Festival Permainan Anak Tradisional di Tengah Wabah Game Impor

0
55

Nusantara.news, Kabupaten Malang –  Permainan anak-anak tradisional semakin tergerus oleh wabah permainan impor. Padahal permainan tradisional itu, bukan saja bersumber dari budaya di Tanah Air, tetapi juga mengajarkan kebersamaan di kalangan anak-anak. Berbeda dengan game impor yang biasanya dimainkan dengan perangkat komputer, anak-anak jauh dari kebersamaan, karena biasanya dimainkan sendiri. Kalaupun mereka berinteraksi melalui internet dengan gamer lain, kebersamaan yang terjalin adalah kebersamaan virtual.

Di tengah wabah yang akan mengikis permainan anak tradisional itu, apa yang yang dilakukan oleh siswa-siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 02 Pakis, Kabupaten Malang,  adalah terobosan penting. Mereka menggelar festival budaya dan seni permainan tradisional guna mendidik karakter peserta didiknya, agar lebih mengenal kembali permainan tradisional yang kini makin terkikis dari dampak teknologi instan saat ini.

Sekitar 425 siswa menyemarakkan festival budaya ini, mulai dari kelas 9 ada 4 kelas , kelas 8 ada 5 kelas dan kelas 7 ada 6 kelas yang total keseluruhan siswa SMPN 2 Pakis, Kabupaten Malang.

Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 02 Pakis, Farida Surtikanti menyatakan bahwa dalam rangka meningkatkan mental dan pendidikan karakter berbangsa. “Sejak berkembangnya teknologi seperti media sosial yang berimbas karakter kepada generasi kurang baik, dan hal ini juga dilakukan guna mengantisipasi dampak negatif kepada siswa”. kata dia

Permainan-permainan tradisional yang diagendakan dalam festival ini, yakni seperti gobak sodor, dakon, eggrang dan permainan yang lainnya yang identik sekali anak-anak masa lalu.

Dalam festival permainan tradisional ini semua pihak dilibatkan, baik itu guru dan juga para siswanya. Tidak ada yang dibolehkan menganggur, semua harus beraktivitas dalam meramaikan agenda ini.

Pendidikan karakter tambahan lainya, dalam agenda ini juga mendatangkan guru ngaji dimana peserta didik akan belajar memebaca Al Qur’an selama satu jam, shalat zhuhur berjamaah setiap hari dan shalat dhuha sebagai pembelajaran dalam membangun rasa kebersamaan.

“Kami menjalin kerjasama dengan guru mengaji dan motivator agar peserta didiknya mempunyai wawasan baru tentang pembentukan karakter anak, meningkatkan religiusitas, dan rasa kekompakan dan kasih sayang antar sesama,” tutup Farida. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here