Erick Thohir Jatuh di Lingkaran Jokowi

0
267
Erick Thohir

Nusantara.news, Jakarta – Pemilik Mahaka Group Erick Thohir akhirnya dipilih sebagai Ketua Tim Sukses Jokowi-Ma’ruf Amin. Hal ini diumumkan langsung oleh Joko Widodo (Jokowi) di Posko Pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin di Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (7/9/2018). Tampak Erick Thohir mengenakan baju putih duduk di jajaran depan bersama Jokowi.

“Setelah saya dan Kiai Ma’ruf berkomunikasi dengan ketua umum, sekjen, dan banyak pihak, maka saya mengumumkan Ketua Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (KIK) adalah Bapak Erick Thohir,” ujar Jokowi.

Pada kesempatan itu, Jokowi juga memuji sosok Erick Thohir sebagai pengusaha muda yang sukses: mulai dari media, pemilik klub sepakbola, klub basket, dan lainnya. Apapun yang dipimpin Erick Thohir, kata Jokowi, selalu berakhir dengan sukses.

Namun, apakah kiprah “pemula” Erick di dunia politik akan mendulang kesuksesan yang sama sebagaimana di dunia bisnis?

Kubu Jokowi mengungkankan, penunjukkan Erick bukan soal politik semata, tetapi berkaitan dengan kemampuan manajerial yang bagus. Sebelumnya, Wakil Ketua tim suskes Jokowi-Ma’ruf, Arsul Sani mengatakan, sembilan partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja telah merestui Erick karena dianggap sosok muda potensial, merepresentasikan kaum milenial, juga diterima semua kalangan.

Sejauh ini, titik tekan koalisi Jokowi memilih Erick memang lebih kepada kemampuannya memimpin tim dan menyisipkan ‘packaging’ modern. Dia juga dinilai bisa menambal citra muda milenial Jokowi yang tergerus pasca memilih tokoh sepuh Ma’ruf Amin, sekaligus mengimbangi pesona cawapres rival, Sandiaga Uno, yang kuat di segmen anak muda dan pelaku usaha. Sementara untuk konten-konten politik, kemungkinan Erick akan disuplai dari para petinggi parpol koalisi.

Di atas kertas, Erick sepertinya erlihat cukup memenuhi syarat sebagai seorang kepala tim sukses atau campaign manager sebagaimana yang ditulis Catherine Shaw dalam bukunya, The Campaign Manager: Running dan Winning Election. Shaw menggambarkan bagaimana seorang campaign manager bisa mencapai ksesukesan.

Menurut Shaw, ada beberapa aspek yang membuat manajemen kampanye sukses, antara lain: pembentukan tim, penyampaian pesan, penggalangan dana, media sosial dan digital, serta kampanye berbasis isu. Shaw menyebut sebuah tim kampanye yang sukses harus disupervisi oleh sosok yang kuat, kapabel, punya kemampuan komunikasi, dan juga mudah disukai.

Dalam kadar tertentu, Erick dapat dikatakan sosok kuat, kapabel, dan disukai jika merujuk pada kiprahnya belakangan ini, terutama jika dikaitkan dengan kesuksesan dirinya dalam ‘mengomandoi’ Asian Games 2018. Ia juga menjadi pusat perhatian publik, utamanya kelompok muda dan kelas menengah, usai menghelat pesta olahraga akbar se-Asia itu.

Efek ini membuat Erick dianggap bisa menggarap pasar dua kelompok itu, terlebih namanya menjadi cukup harum di kalangan pemilih tersebut. Asian Games juga menjadi bukti kepiawaianya dalam urusan managerial dan mencari fulus.

Jokowi bersama koalisinya saat mengumumkan Erick Thohir (kiri depan) sebagai Ketua Tim Sukses Jokowi-Ma’ruf Amin (7/9)

Kekuatan lainnya, sebagai taipan media, Erick juga dapat dikatakan cukup lihai dalam hal pengelolaan iklan dan pencitraan media untuk kampanye. Secara khusus, ia bisa mengerahkan media-media miliknya, seperti Republika, untuk berkampanye. Dalam konteks ini, boleh jadi Erick memiliki keahlian dari segi komunikasi. Namun yang menarik, apakah Republika yang selama ini kerap dianggap berseberangan dengan Jokowi karena pemberitaannya, akan mengubah pemberitaannya selepas ‘tuannya’ berlabuh ke tim Jokowi-Ma’ruf?

Lebih jauh, bergabungnya Erick, seakan menambah daftar para penguasa media di barisan Jokowi seperti Surya Paloh (Metro TV dan Media Indonesia), Hary Tanoesoedibjo (MNC Group), Yendi Hendriyana (Pemimpin Redaksi iNews Tv), dan Aburizal Bakrie (Viva Group dan TV One). Khusus Aburizal Bakrie, meski sebagai petinggi di partai Golkar yang berkoalisi dengan Jokowi, namun sejauh ini tak membawa media miliknya itu sebagai corong sang petahana.

Tampaknya, Jokowi dan tim menyadari pentingnya media sebagai alat pemoles paling ampuh melambungkan citranya sekaligus melumpuhkan lawan. Di titik ini, independensi jurnalis dipertaruhkan.

Meski begitu, kelemahan Erick yang tak punya background dan keahlian politik, akan sangat sulit membentuk tim. Ia akan terkendala dengan komposisi tim yang sudah lebih dulu terbentuk sebelum ia masuk sehingga tak punya ruang kreativitas untuk mendandani tim secara leluasa. Belum lagi jika berhadapan dengan berbagai kepentingan dan ego-politik dari para “pemain kakap” di koalisi partai pengusung.

Boleh jadi, kesuksesan mengolah Asian Games yang diisi para profesional dan orang-orang kreatif, tak berlaku dalam mengelola tim politik. Pun, kesediaanya terjun ke laga politik menimbulkan kesan seorang yang pragmatis: ada kalkulasi bisnis di jangka panjang.

Di luar itu, riwayat panjang kedekatannya dengan Sandiaga Uno, membuat Erick sedikit mengabaikan persahabatan dan kemitraan bisnisnya dengan cawapres Prabowo tersebut. Memilih bersekutu dengan lawan politik sahabatnya itu, juga barangkali akan memunculkan pandangan kurang simpatik dari publik.

Sandiaga sendiri tampak tak kuasa berkata-kata saat pewarta meminta komentarnya perihal Erick menjadi ketua juru taktik tim Jokowi. Ia mengenang kebersamaannya dengan Erick karena memang sama-sama dibesarkan secara bisnis di bawah mentor William Soeryadjaya, pendiri Astra Group. Siapa pun, terutama Sandiaga, sulit membayangkan keduanya harus terpisah secara politik.

Riwayat Bisnis Erick Thohir

Erick Thohir lahir di Jakarta, 30 Mei 1970. Pada tahun 1993, Erick lulus program Master of Business Administration dari Universitas Nasional California, Amerika Serikat. Sebelumnya, ia memperoleh gelar sarjana dari Glendale University. Sekembalinya ke Indonesia, Erick meneruskan bisnis ayahnya di bidang restoran, yakni Hanamasa dan Pronto.

Ia memulai bisnisnya sendiri di bidang media pada 1993 dengan mendirikan Grup Mahaka. Grup Mahaka mengakuisisi Harian Republika pada 2001 yang saat itu didera krisis ekonomi. Selain Republika, Erick juga adalah pemilik Jak TV dan beberapa radio, seperti Gen FM, Delta FM, dan Female Radio. Ia juga adalah pemegang saham minoritas di TVOne.

Dari perusahaan media, bisnis Erick melebar ke dunia olahraga dengan membeli saham mayoritas klub sepak bola Inter Milan dari Massimo Moratti pada 2013. Namun, pada 2016 ia menjual sebagian saham Inter Milan ke perusahaan China, Suning Group. Kiprah Erick sebagai pebisnis di bidang olahraga makin moncer setelah menjadi orang Asia pertama yang memiliki Tim Basket NBA, Philadelphia 76ers.

Erick Thohir juga menduduki kursi penting di ajang olahraga internasional. Ia adalah Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia. Belakangan, ia juga dipercaya menjadi Ketua Panitia Asian Games Jakarta-Palembang 2018 (Inasgoc) yang baru saja ditutup 2 September lalu. Ajang olahraga terbesar se-Asia tersebut sukses dan mendapat pujian dari banyak kalangan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here