Foto Vulgar Azwar Anas, Kampanye Hitam atau Kampanye Negatif?

0
222
Saifullah Yusuf dan Abdullah Azwar Anas, Pasangan Cagub-Cawagub Jatim. Anas akhirnya mundur karena tersandung foto vulgar

Nusantara.news, Jakarta – Air mata Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, seketika mengalir deras saat membicarakan pengunduran diri Abdullah Azwar Anas dari pencalonan sebagai Wakil Gubernur Jatim mendampingi Calon Gubernur Saifullah Yusuf yang diusung koalisi PDIP-PKB. Anas mengundurkan diri dari pencalonan setelah foto vulgar yang diduga dirinya bersama ‘paha’ perempuan di dalam mobil beredar beberapa hari terakhir.

“Kami bisa memahami perasaan dari Azwar Anas. Kami mengutuk sekeras-kerasnya kepada pihak-pihak mana pun yang melakukan kampanye hitam, sehingga benih-benih yang baik dipatahkan di tengah jalan. Siapa yang menghalalkan segala cara, tidak akan mendapat tempat di republik yang mencintai kedamaian dan beretika ini,” tegas Hasto usai mengikuti pertemuan di kediaman Megawati Soekarnoputri, Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (6/1/2018). .

Hasto menambahkan, ada upaya pembunuhan karakter oleh pihak tertentu di balik isu mundurnya Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sebagai bakal calon wakil gubernur Jawa Timur itu. Serupa dengan Hasto, Anas pun menuding apa yang menimpa dirinya sebagai pembunuhan karakter yang sering terjadi menjelang pilkada.

“Ada sejumlah upaya pembunuhan karakter, termasuk teror yang kerap saya diterima dan keluarga. Jadi, terkait apa yang menjadi desus-desus itu, saya sudah biasa,” kata Azwar Anas, Jumat (5/1).

Kampanye Hitam atau Kampanye Negatif?

Jika dicermati, ada dua kata yang harus di-stabilo terkait ucapan kedua elite politik partai banteng itu terkait tanggapan “foto syur” yang mengemuka ke muka publik: kampanye hitam, dan pembunuhan karakter.

Pertama soal kampanye hitam (Black Campaign), penyebutan istilah ini seringkali disamaartikan dengan istilah kampanye negatif (Negative Campaign). Padahal keduanya mengandung arti dan substansi yang berbeda. Kampanye hitam adalah propaganda fitnah, bohong, hoax, untuk menjatuhkan lawan. Dan itu tidak diperkenankan. Sebab kampanye hitam hanya melahirkan politik kotor, tak beretika, dan barbar.

Sedangkan kampanye negatif adalah penyampaian informasi negatif tentang seorang calon, terkait rekam jejaknya di masa lalu, pencapaian kinerja yang buruk, skandal-skandal yang membelitnya seperi seks, korupsi, tindak pidana kriminal, dan lainnya. Rekam jejak itu dimunculkan berdasarkan bukti dan bukan fitnah belaka. Karena itu, kampanye negatif dibolehkan, agar rakyat mendapatkan informasi yang benar tentang bakal/calon pemimpin mereka. Narasi atau catatan kelam yang tidak semua masyarakat tahu, akhirnya bisa diketahui secara terbuka. Dengan begitu, rakyat terhindar dari para pemimpin palsu.

Apa yang menimpa Azwar Anas sebenarnya adalah bentuk kampanye negatif. Foto-foto tak senonohnya yang beredar di masyarakat tak pernah ditepis baik oleh Anas maupun Hasto. Padahal untuk membuktikan keaslian foto tersebut sangat mudah dilakukan: bantah secara terbuka, paparkan hasil ahli IT terhadap foto itu, bandingkan foto asli dengan hasil rekayasa. Jika terbukti itu fitnah, Anas tak perlu mundur dari pencalonan. Tapi ini tidak dilakukan. Penjelasan Anas lewat keterangan tertulisnya hanya menyebut: “Saya dikirimi macam-macam gambar di masa lalu untuk mencegah saya mengambil kebijakan-kebijakan tertentu.” Diksi pada kalimat tersebut, Anas secara tersirat tak membantah foto-foto itu berasal dari ‘masa lalunya’.

Foto pria berwajah mirip Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di dalam bersama wanita (tampak paha). Karena foto Azwar ini, membuatnya mundur dari pencalonan Wakil Gubernur Jatim dampingi Gus Ipul

Kedua, soal pembunuhan karakter. Pembunuhan karakter atau perusakan reputasi adalah usaha-usaha untuk mencoreng nama baik seseorang. Tindakan ini dapat meliputi pernyataan yang melebih-lebihkan atau manipulasi fakta untuk memberikan citra yang tidak benar tentang orang yang dituju.

Contoh pembunuhan karakter yang paling sensasional adalah skandal politik di Perancis pada tahun 1894 yang dikenal dengan nama affair Dreyfus. Alfred Dreyfus adalah seorang perwira angkatan darat Perancis keturunan Yahudi yang dijatuhi hukuman seumur hidup sebagai pengkhianat karena membocorkan rahasia negara kepada Jerman. Berbagai bukti yang menunjukkan bahwa dia tidak bersalah tidak menyurutkan pengadilan menjatuhkan hukuman kepadanya.Dia menjalani hukuman penjara sepuluh tahun sebelum akhirnya terbukti bahwa semua tuduhan itu adalah ‘palsu’ dan merupakan perbuatan dari pihak-pihak yang tidak menyukainya.

Berkaitan dengan Anas, jika memang ada pembunuhan karakter terhadap dirinya yang membuat jatuhnya marwah dan citranya, utamanya dalam politik, sedianya harus dilaporkan ke aparat kepolisian untuk diproses. Sayangnya, perkara ini tak dilakukan Anas. Pun, Hasto dalam wawancaranya di sebuah stasiun  televisi ketika ditanya apakah akan melaporkan penyebar ‘foto syur’ Azwar Anas, Hasto tak berniat melakukan itu.

Alih-alih menginsyafi kelalaian internal atau bersyukur karena mendapat kontrol publik soal jejak rekam bakal calon pemimpin, justru menganggap cara-cara lawan politiknya tak beretika. Tudingan-tudingan ke pihak luar, meski sebenarnya tak perlu, tapi secara politis bisa bernilai plus. Sebab dengan itu (langsung atau tidak), isu pengunduran diri Anas dari cawagub bisa dijadikan bahan ‘playing victim’. Terlebih, di negeri ini politik pencitraan yang seolah-olah “teraniaya”, mudah mendapatkan simpati dan suara dari rakyat.

Berkaca Pada Skandal Seks Presiden Bill Clinton

Berkaca dari kasus skandal seks Presiden Amerika Serikat yang menimpa Monica Lewinsky pada 1998, tak lantas itu disebut kampanye hitam atau bahkan pembunuhan karakter terhadap presiden. Sebab kasus itu memang fakta adanya. Monica ketika itu mengaku dirinya pernah mengalami pelecehan seksual di Gedung Putih, pelakunya tak lain adalah sang presiden Bill Clinton. Sontak, publik seantero Amerika pun geger. Parlemen ikut angkat bicara. Bahkan Clinton nyaris saja di-impeach, sampai akhirnya pada ‘injury time’ Bill memilih untuk mengakui perbuatannya, bahwa benar dia pernah memaksa Monica, pekerja magang di Gedung Putih, untuk melayani nafsu seksualnya. Didampingi istri dan anaknya yang setia, Bill kemudian meminta maaf kepada seluruh rakyat Amerika. Dan ternyata, ketika Clinton mengakui perbuatannya, dia pun bebas dari impeachment.

Kasus Bill Clinton dan Monica Lewinsky adalah salah satu skandal seks pimpinan negara yang menghebohkan dunia

Terlepas dari perilaku menyimpang itu, kejujuran Clinton dipandang lebih baik. Di negara adidaya tersebut, meski urusan seks bebas sesuatu yang lumrah, namun mereka menginginkan para politisinya dan pemimpinnya menjadi teladan dalam segala hal. Para pejabat publik dituntut untuk ‘suci’ di mata rakyatnya.

Berkebalikan dengan di sini, betapa pun tabunya seks bebas dan dijunjungnya adab ketimuran, namum skandal seks dan korupsi para pejabat kerap terjadi di balik panggung publik. Modusnya: perselingkuhan, gratifikasi seks (perempuan), politik uang, dan sejenisnya. Di atas panggung, mereka tetap berlaga ‘orang suci’. Jika praktik aib itu terungkap, beribu cara dilakukan untuk mengelak, alibi pembunuhan karakter lekas dijadikan senjata menyerang pihak luar. Jabatan publik yang disandangnya pun, ogah dilepaskan.

Karena itu, kampanye negatif jika benar tentu baik dan sah, tak ada urusan terhadap pembunuhan karakter. Di sebuah negara yang tingkat kedewasaan berpolitik dan tingkat pendidikannya mapan, tidak mudah terpengaruh oleh permainan politik. Mereka punya rasionalitas sendiri-sendiri dalam melihat figur calon. Terhadap persebaran hoax, mereka punya cara menyeleksi informasi yang datang. Sayangnya populasi masyarakat politik seperti ini jumlahnya amat minim.

Dalam kontestasi calon pemimpin, jejak positif dan prestasi membanggakan seorang figur tentu menjadi jualan. Sebaliknya, pihak lawan cenderung ingin menyuguhkan fakta yang menjadi kelemahannya. Itu hal wajar dalam berpolitik. Tak perlu alergi dengan kampanye negatif, yang kita tolak adalah kampanye hitam. Kalau merasa punya skandal terlalu banyak, meski disembunyikan, apalagi masih dilakukan, sebaiknya diurungkan. Kita perlu pemimpin yang bersih, punya prestasi, dan mumpuni. Kalau merasa demikian, silakan maju.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here