang,” kata Maduro seperti dikutip dari Deutsche Welle, Senin (13/11).

Maduro juga menyebut, Venezuela telah melakukan pembicaraan terkait restrukturisasi utang antara lain dengan China dan Rusia. Negosiasi dengan China, menurut Maduro, berjalan dengan sempurna.

Venezuela memiliki utang sebesar US$28 miliar dengan China dan US$8 miliar dengan Rusia. Dalam 3 tahun terakhir, Rusia memberikan bantuan keuangan sebesar US$10 miliar.

Tahun lalu, perusahaan energi Rusia Rosneft mengambil alih 49,9% saham perusahaan pemurnian minyak Venezuela Citgo.

Tahun ini adalah tahun keempat resesi yang dialami Venezuela. Pasokan makanan menipis, harga melambung tinggi, dan mata uang bolivar anjlok. Inflasi diproyeksikan lebih dari 2.000% pada tahun 2018 mendatang, melonjak dibandingkan 653% pada tahun ini.

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund–IMF) telah menerbitkan peringatan pada awal bulan ini kepada Venezuela lantaran gagal memberikan data ekonomi secara tepat waktu. IMF memberikan tenggat waktu selama 6 bulan bagi Venezuela untuk membenahi masalah statistik ini, atau IMF akan menerbitkan “deklarasi kecaman.”

Namun, Venezuela didukung oleh Rusia yang juga menolak peringatan IMF tersebut. Pekan lalu, Rusia pun setuju merestrukturisasi utang Venezuela sebesar US$3 miliar.

Beberapa analis memandang bahwa sebenarnya Maduro tengah bersiap menghadapi default alias bangkrut. Sebelumnya, ia menyalahkan AS karena kebijakan dan sanksi yang dijatuhkan membuat kondisi Venezuela kian parah.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here