Fadli Zon : Perkuat Status Pahlawan Nasional Tan Malaka

0
225
Diskusi Tan Malaka "Founding Father yang Terlupakan di Kompleks DPR-RI, Jakarta, Senin (27/3)

Nusantara.news, Jakarta – Wakil Ketua DPR-RI Fadli Zon mengapresiasi kegigihan Harry A. Poeze yang selama 40 tahun berusaha meneliti dan mencari tahu sosok Tan Malaka, bahkan mencari kuburannya. Untuk itu politisi Partai Gerindra ini menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada peneliti asal Belanda yang juga hadir dalam acara diskusi “Tan Malaka, Founding Fathers yang Terlupakan” di Kompleks DPR-RI, Senin (27/3) lalu.

Padahal Tan Malaka adalah sosok penting dalam sejarah berdirinya negara Indonesia. Presiden Soekarno pun telah menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada dirinya. Sayangnya, begitu pemerintahan beralih ke tangan Presiden Soeharto sepak terjang Tan Malaka dalam mewarnai sejarah Indonesia benar-benar dilupakan.

Kendati gelar Pahlawan Nasional itu tidak pernah dicabut, namun hak-haknya sebagai pahlawan nasional tidak pernah dianggap. Namanya tidak tercatat dalam buku-buku pelajaran sejarah resmi terbitan pemerintah. Bahkan buku-buku lelaki kelahiran Nagari Pandan Gadang, Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar, 2 Juni 1897, ini dicekal.

Baru setelah reformasi, buku-buku Tan seperti Materialisme, Dialektika, Logika (Madilog) dan Gerakan Politik Ekonomi (Gerpolek) bebas diperjual-belikan di toko-toko buku.

Sebelumnya saat mengenang 68 tahun wafatnya Tan Malaka, Pemerintah Kabupaten Limapuluh Koto dengan dukungan tokoh masyarakat setempat telah memindahkan bongkahan tanah yang diambil dari pemakamannya di Kediri ke kampung halamannya.

Baca : Meski Hanya Bongkahan Tanah, Tan Malaka Pulang ke Rumah Gadang

Namun, tandas Fadli, pemindahan secara resmi masih menunggu keputusan dari Kementerian Sosial dan Pemerintah Kabupaten Kediri.

“Saya kira bagi masyarakat, khususnya di wilayah Sumatera Barat, mungkin ini menjadi satu hal sangat penting di mana mendudukkan Tan Malaka, karena Tan Malaka adalah seorang figur pendiri republik yang mungkin sering kali dilupakan dan juga boleh dibilang disalahpahami. Kalau melihat dari jejak sejarahnya, memang Tan Malaka adalah seorang tokoh yang mengalami pasang surut. Tentu saja di awal-awal perjuangan, sangat kental perjuangan dan pergerakannya, tetapi kemudian mempunyai kontroversi-kontroversi sendiri,” beber Fadli.

Tan Malaka yang dianggap gencar mengorganisir aksi-aksi perlawanan rakyat pada 1920-an ditangkap Belanda pada 13 Februari 1922. Setelah dibebaskan, Tan Malaka melanglang buana hingga ke Moskow. Namun Tan Malaka tidak sepakat dengan Komintern yang tidak mau bekerja-sama dengan Pan Islamisme yang ketika itu juga berkembang pesat di Jazirah Arab, Turki, hingga Afrika Utara dan Afrika Barat.

Memang, Tan Malaka awalnya aktif dalam gerakan kiri, termasuk membuat Sekolah Sarikat Islam di Semarang, Jawa Tengah. Namun Tan Malaka yang ingin menyatukan Komunisme dan Pan Islamisme tidak sepakat dengan pemberontakan rakyat yang dirancang tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) 1926. Sejak itu dia benar-benar berseberangan dengan Muso, Alimin dan Darsono yang meneruskan pemberontakan rakyat yang terbukti gagal.

Dampak dari kegagalan itu tidak sedikit tokoh PKI dan Islam yang dikirim Belanda ke tanah pengasingan di Boven Digul. Tan Malaka sendiri, tutur Fadli, meneruskan perjuangannya dengan mendirikan Partai Rakyat Indonesia (Pari) pada 1927 yang tidak saja berjuang di dalam negeri melainkan juga di luar negeri.

“Yang jelas, dia adalah seorang nasionalis. Itu satu hal yang membedakan (dirinya) dengan tokoh-tokoh kiri yang lain dan juga seorang muslim walaupun dia mempunyai pemikiran yang ketika itu dianggap atheistik atau yang lain,” tambah Fadli.

Fadli mengakui cukup banyak karya dan gagasan yang dilahirkan oleh Tan Malaka. Selain Madilog dan Gerpolek, karya Tan yang brilian lainnya, lanjut Fadli adalah bukunya berjudul Naar de Republiek Indonesia yang terbit tahun 1925.

“Ketika belum ada orang Indonesia berfikir soal Indonesia merdeka, Tan Malaka sudah menyampaikan pemikiran itu,” ujarnya.

Gagasan Tan Malaka ini juga lebih awal ketimbang Mohamad Hatta yang menulis soal Indonesia merdeka pada 1928, sementara Indonesia Menggugat, naskah pembelaan yang dibacakan Soekarno baru diungkap sebagai naskah pembelaan (pleidoi) dalam persidangannya di Bandung pada 1930.

Fadli juga menyayangkan banyak orang yang tidak tahu Presiden Soekarno telah memberikan gelar pahlawan nasional kepada almarhum Tan Malaka melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 53 pada 23 April 1963.

Pengaruh Masa Kecil

Sedangkan penulis biografi Tan Malaka, Harry Poeze, menuturkan bahwa Tan Malaka selalu dipengaruhi oleh masa kecilnya di ranah Minangkabau, termasuk kesalehannya sebagai seorang penganut Islam. Pengalamannya sebagai kuli kontrak di Deli, Sumatera Utara, sepulang dari pendidikan di Belanda, telah mengubahnya menjadi seorang pejuang gigih yang menolak berkompromi dengan penjajah.

Dalam mendidik, kata harry Poeze, Tan Malaka mengajarkan murid-muridnya soal kemandirian dan mempelajari keadaan masyarakatnya kala itu. Karena kegiatan pendidikannya, Tan Malaka ditahan dan dibuang dari Hindia Belanda. Dari sana, dia pergi ke Rusia lalu ke China. Di China dia beberapa kali mendirikan sekolah.

Harry Poeze menegaskan Tan Malaka adalah seorang komunis yang nasionalis. ketika merantau ke Jawa awal 1920-an, Tan Malaka bergabung dengan PKI yang berbeda dengan PKI zaman DN Aidit pada 1950-an. Karena itulah, menurut Harry Poeze, Sarikat Islam yang dipimpin HOS Tjokroaminoto dekat dengan PKI karena adanya kesamaan prinsip.

“Di Jawa, ia (Tan Malaka) ikut Partai Komunis Indonesia. Perlu disadari PKI waktu itu sangat berlainan dengan PKI Aidit, misalnya. Waktu itu permulaan 1920-an, Partai Komunis satu-satunya partai atas dasar nasionalisme. PNI (Partai nasional) Indonesia belum ada, masih makan waktu lima tahun sebelum muncul. Waktu itu, satu-satunya kemungkinan untuk melawan Belanda dengan cita-cita nasionalisme ada di dalam tubuh PKI,” ungkap Poeze.

Sebab itulah, tambah Harry Poeze, banyak kiai dan ulama di Sumatera Barat ikut dalam pemberontakan PKI melawan Belanda pada 1926 dan 1927.

Adapun Hengky Novaron Asril, keturunan langsung dari Tan Malaka, menceritakan Tan Malaka gemar bermain sepak bola, layang-layang, dan mengaji. Pada usia 16 tahun, Tan Malaka sudah menghafal Al-Quran, dikenal sebagai pemberani, dan cerdas.

Hengky menambahkan Tan Malaka hidup dalam lingkungan religius. Karena itu, dia rajin mempelajari agama dan belajar pencak silat.

“Sebagai seorang anak yang lahir dari keluarga yang taat beragama, tentu Tan Malaka belajar agama, seperti menghafalkan Al-Quran dan mempelajari dasar-dasar agama Islam. Sebagai anak-anak kampung di Minangkabau, dia belajar di surau. Bahkan dia sempat aktif mengajar mengaji anak-anak lainnya. Tan Malaka beberapa kali pernah menyelesaikan terjemahan Al-Quran dalam bahasa Belanda,” tutur Hengky.

Fadli menggarisbawahi bahwa Tan Malaka tidak setuju dengan pemikiran para pemimpin PKI, sebab Tan Malaka menyebut diktator proletarian bisa menindas rakyat. Menurut Fadli, diktator proletarian adalah gagasan Marxisme, Leninisme, dan Komunisme, sedangkan Tan Malaka mengusulkan sebuah negara berdasarkan hukum yang humanis, tidak sarat dengan nilai-nilai kediktatoran.[]

Dikutip dari berbagai sumber

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here