Facebook Tak Menegur Saat Data Penggunanya Diunduh

0
70
Ilustrasi

Nusantara.news, Jakarta – Aleksandr Kogan secara akademis memang top. Usianya baru 28 tahun. Tapi sudah menyandang gelar profesor psikologi di Cambridge University, London. Bukan itu saja, dia juga membuat aplikasi kuis kepribadian di platform Facebook yang memungkinkannya memanen data sekitar 52 juta akun pengguna Facebook.

Tidak mengherankan apabila lembaga konsultan politik “ Cambridge Analytica” merekrutnya untuk kepentingan perusahaan. Meskipun mengaku menyesal telah mencuri data, Kogan membela dirinya saat diwawancarai presenter acara “60 Minute” pada hari Ahad Pahing (22/4).

Logo acara “60 Minutes”

Dalam pembelaannya Kogan menjelaskan dirinya sangat terbuka tentang bagaimana informasi akan digunakan. Faktanya, Kogan merasa tidak pernah mendengar kata “keberatan” dari pengelola Facebook.

Kambing Hitam

Kini posisi Kogan terjepit. Tampaknya dia akan disembelih sebagai “kambing hitam” – baik oleh Facebook maupun Cambridge Analytica – atas pencurian data pribadi pengguna akun Facebook secara besar-besaran di Amerika Serikat (AS) pada tahun 2014. Kogan pun menyesal atas perannya dalam pencurian data itu.

“Saat itu saya pikir baik-baik saja. Tapi sekarang ini pendapat pribadi saya sudah benar-benar berubah,” papar Kogan. “Saya pikir gagasan inti yang kami miliki – semua orang tahu, dan tidak ada yang peduli (dan mengingatkan bahwa) itu salah.”

Setelah skandal pengumpulan data yang diduga dilakukan oleh Cambridge Analytica terbongkar bulan lalu oleh The New York Times – Facebook sebagai perusahaan raksasa dunia dan Cambridge Analytica yang mengklaim memenangkan Donald J Trump menjadi presiden AS – kini kedua perusahaan itu berada dalam pengawasan ketat dan tampaknya ingin melemparkan semua kesalahan kepada Kogan.

Kedua perusahaan itu mengatakan Kogan telah melakukan penyesatan kepada pemilik akun Facebook tentang bagaimana informasi dikumpulkan dan digunakan untuk kepentingan suatu perusahaan tanpa diketahui oleh pemilik akun yang dicuri. Facebook bahkan telah menghukum Kogan untuk tidak “menjamah”media sosial yang dikelolanya – bahkan telah menutup akunnya.

Namun dalam wawancara ekstensif pertamanya – sejak laporan The New York Times – Kogan bersikeras dia telah bersikap terbuka tentang pengembangan aplikasinya di Facebook yang digunakan untuk memanen data, dan ketika itu tidak ada yang peduli dengan tindakannya – termasuk dari pihak Facebook itu sendiri.

“Kepercayaan di lembah silikon (Silicon Valley – pusat teknologi informasi terkemuka di Amerika Serikat) dan tentu saja keyakinan kami pada saat itu adalah bahwa masyarakat umum harus menyadari data-data pribadi mereka sedang dijual, dibagikan dan digunakan untuk beriklan kepada mereka,” terang Kogan dalam sebuah wawancara selama 60 menit di hari Ahad Pahing kemarin lusa.

Aleksandr Kogan

Ternyata Cambridge Analytica didirikan oleh Stephen K Bannon – orang kepercayaan Trump – dan Robert Mercer – donator Partai Republik yang kaya raya. Kiprah perusahaan yang tampaknya dipersiapkan untuk kampanye Trump ini menjadi terkenal karena mengklaim turut serta memenangkan Trump dan kandidat-kandidat dari Partai Republik.

Perusahaan yang berbasis di London itu mengklaim telah mengembangkan alat analisis yang dapat mengidentifikasi kepribadian pemilih AS dan mempengaruhi perilaku mereka – dan data Facebook telah digunakan untuk membantu menciptakan apa yang dia sebut “teknik permodelan psikografi”.

Teknik ini telah menjadi bahan perdebatan oleh akademisi dan perusahaan konsultan politik lainnya, dan Cambridge Analytica sejak itu bersikeras membantah data Facebook tidak pernah digunakan oleh perusahaannya.

Tak Pernah Ditegur

Kogan dipekerjakan dengan sistem kontrak oleh Cambridge Analytica pada bulan Juni 2014 – bulan yang sama dengan akte pendirian perusahaan – dan memanen data sepanjang musim panas melalui aplikasi “kuis kepribadian”di Facebook yang memungkinkan mengambil data pribadi lewat kuesioner yang ditawarkan kepada pengguna Facebook.

Kuesioner itu sebenarnya tidak ada di Facebook – ini diselenggarakan oleh perusahaan bernama Qualtrics – yang menyediakan platform untuk survei online.

Responden diminta memberikan otorisasi akses ke profil Facebook mereka – dan ketika mereka melakukannya, aplikasi yang dibuat Kogan melaksanakan satu-satunya fungsi – yaitu memanen data pengguna dan semua teman Facebook mereka. Nama-nama mereka, tanggal lahir dan data lokasi, serta daftar dari setiap halaman Facebook yang mereka sukai diunduh tanpa sepengetahuan pemilik akun – atau melalui izin secara tertulis.

Facebook menegaskan dalam pembelaannya, mereka yang mengambil data lewat kuis diberitahu apabila data yang diambil semata-mata untuk kepentingan akademis, itulah yang disebut oleh Facebook sebagai “penyesatan”kepada pengguna akun media sosialnya – baik oleh Cambridge Analytica maupun Kogan. Namun Cambridge Analytica juga membantah, data yang diterima dari Kogan telah memenuhi peraturan yang ada dalam platform Facebook itu sendiri.

Mengutip laporan majalah The Times bulan lalu dutemukan disain grafis bagus yang menyertai kuesioner yang dibuat Kogan – ada pernyataan dari Kogan kepada pengguna Facebook bahwa data mereka dapat digunakan untuk tujuan komersial. Pernyataan itu sebenarnya melanggar aturan Facebook saat itu. Sayangnya, facebook tidak melakuan apapun atas terjadinya pelanggaran aplikasi di platform media sosialnya.

“Ini adalah sedikit frustasi, karena Facebook jelas tidak pernah peduli. Maksud saya peraturan yang ada dalam perjanjian tidak pernah ditegakkan,” tuding Kogan kepada “60 menit”- sebuah realty show yang ditayangkan televisi AS.

“Saya memiliki persyaratan layanan yang ada di sana selama satu setengah rahun yang mengatakan saya dapat mentransfer dan menjual data,” beber Kogan, menambahkan: “Tidak pernah mendengar (teguran) sepatah kata pun.”

Hingga April 2015 Facebook mengizinkan pengembang aplikasi mengumpulkan beberapa informasi pribadi dari profil pengguna dan mengunduhnya – sekaligus mengunduh data teman-teman para pengguna. Facebook beralasan izin itu diberikan untuk membantu pengembang meningkatkan pengalaman “dalam aplikasi”bagi pengguna.

Facebook bahkan bekerja sama dengan Kogan. Pada bulan November 2015 bahkan Kogan menjelaskan kepada facebook selaku konsultan politik tentang teknik yang dia gunakan untuk Cambridge Analytica – berfokus tentang bagaimana halaman Facebook yang disukai pengguna dapat mengungkapkan aspek kepribadian mereka.

“Ketika itu saya berpikir kami melakukan semua yang benar,” tandas Kogan, sekaligus menegaskan: “Jika saya punya firasat apa yang akan saya lakukan adalah menghancurkan hubungan saya dan Facebook, saya tidak akan pernah melakukannya.” []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here