Fenomena Ibu Ajak Anak Bunuh Diri, Bukti Negara Salah Urus Rakyat

0
133
Evi Suliastin Agustin bersama ketiga anaknya yang semasa hidup. Ketiga anaknya tewas setelah diajak bunuh diri di Desa Karobelah, Kecamatan Mojoagung, Jombang, Senin (15/1/2018).

Nusantara.news, Jombang – Kasus bunuh diri yang dilakukan seorang ibu bernama Evi Suliastin Agustin (26) di Desa Karobelah, Kecamatan Mojoagung, Jombang, menggemparkan publik. Betapa tidak, Evi tidak bunuh diri seorang diri tetapi membawa serta ketiga anaknya.

Keempatnya ditemukan tergeletak kamar mandi rumahnya pada Senin (15/1/2018) sekitar pukul 22.00 WIB. Di samping mereka ditemukan obat nyamuk cair kemasan 600 ml yang tutupnya terbuka. Pasalnya, isi racun serangga ini tinggal dua per tiga. Polisi menduga kuat Evi sebelumnya menenggak racun tersebut. Namun terlebih dahulu dia memberi racun pada ketiga anaknya yang masih kecil. Mereka adalah Sayid Mohammad Syaiful Alfaqih (6), Bara Viadinanda Umi Ayu Qurani (4) dan Umi Fauziah (4 bulan).

Evi sendiri ditemukan dalam kondisi kritis. Sayangnya, ketiga anaknya ditemukan tewas. Saat ini jenazah korban menunggu proses autopsi di RSUD Jombang. Dari hasil penyelidikan sementara, polisi menduga Evi nekat bunuh diri setelah meracuni 3 anaknya karena depresi ditinggal menikah lagi oleh suaminya.

Kapolres Jombang AKBP Agung Marliyanto mengatakan, selama ini Evi adalah istri kedua dari suaminya yang bernama Mohammad Fakihudin atau biasa dipanggil Gus Din, salah satu pengasuh salah satu pondok pesantren di Surabaya.

Dari pernikahan siri tersebut, Evi memiliki tiga orang anak. “Berdasarkan keterangan pihak keluarga atau setelah melahirkan anak ketiganya yang kini masih berusia 4 bulan, Gus Din bukannya segera meresmikan pernikahannya dengan Evi tapi justru Gus Din menikah lagi yang ketiga kalinya dengan seorang wanita di Nganjuk,” terangnya.

Kondisi inilah yang kemudian membuat Evi depresi. Apalagi sejak menikah ketiga kalinya Gus Din semakin jarang menjenguk Evi dan anak-anaknya. Dia juga mulai jarang diberi nafkah. Karena depresinya, Evi lantas nekat meluapkan kekesalannya dengan membunuh tiga anaknya sebelum kemudian berusaha bunuh diri.

Kasus ibu bunuh diri mengajak serta anak-anaknya hampir terjadi sepanjang tahun. Pada Minggu, 11 Maret 2007 silam, Kota Malang Jawa Timur pernah digegerkan oleh seorang ibu yang tega bunuh diri dengan mengajak 4 anaknya yang telah diracun terlebih dulu.

Sang ibu yang bernama Yunania Mercy (35) ditemukan tewas dengan posisi terkelungkup disamping empat anak kandungnya. Empat anak korban yang ditemukan terlentang tersebut diketahui bernama Athena Latonia (11), Prinsessa Ladova (9), Hendrison (9), dan Gabriela Al Cei (1,5).

Sebelum bunuh diri, sang ibu menjajarkan keempat anaknya yang sudah tewas di atas tempat tidur. Tak lama kemudian Yunania menyusul. Tak jauh dari kelima mayat itu terdapat surat yang ditulis Yunania yang berisi ucapan terimakasih pada suaminya yang juga ayah keeempat bocah, Hendri Suwarno (37). Yunania juga meminta agar jenazahnya dan anak-anaknya dikremasi. Saat itu jenazah mereka ditemukan di Jalan Taman Sakura, RT 1\/10 No 12, Lowok Waru, Malang.

Pada 10 September 2009, WU (29) seorang ibu rumah tangga asal Dusun Minggirsari, Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, nekat mengajak anak kandungnya, Danang (9), untuk bunuh diri.

Keduanya ditemukan lemah di dalam rumahnya dengan kondisi mengenaskan. Di sampingnya, ditemukan obat pembasmi hama. Diduga, keduanya lemas setelah minum obat tersebut. Aksi nekat tersebut diduga kuat lantaran beban hidup yang selama ini melekat kepada keluarganya, dirasa semakin berat, sehingga nekat bunuh diri.

Khoir Umi Latifah (25), warga Buyengan, Klaten, Jawa Tengah, nekat mengajak dua anaknya yang masih balita bakar diri. Umi yang bekerja sebagai penjaga rumah kos tewas, sedangkan kedua anaknya bisa diselamatkan meski mengalami sejumlah luka bakar.

Peristiwa ini terjadi pada Agustus 2010 lalu di kamar mandi dalam kos. Polisi menduga Umi Latifah depresi dan tidak kuat menanggung himpitan ekonomi yang membelit rumah tangganya. Dugaan tersebut berdasarkan surat yang ditulis Umi untuk suaminya, Slamet.

‘Mas aku njileh duit Mbak Turiyah Rp 20.000, sok nek duwe duit, tolong dibalekno yo (mas aku meminjam uang kepada Mbak Turiyah Rp 20.000. Besok kalau punya uang, tolong dikembalikan ya)’, demikian bunyi surat Umi.

Utang yang menumpuk juga membuat seorang ibu asal Desa Tempeh Lor, Kecamatan Tempeh, Lumajang, Jawa Timur, nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun tikus bentuk bubuk. Dia mengajak kedua anaknya untuk menenggak racun yang sama.

Perempuan bernama Reni Yuliana ini meminum 10 bungkus racun tikus dalam bentuk bubuk. Dia juga meminumkan racun yang sama dalam takaran sendok kepada Feby dan Rara, dua buah hatinya. Saat ketiganya kejang dan mulut berbusa, datanglah si anak sulung yang baru pulang sekolah, Pegy. Akhirnya mereka dilarikan ke RS untuk mendapat pertolongan. Peristiwa ini terjadi pada Agustus 2010.

Himpitan ekonomi dan karena mendapat perilaku kasar dari suaminya membuat Erawati (42) tega menenggelamkan anak bungsunya yang berumur 4 tahun, Andika, ke sungai hingga tewas. Setelah itu, ia memotong urat nadinya.

Pada Kamis tengah malam (1/3/2012), Erawati meninggalkan rumahnya di Kampung Cigeber, Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Keesokan paginya, warga menemukan mayat keduanya di sungai kecil yang berada di Kampung Cijagra, Desa Bojongsoang, Kecamatan Bojongsoang. TKP berada sekitar 300 meter dari rumah Erawati.

Dari hasil penyelidikan kepolisian, Erawati menenggelamkan anaknya yang tengah tertidur ke sungai kecil selebar 1 meter dengan kedalaman selutut itu. Setelah memastikan anaknya tewas, ia memotong urat nadi lengan kirinya hingga akhirnya tewas.

Di Surabaya, Ratna yang tinggal kamar kos di Jemur Wonosari gang Modin, pada Jumat (23/3/2012) nekat meminum racun tikus bersama anaknya. Mulanya Ratna memaksa dua anaknya meminum racun tikus yang telah dilarutkannya ke dalam air putih di dalam sebuah gelas bening. Setelah anaknya, giliran dia yang menenggak air racun itu.

Sambil menunggu ajal, Ratna melihat anaknya muntah-muntah akibat efek racun. Dari situlah kesadaran Ratna bangkit. Merasa kasihan dan tak tega melihat anaknya muntah, Ratna yang sempoyongan berlari ke kamar sebelah dan meminta pertolongan. Ratna diduga nekat bunuh diri lantaran frustasi karena persoalan ekonomi yang menghimpitnya.

Sebelumnya pada Senin, 8 Januari 2018, seorang ibu rumah tangga berinsial ST dan bayi laki-lakinya berusia enam bulan juga ditemukan tewas dengan luka yang cukup parah di halaman parkir Hotel Safin, Jalan Pangeran Diponegoro, Pati, Jawa Tengah.

Ibu berusia 30 tahun dan anaknya itu terjatuh dari lantai 10 Hotel Safin. Keduanya ditemukan warga sekitar pukul 06.00 WIB. Diduga, sang ibu melakukan aksi nekat bunuh diri dengan mengajak anaknya terjun bebas dari lantai 10 hotel.

Menurut Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan, dugaan sementara, keduanya meninggal karena ada unsur kesengajaan atau sengaja bunuh diri, karena korban bukan penyewa kamar hotel, melainkan warga biasa yang diduga sengaja melakukan aksi untuk naik ke lantai tertentu dari lobi hotel.

Peristiwa ibu nekat bunuh diri beserta anak-anaknya, sebenarnya merupakan potret buram kondisi bangsa. Negara selama ini terkesan acuh terhadap rakyat. Masih tingginya angka kemiskinan dan kesenjangan sosial, menjadi faktor utama mengapa orang nekat melakukan aksi bunuh diri.

Memang banyak faktor yang menjadi pencetus seseorang melakukan tindakan bunuh diri, semisal masalah rumah tangga, sakit menahun, putus sekolah, hingga menganggur. Namun semua faktor itu seringkali bermuara pada satu titik yakni kemiskinan. Lebih dari itu, kondisi sosial yang berkembang saat ini juga cenderung mendorong orang untuk cepat merasa frustrasi.

Kemiskinan Cuma jadi Ajang Kampanye

Di Indonesia, kasus bunuh diri banyak menimpa kalangan masyarakat kecil. Fenomena ini muncul di tengah harga sembako yang melambung naik, rupiah terpuruk, inflasi meninggi, dan daya beli masyarakat bawah semakin terbebani secara ekonomi.

Hal yang bikin masyarakat tambah sedih, munculnya pernyataan dari seorang menteri yang mengatakan masyarakat miskin ‘dilarang sakit’. Sebab penerima bantuan Kartu Indonesia Sehat per bulan hanya Rp 19.225. Begitu pula dengan para peserta BPJS Kesehatan. Ada banyak indikasi terjadi persekongkolan antara pelaksana BPJS Kesehatan di daerah dan poliklinik ecek-ecek, sehingga wong cilik hanya dapat pengobatan yang jelek. Padahal kenyataannya masih banyak warga belum tercover BPJS Kesehatan.

Ya, selama ini kemiskinan kerap menjadi masalah kompleks. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan antara lain tingkat pendidikan masyarakat, pendapatan, pengangguran, geografis, karakter, sosial dan budaya, serta faktor lain yang mempengaruhi. Fenomena dapat ditemukan dengan mudah hampir di setiap sudut wilayah, baik pedesaan maupun perkotaan.

Di Indonesia angka kemiskinan masih terbilang sangat tinggi, meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) setiap tahunnya merilis data yang menyatakan penurunan angka penduduk miskin di Indonesia. Namun bukan berarti Indonesia mengalami perbaikkan secara signifikan karena penurunan angka kemiskinan tersebut. Meskipun jumlah penduduk miskin berkurang, potensi untuk kembali miskin tetap besar, apalagi memasuki zaman global yang menuntut seseorang untuk bersaing dengan kemampuan intelektual, yang tidak hanya berat tapi juga mahal.

Beberapa waktu lalu BPS mengumumkan angka kemiskinan dan pengangguran terbuka di Indonesia menurun. Tercatat penduduk miskin di Indonesia berkurang sebanyak 580.000 jiwa di Maret 2016. Bank Dunia pun memberi pujian. Pasalnya, di tengah perekonomian Indonesia yang lesu, angka kemiskinannya dapat berkurang.

Meskipun angka kemiskinan menurun, tapi Indonesia tetap menjadi sarang kemiskinan dan pengangguran terbuka. Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan tertinggi se Indonesia disumbangkan oleh Provinsi Jawa Timur. Dalam rilisnya BPS Provinsi Jatim, pada bulan September 2017, jumlah penduduk miskin di Jawa Timur mencapai 4.405,27 ribu jiwa (11,20 persen), berkurang sebesar 211,74 ribu jiwa dibandingkan dengan kondisi Maret 2017 yang sebesar 4.617,01 ribu jiwa (11,77 persen). Bahkan daerah penghasil migas seperti Bojonegoro dilaporkan masuk peringkat ke- 9 daerah termiskin di Jawa Timur.

Pada tahun 2015, BPS merilis pernyataan bahwa separuh penduduk Pulau Jawa tergolong miskin. Adapun urutan provinsi yang menyumbang angka kemiskinan tertinggi berdasarkan data BPS Jawa Timur: (1) Jawa Timur, (2) Jawa Tengah, (3) Jawa Barat, (4) Sumatera Utara, (5) Sumatera Selatan, (6) Lampung, (7) Nusa Tenggara Timur, (8) Papua, (9) Sulawesi Selatan, dan (10) Aceh.

Dari data-data kemiskinan ini kemudian dijadikan senjata untuk merebut simpati pemegang suara. Adalah dua kandidat gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang berlomba menjadikan program penurunan tingkat kemiskinan dalam visi dan misinya.

Khofifah dengan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kementerian Sosial mengklaim lebih sukses memangkas jumlah penduduk miskin. Terutama di daerah pedesaan. Sedangkan Gus Ipul kendati sudah 2 periode mendampingi Soekarwo memimpin Jawa Timur, terkesan lebih banyak berada di balik bayang-bayang gubernur.

Sebagai Menteri Sosial (Mensos) Khofifah mengatakan bahwa angka kemiskinan pedesaan di Jawa Timur dari tahun ke tahun selalu berada di peringkat nomor satu se-Indonesia. Menurut dia, tingginya angka kemiskinan pedesaan di Jatim itu karena para petani sudah banyak yang tidak lagi memiliki lahan sendiri.

Mensos memaparkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut kenaikan garis kemiskinan Jatim di perdesaan selalu lebih tinggi dibanding perkotaan. “Pada periode September 2014 hingga Maret 2015 tercatat garis kemiskinan di perdesaan Jatim naik sebesar 6,49 persen, sedangkan di perkotaan hanya naik 3,93 persen,” katanya.

Dia menambahkan sepanjang periode September 2016 hingga Maret 2017 penduduk miskin di Jatim hanya menurun 0,01 persen. “Masalah lain yang menjadi tantangan bagi Jawa Timur adalah lebarnya jurang antara si kaya dan si miskin,” ujarnya.

Memang tidak bisa dipungkiri, setiap lima tahun sekali yang namanya kemiskinan kerap muncul di ajang pesta demokrasi rakyat. Kemiskinan kerap menjadi ladang gurih bagi para calon kepala daerah maupun calon presiden untuk ‘berjualan’. Begitu mudahnya mereka menyajikan data-data gagalnya pengentasan kemiskinan untuk dijadikan sarana menjegal lawan, terutama petahana. Namun begitu terpilih, kemiskinan tetap tidak berubah. Upaya mengentas kemiskinan seperti janji saat kampanye kadang terabaikan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here