Faktor Bung Karno, Dasar PDIP Usung Kader NU di Pilgub Jatim 2018

0
144

Nusantara.news, Surabaya – Jelang Pilgub Jatim 2018, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menegaskan sinyal dukungannya pada calon gubernur (cagub) dengan latar belakang Nahdlatul Ulama (NU). Pertimbangannya adalah sejarah kedekatan Bung Karno dengan tokoh PDIP dengan tokoh-tokoh NU.

Hal itu diakui Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto. Menurutnya, landasan kuat PDIP mendukung cagub NU adalah kedekatan Bung Karno  dengan tokoh-tokoh NU.

“Kami melihat di Jatim, Bung Karno sangat dekat dengan tokoh-tokoh NU. Demikian pula dengan Bu Megawati (Soekarnoputri),” terang Hasto usai menghadiri upacara HUT Kemerdekaan RI ke-72 di Lapangan Parkir DPP PDIP, Jalan Lenteng Agung Jakarta, Kamis (17/8/2017).

Kedekatan itu menentukan sikap PDIP pada Pilkada Jatim sekaligus menjadi catatan penting bagi cagub di Jatim. Siapa yang mampu mengaktualisasikan keteladanan silaturahmi Bung Karno dengan NU, maka cagub tersebut dipastikan bakal diusung PDIP.

Dari Resolusi Jihad sampai Pembebasan Irian Barat

Fakta sejarah mencatat, kedekatan Bung Karno dengan para tokoh NU dimulai saat fatwa Resolusi Jihad dikumandangkan pada 22 Oktober 1945. Saat itu, negara sedang menghadapi agresi sekutu yang ingin mengembalikan Indonesia ke penguasaan Belanda.

Untuk mempertahankan kemerdekaan, pendiri NU Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa yang mewajibkan seluruh umat Islam Indonesia khususnya warga NU mengangkat senjata untuk bertempur melawan Sekutu.

Puncaknya terjadi ketika masyarakat Jatim di Surabaya melakukan perlawanan fisik di bawah pimpinan Bung Tomo pada 10 November 1945. Dengan pekik Allahu Akbar, serangan tentara Sekutu akhirnya berhasil dilumpuhkan.

Tidak hanya itu, Bung Karno juga melibatkan tokoh NU dalam menyelesaikan konflik politik dalam negeri, tepatnya pada pertengahan bulan Ramadhan 1948.

Saat itu, Indonesia mengalami ancaman disintegrasi bangsa. Elit politik saling mencurigai, dan saling menyalahkan, dan tidak mau duduk dalam satu meja. Keadaan kacau karena partai politik masing-masing merasa benar. Di sisi lain, pemberontakan terjadi di mana-mana. Kebuntuan politik benar-benar membuat Bung Karno gelisah.

Bung Karno bersama Kiai Wahab Hasbullah.

Sudah menjadi tradisi jika NU beserta tokoh pendirinya punya banyak gagasan. Oleh karena itu, Bung Karno memanggil Kiai Wahab Hasbullah guna dimintai solusi menyelesaikan konflik. Kiai Wahab menyarankan Bung Karno menggelar forum silaturahmi. Dengan memberi penjelasan dan makna filosofinya, istilah silaturahmi diganti dengan Halalbihalal.

Atas saran Kiai Wahab, pada saat Hari Raya Idul Fitri tiba, Bung Karno mengundang semua tokoh politik yang bertikai untuk datang ke Istana Negara dalam rangka Halalbihalal. Dari situlah, akhirnya tokoh tokoh partai duduk bersama. Babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa pun dimulai. Semua elit politik tak menyadari jika istilah itu merupakan bentuk rekonsiliasi politik dengan saling memaafkan.

Pemikiran dan gagasan Kiai Wahab tak hanya dijadikan pedoman langkah Bung Karno menuntaskan perseteruan politik dalam negeri. Sebelumnya, Kiai Wahab pernah melakukan kontekstualisasi kitab kuning berjudul Fathul Qorib yang kemudian oleh Bung Karno dijadikan literatur penyelesaian terkait konfrontasi Irian Barat antara Indonesia dan Belanda.

Ketika itu, Pemerintah Kerajaan Belanda berjanji kepada pemerintahan RI bahwa Irian Barat akan diserahkan kepada Indonesia pada tahun 1948. Namun, ternyata sampai tahun 1951 Belanda masih belum menyerahkan kedaulatan atas Irian Barat. Sementara, perundingan yang dilakukan Bung Karno selalu mengalami kegagalan. Kegagalan ini pun disampaikan oleh Bung Karno kepada Kiai Wahab.

Setelah mantap mengkontekstualisasi literatur kitab Fathul Qorib, Bung Karno mencetuskan Trikora (tiga komando rakyat) agar Irian Barat dikuasai (direbut) dengan paksa.

Buktikan Cinta pada Nahdlatul Ulama

Keberhasilan Bung Karno memimpin bangsa tidak lepas dari gagasan dan campur tangan NU. Hal ini menunjukkan jika kerja sama antara tokoh nasionalis dan Islam berpengaruh kuat. Bukti kekuatan itu dicerminkan Bung Karno pada identitas seragam kebesarannya. Bung Karno saat berdinas, selalu melekatkan songkok atau peci hitam.

Bung Karno bersama tokoh dan kiai NU.

Bung Karno juga pernah mengungkapkan pernyataan rasa cintanya pada NU. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato pelaksanaan Muktamar NU ke-23 di Solo, Jawa Tengah pada 28 Desember 1962: Saya sangat cinta sekali kepada NU. Saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak cinta kepada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang ke Muktamar ini, agar orang tidak meragukan kecintaan saya kepada NU!”

Pidato ini diserukan untuk mempertegas kedekatan Bung Karno dengan NU. Sebab kala itu, tensi politik Tanah Air sedang memanas. Beberapa kelompok terlibat dalam gerakan pemberontakan Darul Islam-Tentara Islam Indonesia (DI-TII) dan Perdjuangan Rakjat Semesta (Permesta) yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam kesempatan itu, Bung Karno juga menyampaikan pujian atas peran Kiai Wahab dalam membebaskan Irian Barat dari cengkeraman Belanda. Bung Karno mengakui NU sudah memberi kontribusi besar terhadap sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Baik itu ditinjau dari sudut agama, nasionalisme maupun sosialisme.

Juga Dekat dengan Muhammadiyah

Kedekatan Bung Karno tidak hanya kental dengan tokoh-tokoh NU. Sejarah mencatat, Bung Karno ternyata juga sangat dekat dengan tokoh Muhammadiyah. Kedekatannya itu pernah diungkapkan Bung Karno saat berpidato di depan peserta peringatan 50 tahun Muhammadiyah pada 26 November 1962. Di situ, Bung Karno berkisah tentang perjumpaannya dengan tokoh pendiri Muhammadiyah Kiai Ahmad Dahlan.

Bung Karno bertutur: “Dalam suasana yang remang-remang itu datanglah Kiai Ahmad Dahlan di Surabaya dan memberi tablig mengenai Islam. Bagi saya (pidato) itu berisi regeneration dan rejuvenation daripada Islam.”

Tablig itu membuat Bung Karno tercerahkan. Terutama berkaitan dengan pemahaman Islam yang berpihak pada kaum miskin dan dorongan untuk melakukan ijtihad. Dari situlah, Bung Karno sejak berusia 15 tahun kintil ke mana pun Kiai Ahmad Dahlan menggelar Tablig.

Bung Karno besama tokoh Muhammadiyah, Agus Salim.

Masih dalam pidato, Bung Karno bahkan mengucapkan kalimat yang saat ini melegenda di kalangan Muhammadiyah: “Sekali Muhammadiyah tetap Muhammadiyah. Kata-kata ini bukan untuk Muhammadiyah saja, tapi juga untuk saya. Saya harap kalau dibaca lagi nama-nama anggota Muhammadiyah yang 175.000 orang banyaknya, nama saya masih tercantum di dalamnya. Saya harap nama saya tidak dicoret dari daftar keanggotaan Muhammadiyah.”

Pertautan antara Bung Karno dan Muhammadiyah semakin erat. Itu tampak ketika Bung Karno menjadi pengurus Muhammadiyah di Bengkulu hingga dia mempersunting Fatmawati, putri seorang tokoh Muhammadiyah.

Bung Karno Pro-Pluralisme

Seiring berjalannya waktu, melalui berbagai diskusi dan bacaan, cakrawala berpikir Bung Karno tidak terbatas pada satu paradigma religiusitas Islam. Pemahamannya lebih mendalam. Dia juga menyerap ajaran-ajaran teologis lainnya yang hidup dalam alam pikiran masyarakat nusantara. Kesadaran diri sebagai seorang muslim datang beriringan dengan kesadaran anti kolonialisme. Dan, itu makin memperkaya keyakinannya akan Sang Khalik.

Hal itu dipertegas dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (1966). Salah satu cuplikannya,  “Tahun 1926 adalah tahun di mana aku memperoleh kematangan dalam kepercayaan. Aku beranjak berpikir dan berbicara tentang Tuhan. Sekalipun di negeri kami sebagian terbesar rakyatnya beragama Islam, namun konsepku tidak disandarkan semata-mata kepada Tuhannya orang Islam. Pada waktu aku melangkah ragu memulai permulaan jalan yang menuju kepada kepercayaan, aku tidak melihat Yang Maha Kuasa sebagai Tuhan kepunyaan perseorangan. Menurut jalan pikiranku, maka kemerdekaan seseorang meliputi juga kemerdekaan beragama.”

Dari pernyataannya ini, tampak jelas pengakuan Bung Karno akan eksistensi ajaran agama, selain Islam yang hidup dalam masyarakat nusantara sejak lama. Selain itu, Bung Karno juga telah mengakui adanya kemerdekaan beragama sebagai bagian dari kemerdekaan individu. Dalam pengertian lain, Bung Karno telah menghargai pluralisme beragama.

Khofifah Berpeluang Curi Rekom PDIP

Sejarah membuktikan, antara Bung Karno dengan tokoh Islam punya kedekatan yang kuat. Oleh sebab itu, wajar jika kemudian dalam perhelatan Pilgub Jatim 2018, PDIP memastikan rekomendasinya pada cagub yang didukung NU.

Alasannya, selain karena faktor historis dan ideologi partai, Jatim merupakan basis NU terbesar di Indonesia yang menjadikan kiai sebagai patron dalam segala hal. Tentunya ini bisa menjadi modal politik besar untuk mendongkrak elektabilitas partai, baik itu di ajang demokrasi Pilgub Jatim 2018 maupun Pilpres 2019 nanti.

Dalam konteks ini, siapakah yang pantas mendapat rekomendasi PDIP? Seperti diketahui, sejauh ini di Jatim ada dua tokoh NU yang punya kans besar bakal maju di Pilgub Jatim. Keduanya yakni Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf alias Gus Ipul dan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Ada kesamaan keduanya dalam meneladani silaturahmi Bung Karno. Hal itu dibuktikan dengan cara sowan atau bersilaturahmi dengan sejumlah kiai. Hanya saja, perbedaannya, Khofifah lebih condong ke kiai kultural sedangkan Gus Ipul ke kiai struktural keorganisasian.

Kendati Khofifah baru dikabarkan bakal mendeklarasikan sebelum Oktober 2017 nanti, namun gelombang dukungan para kiai dan tokoh masyarakat sudah mengalir deras. Terbaru, sekitar 500 kiai non struktural pengasuh pondok pesantren NU se-Jatim berkumpul di Institut KH Abd Chalim, Pacet, Mojokerto, Sabtu (5/8/2017) menyatakan dukungannya pada Khofifah untuk maju di Pilgub Jatim.

Khofifah bersilaturahmi dengan kiai di Mojokerto.

Dua hari sebelumnya, dukungan juga datang dari Ponpes Nurul Qurnain dan Al Qodiri Jember. Belum lagi sokongan dari sejumlah santri dan kiai di Madura, daerah yang sebelumnya tidak bersahabat dengan Khofifah.

Tak hanya dari santri dan kiai NU, dukungan riil juga diberikan sejumlah kiai Muhammadiyah. Dukungan istimewa itu secara terang-terangan dinyatakan ketika Khofifah bersilaturahmi di gelaran Halaqah Kebangsaan Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim, di Surabaya, Selasa (21/8/2017) malam.

Dikatakan istimewa karena wujud keteladanan yang ditunjukkan Khofifah ini rupanya melahirkan dukungan yang menggambarkan figurnya yang bisa diterima oleh semua elemen masyarakat di Jatim.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here