Fenomena Macron Berlanjut di Pemilu Legislatif Prancis

0
71

Nusantara.news, Paris Emmanuel Macron, terpiih sebagai presiden dalam Pemilu Prancis dua putaran bulan April dan Mei lalu, masih menjadi fenomena. Kini, partai “bau kencur” yang dibuatnya, En Marche! yang artinya “Maju ke Depan!” juga berhasil memperoleh kursi mayoritas di parlemen Prancis. Partai yang 16 bulan lalu belum berwujud itu, berhasil menyingkirkan partai-partai arus utama Prancis, juga melibas partai sayap kanan yang sempat naik daun dengan kemunculan sang populis Marine Le Pen.

Macron memang fenomenal dalam perpolitikan Prancis. Bukan saja karena usianya yang masih sangat muda, yakni 39 tahun, tapi Macron juga terbilang masih hijau dalam dunia politik dan pemerintahan. Setelah lulus pascasarjana dari salah satu universitas elite di Prancis, Sciences Po, Macron bekerja sebagai Inspektur Keuangan di Inspektorat Jenderal Keuangan Prancis. Lalu, dia melanjutkan karirnya di Rotschild & Cie Banque.

Macron masuk ke dunia politik dengan menjadi anggota Partai Sosialis pada tahun 2006 hingga 2009. Pada 2014, Presiden Francois Hollande menunjuknya sebagai Menteri Urusan Perekonomian, Industri dan Digital. Tapi usia jabatannya hanya dua tahun. Macron kemudian mengundurkan diri untuk membuat partai sendiri, En Marche!

En Marche! Atau La République en Marche dan koalisinya partai Gerakan Demokratis (MoDem) yang dikenal dengan koalisi kelompok tengah berhasil meraih 355 kursi dari 377 kursi di parlemen atau Majelis Nasional menurut hasil resmi yang diumumkan pada Minggu (18/6) malam, waktu setempat. Pergerakan politik yang tidak ke “kiri” juga tidak ke “kanan” diduga menjadi alasan kemenangan dari partai baru tersebut dan koalisinya.

Dengan demikian, Macron dapat memegang kendali di Majelis Nasional Prancis. Mayoritas di Parlemen membuat presiden baru itu memiliki sebuah kebebasan untuk menerapkan rencana-rencana dan mengubah undang-undang perburuhan Prancis, serta merombak tunjangan pengangguran dan pensiun.

Tapi hasil pemilu legislatif yang berlangsung dua putaran (11 dan 18 Juni) itu, dibayangi tingginya angka abstain yang mencapai sekitar 57%. Hal ini tentu saja akan membuka perdebatan tentang perpecahan sosial di Prancis, selain menunjukkan bahwa dukungan terhadap partai pemenang juga rendah.

Partai-partai tradisional, baik yang “kanan” maupun “kiri”, yang sebelumnya telah mendominasi di parlemen dan pemerintahan Prancis selama beberapa dekade, menyusut sangat signifikan. Hal ini mengkonfirmasi gambaran politik Prancis yang dimulai ketika Sosialis dan Partai Republik tersingkir pada putaran pertama pemilihan presiden April dan Mei lalu.

Partai Kanan Prancis, yang setahun lalu percaya diri bahwa tidak mungkin kalah dalam pemilihan presiden dan parlemen, namun kenyataannya memperoleh hasil yang buruk.

Partai Sosialis mendapat kekalahan paling besar, partai ini awalnya berharap bisa merebut sekitar 200 kursi di parlemen, tapi kenyataannya hanya memperoleh sekitar 34 kursi saja.

Mayoritas perolehan suara partai besutan Macron, menunjukkan sejauh mana presiden baru tersebut, yang merupakan pendatang baru dalam politik partai, telah berhasil mengubah peta politik Prancis dalam waktu singkat. Bayangkan, satu setengah tahun lalu En Marche! yang awalnya berupa gerakan sosial itu masih belum berbentuk, sekarang dia sudah menjadi partai mayoritas di parlemen dan siap memimpin pembuatan dan perubahan undang-undang.

Perdana Menteri Prancis Macron Edouard Philippe mengatakan, “Melalui pemungutan suara ini, orang-orang Prancis telah menunjukkan bahwa mereka lebih memilih berharap daripada marah, optimis daripada pesimisme, percaya diri daripada menutup diri sendiri,” sebagaimana dilansir The Guardian, Senin (19/6).

“Penolakan tidak pernah merupakan kabar baik bagi demokrasi, dan rendahnya jumlah pemilih Berarti pemerintah memiliki ‘kewajiban yang lebih kuat lagi untuk berhasil’,” katanya menanggapi tingginya abstain dalam pemilu.

Juru bicara pemerintah Macron Christophe Castaner, yang juga terpilih di parlemen, mengatakan, “Rakyat Prancis telah memberi kami (suara) mayoritas, namun mereka tidak ingin memberi kami ‘cek kosong’. Ini adalah tanggung jawab. Kemenangan sesungguhnya akan terjadi dalam waktu 5 tahun ke depan, ketika segala sesuatunya telah benar-benar berubah,” tegasnya.

Partai kanan Front Nasional Prancis di bawah kepemimpinan Marine Le Pen, rival Macron pada Pilpres putaran kedua, yang saat ini memiliki 2 kursi akan mendapatkan sekitar 8 kursi.

Partai tersebut juga mengatakan bahwa pemimpinnya, Marine Le Pen, telah memenangkan sebuah kursi di Utara, bekas lahan pertambangan batubara di sekitar Hénin-Beaumont di Pas-de-Calais. Le Pen selanjutnya akan duduk di parlemen untuk pertama kalinya, setelah 4 kali usahanya di masa lalu selalu gagal. Le Pen merupakan pemimpin Front Nasional (FN) Prancis, sebuah partai sayap kanan yang didirikan oleh ayahnya, tokoh sayap kanan Prancis Jean Marie Le Pen.

FN telah berusaha mencapai ambang batas 15 kursi parlemen yang membolehkannya membentuk  kelompok parlemen yang memberi waktu berbicara lebih banyak dan akses peran yang luas dalam Majelis Nasional. Le Pen dikritik karena dianggap gagal memanfaatkan angka 10,6 juta yang dimenangkannya saat dia memperoleh posisi kedua pada Pilpres bulan lalu melawan Macron.

Le Pen mengatakan, “Tingkat abstain sangat melemahkan legitimasi parlemen baru. Bahkan jika Macron telah memenangkan mayoritas yang kuat, dia harus tahu bahwa idenya hanyalah sebagian kecil di negara ini,” kata Le Pen yang dalam kampanye-kampanyenya mendukung pembatasan imigran dan secara keras mencurigai agama Islam.

Sementara itu, La France insoumise (FI) partai kiri-keras baru, besutan Jean-Luc Mélenchon memperoleh sekitar 19 kursi.

Mélenchon mengatakan, “Tingkat abstain yang ‘menghancurkan’ itu, menunjukkan Prancis tidak lagi percaya pada sistem pemungutan suara yang saat ini berjalan.”

Dia mengatakan, bahwa tingkat abstain yang tinggi berarti menunjukkan partai milik Macron tidak memiliki legitimasi untuk membatalkan undang-undang perburuhan Perancis.

Sekitar setengah dari calon legislatif  partai tengah Macron adalah orang-orang yang tidak diketahui karier politik sebelumnya. Mereka berasal dari akademisi dengan berbagai latar belakang, bisnis atau aktivis lokal. Termasuk diantaranya seorang matematikawan, juga mantan hakim kriminal dan anti-korupsi. Selain itu, jumlah legislator perempuan diperkirakan juga meningkat tajam, lewat partai En Marche!

Macron sekarang tidak hanya telah melampaui ekspektasi sebagai seorang presiden tapi juga telah  sepenuhnya mengendalikan lanskap politik Prancis, meskipun dari hasil pemilu dengan tingkat pemilih rendah, yang akan menjadi tantangan tersendiri bagi Macron.

Yang jelas, Macron saat ini telah memposisikan dirinya sebagai pemain global. Dia dengan berani berdiri sejajar di depan Vladimir Putin dari Rusia, menyebut kantor berita Rusia RT dan Sputnik telah  melakukan “propaganda” sambil berdiri di samping Putin dalam sebuah konferensi pers.

Dia telah menempatkan dirinya sebagai lawan langsung Presiden AS Donald Trump, tentang perubahan iklim, sekaligus menunjukkan “kesetiaannya” terhadap sokoguru Uni Eropa Kanselir Jerman Angela Merkel mengenai isu-isu internasional. Macron juga telah secara nakal mempresentasikan Prancis sebagai alternatif bagi para ilmuwan dan globalis yang berusaha melarikan diri dari Trump’s America. Dalam Pilpres Prancis Trump sangat jelas memihak lawan Macron, Marine Le Pen, yang dianggap memiliki ide sama dengan Trump.

Apa yang akan dilakukan Macron?

Sebagaimana ditulis Washington Post, kemungkinan besar Macron akan mencoba membuat undang-undang reformasi tentang perburuhan sesegera mungkin. Bagaimanapun, meski sebagai presiden Macron memiliki masa lima tahun, tapi kekuatan politik Macron tampaknya mencapai puncaknya dalam minggu ini. Ke depan, Macron mungkin akan menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait abstain yang tinggi dalam pemilu legislatif, yang berarti kemungkinan akan banyak orang yang tidak akan setuju dengan kebijakan yang dikeluarkannya.

Tapi apa pun itu, hari ini, Macron sang fenomenal, dan En Marche!-nya berhak merayakan sebuah babak baru yang cukup radikal dalam sejarah politik Prancis. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here