Ernest Douwes Dekker, Nasionalis Indo yang Menolak Tunduk

0
1016

Nusantara.news, Jakarta – Terlahir sebagai warga peranakan bukan penghalang menjadi seorang nasionalis. Contohnya Ernest François Eugène Douwes Dekker (umumnya dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi), pahlawan nasional keturunan Indo-Eropa (Indis). Di tubuhnya mengalir darah Belanda, Prancis, Jerman, dan Jawa, tapi semangat nasionalismenya begitu menggelora melebihi sebagian bumiputra. Pemerintah kolonial Belanda memberinya cap berbahaya: “Pembuat onar yang anti-Belanda”.

Menurut Margono Djojohadikoesoemo, Douwes Dekker adalah salah seorang Indo yang menentang penggunaan istilah “Inlander” bagi pribumi. Inlander berarti budak atau warga kelas rendah. Dalam sebuah pidato, ia mempertanyakan hukum kolonial yang diskriminatif terhadap kaum pribumi.

“Mengapa menurut undang-undang itu saya dimasukkan dalam golongan Eropa, hanya karena saya bernama Douwes Dekker? Tetapi saya dilahirkan di sini, mendapat sesuap nasi di sini, dan juga tidak ada yang lebih saya senangi selain dikubur di sini, di bawah pohon palem,” ujar Douwes Dekker, sebagaimana dikutip dalam buku E.F.E. Douwes Dekker (1975).

Kritik pertamanya terhadap Belanda tercatat di sebuah tulisan berjudul “Cara Bagaimana Belanda Paling Cepat Kehilangan Tanah Jajahannya?” yang dimuat dalam Nieuwe Arnhemsche Courant pada 1908. Dia mengingatkan pemerintah kolonial agar memerhatikan penderitaan rakyat, ketidakadilan sosial, diskriminasi ras, penyelewengan kekuasan, dan nasib yang diterima golongan Indo.

Douwes Dekker juga menguliahi Nederland dengan mengatakan bahwa yang perlu diberikan kepada Hindia Belanda adalah hak pemerintahan sendiri bagi penduduk Hindia. Hanya penduduk Hindia yang paling tahu apa yang dibutuhan dan perlu dilakukan.

Karena itu, dialah yang pertama kali menyerukan semboyan “Indie los van Holland” (Indonesia lepas dari negeri Belanda). Ia pula yang mengajak kaum Indo-Eropa untuk tidak lagi menyebut diri sebagai orang Eropa. “Ik ben Indisch, Ik ben Indonesier! Aku seorang Indo, aku bangsa Indonesia,” seru Douwes Dekker.

Jiwa patriotismenya ini melanjutkan semangat seorang pengeritik kolonialisme Belanda yang terkenal, Edward Douwes Dekker alias Multatuli, pengarang buku Max Havelaar, yang memiliki pertalian keluarga dengan Ernest Douwes Dekker sebagai adik dari kakeknya.

Ernest Douwes Dekker lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 8 Oktober 1879. Ayahnya, Auguste Douwes Dekker keturunan kreol (Eropa murni). Sementara ibunya, Louisa Margaretha Neumann, berdarah Jerman-Jawa. Politik kolonial memberikan previlise bagi kaum Indis untuk mengidentikkan diri sebagai golongan Belanda yang secara hierarki berada di atas golongan lainnya. Akan tetapi, ia lebih memilih hidup dan mati untuk Indonesia yang kala itu masih bernama Hindia Belanda.

Harga untuk ‘menjadi Indonesia’ memang harus dibayar mahal Douwes Dekker. Dia berulangkali ditangkap, dipenjarakan, disiksa, dan diasingkan di dalam dan luar negeri. Namun, panggilan Ibu Pertiwi selalu saja membuatnya berjuang mencari jalan untuk pulang ke Tanah Air.

Di hadapkan pada berbagai bentuk diskriminasi kolonial Belanda, baik terhadap golongan pribumi maupun Indo, ia mengobarkan semangat kemajuan dan persatuan baik bagi kaum pribumi maupun keturunan. Pada awal 1900-an, rumah Douwes Dekker yang terletak di dekat sekolah STOVIA menjadi tempat berkumpul para perintis gerakan kebangkitan nasional Indonesia, seperti Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soetomo, untuk belajar dan berdiskusi. Ia juga salah seorang yang membantu kelahiran Budi Utomo, bahkan menghadiri kongres pertamanya di Yogyakarta.

Selanjutnya, karena kecewa pada Budi Utomo yang didominasi kaum priyayi dan terlalu moderat, ia bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hadjar Dewantara yang kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”, mendirikan partai politik modern pertama di Indonesia: lndische Partij. Melalui partai ini, ia tampil sebagai inspirator revolusi. Tur propagandanya menginspirasi Tjokroaminoto dalam menghimpun massa. Bung Karno, bahkan pernah menyebut dirinya berguru kepada Douwes Dekker tentang gagasan revolusi Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, Ernest Douwes Dekker atau biasa dipanggil “Nest”, mengganti namanya menjadi Danudirja Setiabudi. Nama tersebut merupakan pemberian dari Bung Karno. Kata “Danu” berarti benteng, “Dirjo” artinya kuat dan tangguh, sedangkan kata “Setiabudi” artinya berbudi setia. Selama masa pergerakan kemerdekaan, Dr. Danudirja Setiabudi lebih akrap dipanggil dengan sebutan “DD”, yang merupakan kepanjangan Douwes Dekker. Namun setelah Soekarno mengganti namanya tersebut, panggilan “DD” ini dikenal dengan singkatan dari Danu Dirjo.

Perintis Partai Politik Modern Pertama

Partai politik yang mula-mula lahir dari rahim Bumi Nusantara pada dasawarsa kedua abad ke-20 adalah Sarekat Islam dan Indische Partij. Sama-sama berdiri pada 1912: Sarekat Islam dipimpin HOS Tjokroaminoto dan kawan-kawan, sedangkan Indische Partij didirikan oleh tiga serangkai yaitu Ernest Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat/Ki Hadjar Dewantara.

Tiga Serangkai: Ernest Douwes Dekker (tengah), Tjipto Mangoenkoesoemo (kanan) dan Soewardi Soerjaningrat/Ki Hadjar Dewantara (kiri).

Berbeda dengan Sarekat Islam yang tidak secara terang menyebutnya partai politik, maka Indische Partij sejak awal mendeklarasikan dirinya sebagai partai politik. Kelahirannya didasarkan pandangan nasionalisme Douwes Dekker yang menekankan persatuan dan kesatuan di antara segenap rakyat Hindia untuk mencapai kemerdekaan. Keyakinannya itu dikemukakan dalam pidatonya di dalam rapat Indische Bond (suatu perkumpulan bangsa Eropa yang bertujuan untuk memperhatikan nasib bangsa Indo) pada 12 Desember 1911 di Jakarta.

Douwes Dekker mengatakan, bangsa Indo sangat sedikit, sehingga tidak mungkin memperoleh kemenangan apabila hanya bertindak seorang diri. Salah satu syarat untuk mendapatkan kemenangan di dalam pertentangan dengan penjajah Belanda adalah dengan menggabungkan diri kepada bangsa Indonesia, dan berjuang bersama-sama mereka dengan membentuk suatu partai politik. Dari sini lahir Indische Partij yang didirikan di Bandung pada 25 Desember 1912.

Berdirinya Indische Partij ini sekaligus menandai berakhirnya masa organisasi kedaerahan, dan munculnya organisasi politik modern berpaham kebangsaan yang disebut Indishce nationalism dengan tidak membedakan keturunan, suku bangsa, agama, dan kebudayaan. Sebab, cita-cita Indische Partij memang ingin menyatukan semua golongan yang ada di Indonesia, baik golongan Indonesia asli maupun golongan Indo, Cina, Arab, dan sebagainya.

Pada 25 Desember 1912, Douwes Dekker mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar Indische Partij mendapat pengesahan sebagai partai politik, tetapi ditolak. Bahkan hingga tiga kali pengajuan, Douwes Dekker tetap ditolak. Alasan penolakan karena organisasi ini dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat, serta dianggap melanggar peraturan pasal 111 Regerings-Reglement (RR) yang berbunyi: “Bahwa perkumpulan-perkumpulan atau persidangan-persidangan yang membicarakan soal pemerintahan (politik) atau membahayakan keamanan umum dilarang di Hindia Belanda”.

Meski ditolak, Douwes Dekker bersama tokoh tiga serangkai lainnya tetap melakukan tur propaganda keliling Jawa mengenalkan Indische Partij sekaligus memberikan penyadaran berpolitik bagi rakyat. Atas propagandanya itu, tindak-tanduk ketiga tokoh pendiri Indische Partij selalu diawasi pemerintah kolonial.

Tindakan-tindakan ini bermula pada 21 – 23 Maret 1913, ketika Suwardi Suryaningrat melancarkan kritik terhadap rencana 100 tahun perayaan kemerdekaan Belanda dari penjajahan Perancis yang secara ironis hendak menarik uang dari rakyat jajahan (bangsa Indonesia) untuk membiayai pesta perayaan tersebut. Kritik Soewardi dikemukakan melalui tulisannya di harian De Express milik Douwes Dekker yang terkenal berjudul “Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda)” dan “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga)”.

Kritik Soewardi itu berbuntut penangkapan dirinya. Ia dibuang ke pulang Bangka. Tokoh tiga serangkai lainnya, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, berusaha membelanya dengan menulis di majalah Indische Partij yang bernama Het Tijdschift dan De Express, dengan judul “Kekuatan atau Ketakutan”. Setelah tulisan Tjipto Mangoenkoesoemo tersebut beredar di majalah dan juga di harian itu, maka tidak lama kemudian Tjipto juga ditangkap dan diasingkan ke Pulau Banda.

Sementara itu, Douwes Dekker yang notabenya orang terdekat keduanya sangat terpukul atas ditangkapnya kedua tokoh Indische Partij tersebut. Dengan tegas dan lantang Douwes Dekker mengkritisi pemerintah Belanda dalam tulisannya yang berjudul “Onze Helden: Tjipto Mangoenkoesoemo en Soewardi Soerjaningrat (Pahlawan kita: Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat”. Karena tulisan ini pula Douwes Dekker ikut ditangkap dan diasingkan ke Nusa Tenggara Barat.

Setelah tiga serangkai diasingkan, Indische Partij pun dibubarkan Belanda. Namun, di usianya yang singkat itu, Indische Partij meniupkan napas panjang bagi aksi pergerakan setelah itu. Pasca-Indische Partij dibubarkan, justru memicu lahirnya partai-partai politik baru, antara lain: Indische Social Democratische Vereniging (ISDV), Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Indonesia, Partai Indonesia Raya (Parindra), Patai Serekat Islam (PSI), Partai Katolik, dan lain-lain.

Dari Pengasingan ke Pengasingan

Setelah mengenyam pendidikan di Hoogere Burger Scholl Batavia pada 1897, Douwes Dekker memulai karier sebagai seorang pegawai pada perkebunan kopi Sumber Duren di kaki Gunung Semeru. Realitas eksploitasi kolonial memantik hatinya untuk memihak kaum pribumi yang dirugikan bahkan tertindas dengan sistem yang diterapkan. Douwes Dekker terpaksa harus diberhentikan dari pekerjaannya.

Pun demikian ketika ia pindah kerja menjadi seorang ahli kimia di Pabrik Gula Pajarakan, Probolinggo. Pembagian air irigasi yang tak adil dan merata bagi penduduk cukup untuk memantapkan hatinya, ia memilih mengundurkan diri.

Tak lama setelah itu, dia memutuskan untuk merantau ke luar negeri. Selama dalam perantauannya di Afrika, Douwes Dekker sempat terlibat dalam Perang Boer melawan Inggris 1899. Karena kalah perang, ia tertangkap lalu dipenjara di suatu kamp di Ceylon.

Di sana ia mulai berkenalan dengan sastra India, dan perlahan-lahan pemikirannya mulai terbuka akan perlakuan tidak adil pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap warganya. Pada tahun 1902, ia kembali ke Hindia Belanda guna merintis karier di bidang jurnalisme dan politik.

Sebagai penulis, wartawan, aktivis politik, dan pendidik yang lantang menentang kolonialisme, Douwes Dekker berulangkali ditangkap dan diasingkan. Pembuangan pertama terjadi pada 1913 ke Negeri Belanda, bersama Tjipto dan Soewardi, karena mengeritik perayaan kemerdekaan Belanda di tengah penderitaan rakyat jajahan.

Sekembalinya di Tanah Air pada 1918, ia ditangkap lagi oleh Belanda pada 1919 karena dianggap memprovokasi gerakan buruh di perkebunan Polanharjo, Klaten. Selepas penangkapan, ia hijrah dari Semarang ke Sukabumi, lantas menetap di Bandung sejak 1922 untuk berperan sebagai pendidik yang mengobarkan semangat patriotisme, dengan mendirikan Ksatrian Instituut, yang menjadi mitra sehaluan dengan Perguruan Taman Siswa (pimpinan Soewardi/Ki Hadjar Dewantara).

Douwes Dekker kembali mengalami represi karena menulis materi sejarah yang antikolonial untuk siswa-siswa Ksatrian Instituut. Tahun 1933 seluruh buku semi-ilmiah karya Douwes Dekker disita Karesidenan Bandung dan dibakar. Douwes Dekker dikenai larangan mengajar. Pada 1941, ia kembali ditangkap dengan tuduhan menjadi kaki tangan Jepang, lantas dipenjarakan di Ngawi, Magelang, dan Madiun.

Pada 1942, ia dibuang kembali ke Suriname melalui Belanda. Kondisi kehidupan di kamp sangat memprihatinkan, sampai-sampai Douwes Dekker yang waktu itu sudah memasuki usia 60-an, sempat kehilangan kemampuan melihat. Ironisnya, istrinya yang bernama Johanna Petronella Mossel (guru dan tenaga administrasi Ksatrian Instituut) mengkhianatinya karena menikah lagi dengan Djafar Kartodiredjo, juga seorang guru Ksatrian Instituut, tanpa pemberitahuan kepada Douwes Dekker (nantinya mereka baru resmi bercerai 1947).

Ernest Douwes Dekker di masa tuanya bersama istri keduanya yang berasal dari Sumatera Utara. Istri pertama Douwes Dekker menikah lagi saat ia dalam pengasingan

Pada tahun 21 Januari 1947, melalui perjuangan yang berat, Douwes Dekker berhasil kembali ke Indonesia. Ia menyelundup dengan nama samaran: Radjiman. Ia langsung bertemu dengan Bung Karno. Sukarno menyambut kedatangannya dengan pelukan erat dan sapaan hangat, “Selamat datang, Nest.”

Ernest menjawab dengan berseloroh, “Saya gembira bahwa pada hari tua saya dapat kembali di antara saudara-saudara untuk menawarkan jasa saya kepada Republik, kendati sebagai prajurit biasa. Sebab saya adalah seorang penembak jitu”.

Di kabinet Sjahrir, Douwes Dekker sempat menjadi salah seorang menteri pendidikan. Ia juga pernah menjadi penasehat Presiden, sekretaris politik Perdana Menteri, anggota Dewan Pertimbangan Agung, dan pengajar di Akademi Ilmu Politik di Yogjakarta. Pada saat agresi militer Belanda, hampir semua pemimpin Republik ditangkap, termasuk Douwes Dekker.

Dari rumah tahanan, Douwes Dekker dikirim kembali ke Bandung dalam keadaan kurang sehat, menempati rumah yang sudah reot di jalan Lembang no. 401. Setiap hari minggu di muka rumahnya beliau mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih dengan megahnya untuk mengejek orang-orang Belanda yang plesiran ke Lembang.

Pada 28 Agustus 1950, Ernest Douwes Dekker menghembuskan nafas yang terakhir, ia dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung. Atas jasa-jasanya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahi gelar kepada Dr. Danudirja Setiabudi alias Ernest Douwes Dekker sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 9 Nopember 1961.

Berkaca pada Douwes Dekker, nasionalisme orang Indo ini justru tak pernah luntur sekalipun ditangkap dan diasingkan berkali-kali. Jiwa Indonesianya tak pernah tergadai meski kesempatan untuk memilih menjadi warga Eropa yang bergelimang harta dan kesenangan begitu mudah jika ia mau. Jalan hidupnya telah ia habiskan untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sementara di kutub lain, hari ini, ada banyak anak bangsa sendiri dan mengaku paling Pancasilais, namun tak pernah mengerti cara merawat dan mencintai negaranya. Pun, demikian dengan sejumlah elite negeri ini. Mereka rela menjual kedaulatan tanah air, menukar nasionalismenya karena menghamba kepada uang dan orang asing.

Jika bapak bangsa yang berdarah indo saja sebegitu kuat nasionalismenya, apalagi kita yang Indonesia tulen. Seharusnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here