Fed Kerek Bunga, Selamat Datang Era Tight Money Policy

0
73
Gubernur BI Perry Warjiyo memimpin Rapat Dewan Gubernur untuk menaikkan suku bunga 7 Days Reverse Repo Rate untuk menyikapi kenaikan bunga Fed Fund Rate. Rupiah pun tertahan di bawah Rp15.000 per dolar AS.

Nusantara.news, Jakarta – Bank sentral AS, Federal Reserve, baru saja menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 basis poin menjadi 2% hingga 2,25%. Kenaikan bunga ketiga The Fed ini pun direspon oleh Bank Indonesia (BI) dengan menaikkan kembali 7 Dayas Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin.

Kenaikan bunga FFR ini adalah kenaikan bunga acuan yang ketiga kalinya bagi AS, atau ketujuh kalinya sejak 2015. Federal Reserve memang bertekad menaikkan bunga FFR sebanyak 4 kali pada 2018 dan dilanjutkan 3 kali pada 2019 untuk menstimulasi perekonomian Amerika.

“Komite mengharapkan bahwa peningkatan bertahap secara bertahap akan konsisten dengan ekspansi berkelanjutan kegiatan ekonomi, kondisi pasar dengan tenaga kerja yang kuat dan inflasi simetris dua persen menjadi tujuan komite selama jangka menengah,” kata Gubernur The Fed Jerome Powell.

Nilai tukar rupiah hari ini melanjutkan pelemahannya terhadap dolar AS pada perdagangan sepanjang Jumat. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah 21 poin atau 0,14% di level Rp14.944 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah terpantau berbalik menguat 8 poin atau 0,05% ke level Rp14.915 per dolar pada pukul 09.40 WIB. Rupiah akhirnya secara keseluruhan ditutup menguat di posisi Rp14.902 atau menguat 0,13% dibandingkan penutupan kemarin. Namun dalam sepekan terakhir rupiah melemah 0,57% terhadap greenback.

Sementara beberapa mata uang negara di kawasan Asia berada di zona merah. Yen Jepang melemah 0,12%, ringgit Malaysia minus 0,08%, dolar Singapura minus 0,07%, baht Thailand minus 0,04%, dan renminbi China minus 0,03%.

Hanya dolar Hong Kong yang menguat 0,01% dan won Korea Selatan menguat 0,17%. Sedangkan, peso Filipina stagnan.

Sementara mata uang utama negara maju bergerak variasi. Dolar Kanada melemah 0,17%, dolar Australia minus 0,15%, dan franc Swiss minus 0,01%. Namun, rubel Rusia menguat 0,01%, euro Eropa 0,02%, dan poundsterling Inggris 0,03%.

Naikkan bunga

Sementara Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pun merespon kebijakan The Fed dengan menaikan suku bunga 7 Days Reverse Repo Rate. Kenaikan bunga acuan ini diikuti oleh langkah intervensi BI ke pasar keuangan maupun ke pasar obligasi. Tujuannya agar nilai tukar rupiah tidak tertekan terlalu drastis.

Konsensus pasar yang dihimpun memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%.

“Hasil RDG BI pada 26-27 September 2018 memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day RR sebesar 25 bps menjadi 5,75%,” ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo.

Sejak awal Januari sampai 27 September 2018, BI 7-Day RR telah mengalami kenaikan lima kali hingga 125 bps. BI juga aktif melakukan intervensi di pasar keuangan dan pasar obligasi guna mengurangi tekanan terhadap lebih drastis.

Rupiah sendiri sejak Januari hingga September 2018 telah mengalami depresiasi sekitar 10% sebagai dampak perang dagang AS-China, juga efek dari kenaikan suku bunga FFR. Rupiah juga tertekan sebagai dampak lanjutan dari melebarnya defisit transaksi berjalan (current account deficit—CAD) sehingga berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Bahkan BI juga menerbitkan ketentuan terkait domestic non derivable forward (DNDF) sebagai upaya meningkatkan stabilitas nilai tukar rupiah.

DNDF adalah transaksi lindung nilai (hedging) terhadap rupiah yang dilakukan di pasar domestik. Transaksi ini disebut mampu meningkatkan likuiditas dan efisiensi di pasar valuta asing domestik dan memitigasi risiko nilai tukar rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan peraturan Bank Indonesia (PBI) terkait DNDF sudah diterbitkan dan mulai berlaku di pasar keuangan.

Dia menjelaskan, dengan terbitnya aturan ini diharapkan bisa memberikan alternatif instrumen untuk pelaku ekonomi, perbankan hingga investor asing dalam bertransaksi valuta asing. Jadi pelaku usaha bisa melakukan hedging atau lindung nilai dan mendukung stabilitas nilai rupiah ke depannya.

“Kami sudah berkomunikasi dengan bank baik lokal maupun asing untuk operasional ini. Bank masih persiapan untuk menggunakan instrumen ini,” ujar dia.

Menurut Perry dengan adanya DNDF ini investor asing bisa memanfaatkan alternatif instrumen lindung nilai. Kemudian dari sisi valas instrumen bisa semakin lengkap karena tak hanya bisa membeli di pasar spot, tapi bisa melalui pasar swap dan forward.

“Banyak alternatifnya, BI juga berterima kasih dengan korporasi yang sudah menjual dolar AS nya untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Kami imbau untuk korporasi yang butuh dolar AS tidak harus ke pasar spot ya, banyak alternatif lain,” demikian Perry.

Dengan demikian, kenaikan bunga The Fed, yang dilanjutkan dengan kenaikan bunga acuan BI, maka resmilah Indonesia menerapkan kembali suku bunga tinggi (tight money policy–TMP). Maka tahapan-tahapan selanjutnya adalah efek berantai (multiplier effect) yang tak bisa dihindari adalah pertumbuhan ekonomi.

Gubernur BI memproyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun ini tidak akan lebih dari 5,2%, lebih rendah dari asumsi dalam APBN 2018 sebesar 5,4%.

Perry mengatakan meningkatnya ketidakpastian ekonomi secara global telah memberi tekanan pada ekonomi domestik. Salah satu tekanan yang terlihat nyata adalah depresiasi nilai tukar rupiah.

“Ekonomi kita diperkirakan bergerak antara 5,0% hingga 5,4% tahun ini. Kemungkinan ya [realisasinya] diperkirakan sedikit di bawah 5,2%,” ujarnya.

Para pengusaha, birokrasi pemerintah, petugas layanan hingga rumah tangga, siap-siaplah memasuki zaman baru. Zaman krisis dengan suku bunga tinggi. Apakah kita akan memasuki era krisis moneter baru? Tidak ada kepastian, yang pasti grafik pelemahan ekonomi sedang berlangsung.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here