Filosofi – Romantisme Dalam Budaya Mataraman Jawa Timur

0
2598
Bila disebut "Tlatah" Mataraman, itu merupakan Wilayah Mataraman merupakan wilayah yang masih dekat dengan kultur Kerajaan Mataram yang berpusat di Yogyakarta dan Surakarta, salah satu daerahnya adalah Ponorogo

Nusantara.news, Surabaya– Romantis, mistis, dan penuh filosofis mungkin kata yang tepat dalam menggambarkan tlatah ( wilayah) budaya Mataraman jawa timur.  Bagaimana tidak, perpaduan antara Jawa, Hindu dan Islam bercampur menjadi satu di kawasan sepanjang Jombang bagian barat hingga Madiun barat. Menjelaskan Mataraman bukan perkara mudah. Secara historis-genealogis maupun antropologis, kawasan Mataraman telah mengalami rentetan perjalanan panjang.

Inilah peta wilayah kebudayan mataraman di Jawa Timur.

Identifikasi tlatah budaya Mataraman memang bukan perkara mudah. Seperti yang diungkap Djoko Saryono bahwa Mataraman sangat terikat oleh persoalan historis-genealogis, etnografis, geopolitik dan geokultural.

“Pemangku budaya dalam hal ini etnik Jawa sudah tersebar luas, akibat kebijakan pemerintah kolonial dulu maupun pemerintah Indonesia melalui transmigrasi. Pada akhirnya, pengertian yang bertolak dari historis, geopolitik dan geokultural Jawa sudah tidak mampu merangkum seluruhnya,” ungkap Djoko dalam Pemetaan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur;Sebuah Upaya Pencarian Nilai-Nilai Positif.

Selain itu,  Djoko menambahkan budaya Mataram yang terus menerus berproses, dan berdialektika berubah bentuk seiring dengan perubahan dan perkembangan spasial, demografi, sosial dan ekonomi membuat tlatah Mataraman sulit untuk diidentifikasi. Dia mengungkapkan bertahan dan kuatnya pandangan yang melihat budaya Mataraman menurut satuan wilayah dan waktu tertentu. Ini berakibat timbulnya pandangan budaya Mataraman terbatas pada budaya yang berkembang sebelum terbentuknya negara Indonesia pada wilayah-wilayah utama atau lingkaran konsentris kerajaan Mataram.

Wilayah kebudayaan Mataraman secara genealogis erat dengan keraton Yogyakarta dan Surakarta. Pola kehidupan masyarakatnya juga tidak jauh berbeda dengan dua wilayah tersebut. Dari segi bahasa juga hampir mirip namun masih berbeda dari segi tingkat kehalusan. Pun, dengan kesenian atau cara bercocok tanam.

Wilayah kebudayaan yang masuk dalam tlatah Mataraman  ini mencangkup daerah-daerah di bagian barat Jawa Timur, yakni Kabupaten Ngawi, Kabupaten dan Kota Madiun, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Magetan, Kabupaten dan Kota Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten dan Kota Blitar, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Bojonegoro.

Disebut wilayah kebudayaan Mataraman karena pengaruh dari Kerajaan Mataram Kuno yang memiliki wilayah pengaruh kekuaasaan hingga ke pinggir Jawa Timur.

Diberinama Matraman lantaran wilayah ini masih mendapat pengaruh yang kuat dari budaya Kerajaan Mataram. Bila melihat dari adat istiadatnya, masyarakat di wilayah Matraman memang mirip dengan masyarakat di daerah Jawa Tengah terutama Yogyakarta dan Surakarta. Hal yang paling mencolok adalah penggunaan bahasa Jawa yang masih terkesan halus meski tidak sehalus masyarakat di Yogyakarta dan Surakarta.

Cara pandang hidup masyarakat Mataraman juga masih dipengaruhi filsafat hidup Jawa. Cara pandang hidup orang Jawa merupakan gabungan alam pikir Jawa tradisional, kepercayaan Hindu atau Buddha, ajaran filsafat India dan mistisisme Islam. Sedangkan dasar masyarakat Jawa adalah kekeluargaan, gotong royong dan berketuhanan.

“Filsafat hidup orang Jawa adalah pertama, berikhtiar untuk membuka jalan pengertian yang tertutup misteri ke arah kejelasan realitas. Kedua, berfikir sedalam-dalamnya setiap gejala yang akan dipermasalahkan, agar sampai pada kesimpulan yang bersifat umum dan universal. Ketiga, mencari kejelasan antara hubungan sebab-akibat. Keempat, dengan menggunakan suatu sistem dan metode. Kelima, memecahkan masalah dan mencari tujuan,” kata Herusatoto penulis buku “Simbolisme Masyarakat Jawa.

Dalam soal agama dari analisa historis, masyarakat Mataraman yang secara geografis berada di tengah atau pedalaman Jawa lebih bersifat kaum abangan. Istilah abangan merupakan istilah yang disematkan oleh Clifford Geertz, seorang peniliti kelahiran Amerika Setikat.

“Pada wilayah Mataraman pengaruh abangan lebih kuat, yaitu aliran yang beranggapan bahwa agama khususnya Islam tidak penting dalam kehidupan sosial-politik sehingga kelompok masyarakat ini lebih terbuka terhadap ideologi politik lain yang dominan di dunia seperti pada tahun 1960an yaitu komunisme,” beber Geetrz dalam bukunya “Agama Jawa Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa”.

Ciri dan karakteristik yang melekat pada tradisi kehidupan masyarakat Mataraman juga berimplikasi pada budaya politiknya. Masyarakat Mataraman punya khas di mana tidak terjebak dalam loyalitas institusional. Mereka cenderung rasional dan tidak terpengaruh golongan maupun ormas keagamaan.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here