Gempita Divestasi Saham Freeport

Euforia Pengambilalihan 51% Saham Freeport Yang Inferior Itu

0
89
Para pihak terkait head of agreement (HoA) divestasi saham Freeport McMoRan Inc. dengan Inalum dan para menteri serta gubernur dan bupati terkait.

Nusantara.news, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati boleh sumringah karena telah ditandatanganinya pokok-pokok perjanjian antara PT Inalum (Persero) dengan Freeport McMoRan Inc dan rio Tinto terkait divestasi saham

Inalum (PT Indonesia Asahan Alumunium) sebagai holding industri pertambangan, telah menandatangani pokok-pokok perjanjian atau perjanjian payung (head of agreement–HoA) dengan Freeport dan Rio Tinto, yakni terkait penjualan saham Freeport dan hak partisipasi Rio Tinto di PT Freeport Indonesia (PTFI) ke Inalum. Kepemilikan Inalum di PTFI setelah penjualan saham dan hak tersebut menjadi sebesar 51% dari semula 9,36%.

Penandatanganan tersebut disaksikan Menkeu Sri Mulyani, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri ESDM Ignasius Jonan, dan disaksikan seluruh direksi ketiga korporasi besar tersebut kemarin.

Pokok-pokok perjanjian ini selaras dengan kesepakatan pada tanggal 12 Januari 2018 antara Pemerintah Indonesia, Pemerintah Provinsi Papua, dan Pennerintah Kabupaten Mimika, dimana pemerintah daerah akan mendapatkan saham sebesar 10% dari kepemilikan saham PTFI.

Dalam perjanjian tersebut, Inalum akan mengeluarkan dana sebesar US$3,85 miliar (ekuivalen Rp55,45 triliun) untuk membeli hak partisipasi Rio Tinto di PTFI dan 100% saham Freeport di PT Indocopper Investama, yang memiliki 9,36% saham di PTFI. Para pihak akan menyelesaikan perjanjian jual beli ini sebelum akhir tahun 2018.

Sri Mulyani menyatakan “Pemerintah berkomitmen untuk menjaga iklim investasi yang kondusif untuk memberikan kepastian kepada investor yang berinvestasi di Indonesia.”

Dengan ditandatanganinya pokok-pokok perjanjian ini, menurut Menkeu, kerjasama Freeport dan Inalum diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan nilai tambah industri ekstraktif ke depan serta memberi nilai kemakmuran bagi masyarakat Indonesia.

Sementara Menteri BUMN Rini Soemarno menyatakan BUMN memiliki kepedulian, komitmen dan dedikasi yang tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. Sejalan dengan fungsi BUMN sebagai agen pembangunan, BUMN akan menjadi ujung tombak proses hilirisasi industri pertambangan Indonesia guna memberi nilai tambah maksimal bagi masyarakat, termasuk menjalankan usaha pertambangan secara profesional dan bertanggungjawab berlandaskan prinsip good corporate governance (GCG).

Menteri ESDM Ignasius Jonan berpendapat, dengan ditandatanganinya perjanjian ini maka keseluruhan kesepakatan dengan Freeport yang meliputi divestasi 51% saham, perubahan dari Kontrak Karya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), telah dapat diselesaikan, termasuk komitmen pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian. Oleh sebab itu PTFI mendapatkan perpanjangan Il-JPK Operasi Produksi maksimal 2X10 tahun.

“Kami harapkan nilai tambah komoditi tembaga dapat terus ditingkatkan melalui pembangunan pabrik peleburan tembaga berkapasitas 2 hingga 2,6 juta ton per tahun dalam waktu 5 tahun,” demikian Jonan.

Sedangkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menambahkan, melalui penguasaan saham mayoritas PTFI oleh Inalum, pemerintah mengharapkan kualitas terhadap pengelolaan lingkungan di area tambang PTFI terus ditingkatkan. Ia meyakini bahwa PTFI sebagai salah satu pengelola tambang terbesar di dunia, akan mampu menjaga aspek keberlanjutan dari lingkungan terdampak area tambang.

Berdasarkan laporan keuangan 2017 yang telah diaudit, PTFI membukukan pendapatan sebesar US$4,44 miliar, naik dari US$3,29 miliar di tahun 2016. Perusahaan juga membukukan laba bersih sebesar US$1,28 miliar, naik dari US$579 juta.

PTFI memiliki cadangan terbukti (proven) dan cadangan terkira (probable) untuk tembaga sebesar 38,8 miliar pound, emas sebesar 33,9 juta toz (troy ounce) dan perak sebesar 153,1 juta toz.

Sementara itu pada tahun 2017 INALUM membukukan pendapatan sebesar US$3,5 miliar dengan laba bersih konsolidasi mencapai US$508 juta.

Holding industri pertambangan Inalum juga tercatat memiliki sumber daya dan cadangan nikel sebesar 739 juta ton, bauksit 613 juta ton, timah 1 ,1 juta ton, batubara 11,5 miliar ton, mas 1,6 juta toz dan Perak sebesar 16,2 juta toz.

Tentu saja euforia divestasi 51% saham Freeport ini sebuah langkah cerdas sekaligus mencemaskan. Karena bisa saja ini dianggap prestasi selama 50 tahun PTFI dikangkangi Freeport, kini menjadi hal Inalum, BUMN yang 100% sahamnya milik Pemerintah Indonesia.

Situasi ini bisa dinyatakan cerdas bila daging dan lemak PTFI masih banyak, tapi kalau tersisa tulang belulang, apalagi beban kewajiban membangun smelter dan tunggakan denda atas pelanggaran Amdal di masa lalu, tentu saja proses ini dapat dikatakan proses negosiasi yang inferior.

Tapi yang sudah pasti, tanpa melihat detil transaksi, yang dapat poin adalah Presiden Jokowi. Euforia ini lumayan gurih untuk mengangkat citra Jokowi dalam menghadapi Pilpres 2019. Tapi kalau didetilkan, alih-alih mendapat citra positif, bisa saja justru sebaliknya menjadi citra yang buruk.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here