Esensi Berkurban

0
50

SHALATLAH karena Rabb-mu dan berkurbanlah.” (QS Al Kautsar:2). Kurban yang dilakukan sebagian umat Islam pada hari ini, Hari Raya Idul Adha, adalah perintah, karena Allah dalam ayat di atas menggunakan kata perintah (fi’il amr). Perintah tentu saja hanya berlaku bagi yang mampu menjalankan perintah tersebut.

Menerima dan melaksanakan perintah adalah pengakuan eksistensial secara total: Bahwa kita adalah yang diperintah dan Dia yang Maha Memerintah. Kita adalah hamba, dan Dia adalah Rabb.

Pengenalan diri tertinggi seorang manusia adalah manakala dia mengenali dirinya sebagai hamba, abdi, budak Allah. Jika kita sampai pada pengenalan eksistensial itu, kita akan mengenal Allah sebagai Pemilik Segala Sesuatu. Hadits qudsy mengatakan, “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”, siapa yang mengenali dirinya niscaya dia akan mengenali Tuhannya.

Kalau kita adalah abdi, hamba, budak Allah, maka semua perbuatan kita berada dalam koridor “karena Allah”. Karena sejatinya, hamba tak punya apa-apa, bahkan daya sekalipun. Bukankah, La Haula wa La Quwwata illa billah (Tiada daya dan upaya melainkan karena Allah)?

Kalau hanya Allah yang memiliki daya, berarti kita tidak berdaya. Kalau hanya Allah yang punya kekuatan, itu artinya kita tidak punya kuasa.

Kalau hanya Allah yang mengatur, memelihara, melindungi dan memberi karunia bagi seluruh alam semesta, itu bermakna bahwa kita tidak punya apa-apa, karena semuanya milik Allah. Setelah mengetahui itu, kita akan sampai pada kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang tidak mempunyai daya dan kuasa apa pun

Maka menjalankan perintah Allah, termasuk berkurban, mesti dilakukan dalam status ketidakberdayaan sebagai hamba, bukan dalam status keakuan diri. Kalau engkau berbuat dalam status keakuanmu, bahwa sesuatu bisa terwujud karena kemampuan dirimu, maka itu berarti kamu sudah keluar dari kedudukanmu sebagai hamba. Engkau sudah mempertuhankan dirimu sendiri. Itu berarti (secara sadar maupun tidak) kamu telah mengenyampingkan Allah dan menciptakan tuhan baru selain Dia.

Misalnya, ketika selesai menyembelih hewan kurban, dan engkau merasa bahagia karena telah mampu melaksanakan perintah Allah, tapi engkau lupa bahwa Allah yang memberikan kemampuan itu untukmu, itu artinya engkau sudah meniadakan Tuhan dalam tindakanmu.

Tatkala membagikan daging kurban untuk dinikmati orang lain, lakukanlah sebagai budak Allah, karena engkau meyakini sesungguhnya hanya Allah jua yang menggerakkan hati dan tanganmu,  hanya Allah yang mampu mengikhlaskan hatimu, dan engkau sadar bahwa daging itu juga milik Allah yang dikaruniakan kepadamu sebagai rezeki.

Jika demikian, Insya Allah, kita mencapai esensi berkurban.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here