Felix : Andai Rohingya Bukan Muslim, Akankah Ada Pembantaian?

0
238
Felix Siauw. Youtube

Nusantara.news, Surabaya – Keprihatinan menghinggapi pikiran banyak orang, itu terkait kejahatan kemanusiaan, pembantaian dan pelenyapan etnis Rohingya di Myanmar. Tak terkecuali, keprihatinan itu juga dirasakan oleh Ustadz Felix Siauw.

Ustadz muda yang juga penggemar Jamaah Ma’iyah asuhan Budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, menyebut permasalahan suku Rohingya bukan bencana alam yang bisa hilang hanya dengan bantuan dana dan doa, meski itu harus tetap dilakukan secara maksimal.

Persoalan Rohingya, tulis Felix adalah soal kekejaman dan pembantaian. Sangat ironis, mereka etnis Rohingya tidak diakui sebagai warga negara di negaranya sendiri. Perlakuan itu terjadi, karena mereka beda etnis dan beda agama.

“Masalah di sana adalah pembantaian, tidak diakui sebagai warganegara sebab beda etnis dan beda agama, mereka lalu diperlakukan seperti bukan manusia,” tulis Felix dalam akun pribadinya.

Masalah Fisik, Solusinya Harus Fisik

Karena masalahnya adalah masalah fisik, karena itu solusinya pula harus fisik, cara untuk penghentian pembantaian itu. Pertanyaannya, siapa sekarang yang mampu melakukan?

Felix melanjutkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terbukti telah gagal. Sebab masalah itu telah ada dan terjadi sejak lama, dan dibiarkan.

“Masalah ini sejak lama terjadi. ASEAN tidak berkutik, Indonesia hanya sekedar menyesalkan. Dunia juga hanya bisa mengecam tanpa aksi nyata,” tegasnya.

Penyelesaian itu hanya bisa dilakukan oleh sebuah kekuatan yang setara dengan negara juga, sebab pembantaian suku Rohingya dilakukan pula oleh negara.

Negara mana yang peduli pada mereka? Tentu negara yang menjadikan ukhuwah sebagai pengikatnya, karenanya bisa melebihi sekat etnis dan sekat nasionalisme.

Di sini urgennya Khilafah Islam, yakni pemerintahan atas dasar Al-Quran dan As-Sunnah, yang membela kaum Muslim dimanapun berada, walau terpisah oleh jarak.

Felix kemudian mencontohkan, dulu di jaman Umar sahabat Rasulullah Muhammad SAW, urusan Mesir adalah urusan Khalifah, urusan Yaman juga urusan Khalifah, urusan Suriah dan Mekkah juga urusannya Khalifah.

“Begitu syahadat sudah diucap, maka kaum Muslim adalah saudaranya, dan Khalifah adalah pelindungnya. Begitulah konsep yang diajarkan oleh Nabi kita,” dikutip dari Felix Siauw Official, yang diberi judul Arti Khalifah Bagi Rohingya.

Umat Islam Adalah Satu Tubuh

Kemudian, dia menyebut umat muslim itu ibarat satu tubuh. Ketika bagian tubuh yang satu tersakiti, maka seluruh badan akan merasakan pedihnya sakit. Dan, akan berbuat sesuatu agar bagian itu tak sakit lagi.

“Sekarang, ke manakah kita berharap selain pada Khilafah? Ide yang kini justru dikriminalisasi dan dimonsterisasi. Padahal sekarang kita bisa melihat pentingnya.

Boleh setuju atau tidak setuju, wacana Khilafah bisa didebatkan secara ilmiah, tapi secara fakta, dulu kaum muslim dilindungi Khalifah, yang saat ini tidak terlindungi.

Andai Rohingya Bukan Muslim, Apakah Akan Ada Pembantaian?

Seperti ditulis di Berita Islam 24H, 06 September 2017, Felix menyebut yang terjadi dan menimpa etnis Rohingya di Myanmar adalah jelas-jelas kejahatan kemanusiaan. Mereka, etnis Rohingya dibantai karena, mereka beda etnis dan beda agama dengan mayoritas yang ada.

Kita tidak menyalahkan agama apa pun dibalik kekejaman itu, tetapi yang mengatakan bahwa pembantaian tak terkait agama, itu justru bertentangan dengan fakta yang ada.

Andaikan etnis Rohingya itu beragama Buddha misalnya, apakah akan terjadi pembantaian itu? Dan apakah penguasa Myanmar akan mendiamkan seperti saat ini?

Lebih jauh lagi, andai pembantai kaum Rohingya itu adalah muslim, apakah dunia akan diam seperti saat ini? Tentu tidak, di sini kita bisa melihat kejelasannya.

Artinya, Muslim Rohingya diperlakukan secara biadab itu memang ada kaitannya dengan etnis dan agamanya, walau kita tidak menuduh agama pelakunya.

Adapun pembunuh sadis berwajah Biksu seperti Wirathu, dia memang memprovokasi atas nama agama, dalam forum agama, walau sekali lagi, kita tak salahkan agamanya.

Tapi mengatakan bahwa ini semua tidak terkait agama, adalah kesimpulan yang sangat dangkal. Padahal Muslim Rohingya sampai kini tetap mempertahankan aqidah.

Namun apa pun analisis siapa pun, kita peduli pada Muslim Rohingya, ini jelas-jelas karena dorongan aqidah, sebab kita adalah satu umat sebagaimana pesan Nabi.

Maka, duka mereka adalah lara kita, walau beda tempat tak menjadikan kita beda perasaan. Sebab ikatan kita adalah ikatan aqidah bukan ikatan yang lainnya.

Maka kita berbuat yang paling maksimal yang bisa kita lakukan, walau itu hanya doa atau sekedar bantuan harta, apa pun yang kita mampu kita lakukan karena Allah. 06 September 2017, (Felix Siauw)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here