Fahri Hamzah: Mahasiswa Adalah Penjaga Rasa

0
140
Fahri Hamzah "Mahasiswa adalah penjaga rasa dan keseimbangan dalam negara. Mereka hadir kalau ada yang ganjil. mereka datang ketika ada sesuatu yang nampak tidak boleh dibiarkan. Kadang politisi kehilangan keberanian lalu mahasiswa datang. #Malari1974.

Nusantara.news, Surabaya – Mengenang Peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari), dalam akun Twitternya @Fahrihamzah, Senin (15/1/2018), mengunggah cuitan terkait peristiwa itu. Fahri Hamzah, yang juga Wakil Ketua DPR RI menulis:

“Mahasiswa adalah penjaga rasa dan keseimbangan dalam negara. Mereka hadir kalau ada yang ganjil. Mereka datang ketika ada sesuatu yang nampak tidak boleh dibiarkan. Kadang politisi kehilangan keberanian lalu mahasiswa datang.” #Malari1974.

Namun, bagaimana kondisi mahasiswa saat ini? Apakah mereka seperti yang diharapkan apa yg di cuitkan Fahri Hamzah dalam twitternya, atau malah sebaliknya? Mahasiswa diam dan tak berdaya saat kondisi dan kenyataan yang dilihat dan dihadapi seperti saat ini. Rakyat terjepit lantaran kebutuhan ekonomi yang semakin menyempit karena semua telah dikuasai asing. Tak bisa memilih, sebab tak ada lagi pilihan karena semua pilihan telah dipilihkan oleh si pemilik pilihan. Lalu, bagaimana, apa mahasiswa sekarang (masih) layak disejajarkan dengan sikap dan semangat yang dimiliki oleh mahasiswa di zaman itu (saat Malari)?

Sebelumnya, Fahri Hamzah juga menuliskan cuitannya. “@Fahrihamzah: Di pagi ini, adalah 15 Januari 2018. Dan 44 tahun lalu mahasiswa turun ke jalan melakukan protes atas dominasi modal Asing khususnya dari Jepang. Demonstrasi lalu menjadi kerusuhan sosial #Malari1974 menjadi Malapetaka 15 Januari.”

Orasi poltik Hariman saat peringatan Malari ke-44 dan lahirnya Indemo ke-18 di hotel UGM, Yogyakarta

Tak ada salahnya jika para mahasiswa saat ini, lebih terfokus dengan berbagai bidang studi (study oriented) di kampusnya masing-masing. Namun, yang tak kalah penting dan harus terus dijaga adalah sikap kritis dan memiliki kepekaan terhadap kondisi rakyat dan bangsanya.

Mengacu peristiwa Malari, hal penting yang tak boleh dilupakan, khususnya oleh mahasiswa bahwa 44 tahun silam (15 Januari 1974), mereka selain serius menimba ilmu di kampus masing-masing, juga memiliki pemikiran dan sikap kritis. Tak lengah menyikapi kebijakan pemerintah yang dianggap ‘miring’. Mereka dengan gagah berani turun ke jalan, menghadang langkah sombong pengambil kebijakan, khususnya yang proasing dan mengorbankan rakyat.

“Diharapkan anak-anak muda saat ini terus peduli dengan tanah air, dan harus mampu melanjutkan estafet perjuangan yang pernah dilakukan oleh Hariman Siregar dan aktivis senior lainnya. Itu guna mewujudkan demokrasi yang berkeadilan sosial dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”

Sekadar mengingatkan, Peristiwa Malari merupakan salah satu momen penting yang tidak boleh dilupakan. Saat itu, di Jakarta, Hariman Siregar yang menjabat Ketua Dewan Mahasiswa (KDM) Universitas Indonesia (UI) bersama teman-temannya sesama mahasiswa menyiapkan langkah, menggelar aksi damai turun ke jalan. Itu dilakukan untuk memprotes karena semakin kuatnya cengkeraman Penanaman Modal Asing (PMA), khususnya (saat itu) didominasi pemodal Jepang di Indonesia.

Mahasiswa menganggap Jepang adalah negara yang telah merampas dan mengebiri hak ekonomi masyarakat Indonesia. Bayangkan, Jepang telah menguasai lebih dari 53 persen ekspor dan memasok 29 persen impor Indonesia.

Sedianya para mahasiswa menggelar aksi damai di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma bertepatan dengan kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang Tanaka Kakuei di Jakarta, 14-17 Januari 1974. Namun upaya itu gagal, lantaran penjagaan ketat petugas dan tentara. Kekesalan anti modal asing itu kemudian diluapkan dengan berdemonstrasi di halaman kampus Universitas Trisakti Jakarta. Tak disangka aksi dengan cepat merebak ke berbagai tempat di wilayah Jakarta.

Kemudian merembet berubah kerusuhan, pembakaran, serta terjadinya penjarahan. Imbas dari rangkaian peristiwa itu Soeharto kemudian memberhentikan Soemitro sebagai Panglima Kopkamtib dan jabatan itu di ambil alih. Kemudian, jabatan Asisten Pribadi Presiden dibubarkan. Dan, Kepala Bakin, Sutopo Juwono digantikan oleh Yoga Soegama.

Dari sejumlah tulisan, terkait peristiwa Malari 1974 itu, Jenderal Ali Moertopo menuduh eks PSII dan eks Masyumi atau ekstrem kanan menjadi dalang peristiwa tersebut. Kemudian, setelah para tokoh peristiwa Malari termasuk Syahrir dan Hariman Siregar diadili, tidak bisa dibuktikan bahwa ada fakta dan ada seorang pun tokoh eks Masyumi yang terlibat di peristiwa itu.

Belakangan barulah ada pernyataan dari Jenderal Soemitro (almarhum) yang dalam buku Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa Malari bahwa ada kemungkinan justru Ali Moertopo sendiri dengan CSIS-nya yang mendalangi peristiwa Malari.

Peringati Malari, Aktivis Kumpul di Yogjakarta

Mengenang kisah perjalanan sejarah yang ditorehkan para mahasiswa di jaman itu, sejumlah aktivis dan politisi lintas generasi, sektoral dan ideologi bertemu di University Club Universitas Gajah Mada (UGM), Bulaksumur, Yogyakarta

Peristiwa Malari meski telah terjadi 44 tahun silam, tetap menjadi pemicu spirit perlawanan terhadap ketidakadilan dan ketimpanhan yabg tertanam kuat di kalangan para aktivis dan politisi hingga saat ini. Memori Malari, selain bisa menyatukan para aktivis lintas zaman, juga menjadi ajang koreksi pada pemerintah saat ini yang dinilai masih berkinerja buruk, utamanya di bidanh ekonomi.

Untuk mengenang kisah perjalanan sejarah yang ditorehkan para mahasiswa di zman itu, ratusan aktivis dan politisi lintas generasi, sektoral, dan ideologi berkumpul memadati acara diskusi publik peringatan Malari yang digelar di University Club Universitas Gajah Mada (UGM), Boulevard, Jalan Pancasila Nomor 2, Bulaksumur, Yogyakarta, 15 Januari 2018.

Tema yang dibahas “Mengembalikan Reformasi yang Kita Mau”. Acara diisi dengan pementasan drama satir bernada kritik sosial, lawakan, dan  orasi politik Hariman Siregar. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi publik bersama Ari Sujito (akademisi UGM), Max Lane (Indonesianis dari Australia), Daniel Dhakidae (jurnalis senior), Bhima Yudhistira (ekonom Indef), Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun (budayawan), serta paparan singkat dari mantan Panglima TNI Djoko Santoso.

“Hariman Siregar adalah tokoh bangsa yang sangat berkomitmen dalam mewujudkan demokrasi yang berkeadilan sosial di Indonesia. Dia adalah sosok inspiratif yang konsisten dengan apa yang ia cita-citakan,” tutur tokoh muda Wenry Anshory Putra.

Dari gelaran acara itu, diharapkan anak-anak muda saat ini terus peduli dengan tanah air, dan harus mampu melanjutkan estafet perjuangan yang pernah dilakukan oleh Hariman Siregar dan aktivis senior lainnya. Itu guna mewujudkan demokrasi yang berkeadilan sosial dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here