Format Kampanye 5-2 dan Taktik Prabowo Merebut Jawa

0
345
Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno

Nusantara.news, Jakarta – Koordinator Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan Prabowo dan Sandiaga menerapkan format 5-2 dalam berkampanye. Artinya, kata Dahnil, keduanya akan bersafari lima hari di Pulau Jawa dan dua hari di luar Pulau Jawa. Format tersebut digunakan untuk memaksimalkan masa kampanye yang tersisa 3 bulan lagi.

“Kami keliling terus, Jawa itu lima hari (terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur), kemudian dua hari di luar Jawa. Alasan memilih 5 hari berkampanye di Jawa karena di Jawa lebih banyak pemilih,” kata Dahnil.

Sejak masa kampanye resmi diberlakukan pada bulan September tahun lalu, intensitas kampanye pasangan calon capres dan cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, memang cukup membuat terbelalak mata. Sebelum menerapkan taktik kampanye 5-2, BPN juga meluncurkan Buku Biru’ untuk sosialisasi kampanye, dan memindahkan posko pemenangan di beberapa titik di Jawa Tengah yang notabene ‘kandang banteng’ (basis massa PDIP) yang menjadi lumbung suara bagi Joko Widodo (Jokowi).

Tak hanya itu, cawapres Sandiaga Uno juga telah melakukan kunjungan sebanyak 969 daerah. Ia bahkan mengawali tahun 2019 dengan berkunjung ke kota pahlawan, Surabaya. Jika ditelisik, di Jatim dan Jateng safari politik Sandiaga terlihat lebih massif. Hal serupa dilakukan Prabowo, meski tak seintens Sandiaga, mantan Danjen Kopassus ini juga mulai sering terjun ke beberapa daerah.

Dari pendekatan yang agresif di Jateng dan Jatim, nampaknya, kubu oposisi memang tengah memaksimalkan battle of java. Sepertinya, bukan tanpa alasan kubu Prabowo-Sandiaga ingin memenangkan pertarungan Pilpres di pulau Jawa. Hal ini terkait dengan pulau Jawa yang dikenal sebagai daerah yang padat penduduk. Mengapa mengincar Jawa? Sebab, pulau Jawa adalah masih menjadi lumbung suara yang menjanjikan bagi kemenangan salah satu pasangan calon. Istiah Jawa adalah kunci, tampaknya bukan sekadar isapan jempol bagis seorang calon pemimpin politik.

Sebagai pivot area bagi pagelaran pesta demokrasi lima tahunan tersebut, Pulau Jawa memang arena pertempuran politik yang sesungguhnya. Dalam teori geopolitik, pivot area ini digambarkan oleh Sir Halford J. Mackinder sebagai area strategis yang menentukan penguasaan terhadap area lain. Di sekeliling pivot area terdapat inner dan outer crescent, yang paling luar disebut Mackinder sebagai world island.

Mackinder mengatakan bahwa siapa saja yang dapat menguasai pivot area, ia bisa menguasai jantung daratan atau heartland, lalu siapa yang dapat menguasai jantung daratan, maka ia akan mampu menguasai menguasai inner dan outer crescent, maka ia dapat menguasai seluruh dunia.

Dalam konteks politik Indonesia, layaknya teori geopolitik Mackinder, pivot area Pilpres 2019 adalah pulau Jawa. Tentu saja klaim tersebut bukan tanpa alasan. Menurut data KPU, tercatat dari 5 daerah dengan pemilih terbanyak, 4 di antaranya berada di pulau Jawa. Urutannya antara lain adalah Jawa Barat dengan 33.270.845 pemilih. Wilayah lumbung suara lainnya di pulau tersebut adalah Jawa Timur dengan jumlah 30.912.994 pemilih, Jawa Tengah 27.896.902 pemilih, dan yang terakhir adalah DKI Jakarta dengan 7.761.598 pemilih.

Demi merebut suara di pulau Jawa, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga Ketua Umum Partai Demokrat bahkan disebut akan gencar berkampanye di Jateng dan Jatim dan direncanakan satu panggung bersama Prabowo-Sandi. Menurut koordinator relawan Sahabat Prabowo-Sandi Jatim, Fauzi Mahendra, padatnya jadwal kampanye Sandiaga di Jatim semakin memantapkan target menjadikan Jatim lumbung suara bagi Prabowo-Sandi di Pilpres mendatang.

Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memprediksi bahwa pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno akan memenangkan pemilihan presiden yang akan digelar pada 17 April mendatang

Sementara di Jateng, tim pemenangan Prabowo-Sandi akan dipimpin oleh Ketua DPD Gerindra Jawa Tengah Abdul Wahid dan mantan Menteri ESDM yang juga mantan cagub Jateng Sudirman Said. Keduanya akan langsung di bawah supervisi Ketua BPN Djoko Santoso. Mereka kabarnya akan all out menggoyang ‘kandang banteng’. Terlebih, kemenangan tipis Ganjar Pranowo (Cagub Jateng, kader PDIP) yang hanya 16,5 persen atas Cagub Sudirman Said pada Pilkada Jateng tahun lalu, menjadi modal awal kepercayaan diri kubu oposisi.

Jika mesin-mesin politik Prabowo-Sandiaga saat ini mulai panas dan bergerak massif, maka bukan tidak mungkin Jawa akan mampu dikuasai. Itu artinya, berpeluang memenangkan pertarungan Pilpres. Apalagi trend dan animo masyarakat di beberapa daerah yang mendukung Prabawo-Sandi di Pilpres 2019 ini tampak lebih besar ketimbang Pilpres 2014 lalu. Tentu saja hal ini sekaligus pertanda buruk bagi Jokowi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here