‘Frexit’ Jadi Tema Menentukan di Pemilu Prancis

0
211

Nusantara.news, Paris – Apa yang mencolok dari perhelatan Pemilu Presiden Prancis yang bakal berlangsung bulan April tahun 2017 ini? Selain menguatnya kandidat calon presiden populis dari partai sayap kanan, Marine Le Pen, Pemilu Prancis juga mengangkat agenda ‘Frexit’ sebagai tema kampanye yang menentukan.

Hasil Pemilu Prancis akan memberikan gambaran sikap rakyat Prancis terhadap Uni Eropa. Apakah Prancis akan tetap tinggal atau memutuskan keluar dari Uni Eropa (Frexit) menyusul yang dilakukan Inggris (Brexit).

Marine Le Pen, pemimpin partai sayap kanan Front Nasional jelas sikapnya akan membawa Prancis meninggalkan Uni Eropa dengan melakukan referendum sebagaimana halnya Inggris, jika dia terpilih sebagai presiden.

Sementara, Emmanuel Macron, mantan menteri ekonomi berusia 39 tahun yang mundur pada Agustus 2016 lalu dari pemerintah François Hollande dan maju sebagai calon independen, secara implisit menolak Prancis meningglkan Uni Eropa.

Keduanya, Le Pen dan Macron adalah kandidat terkuat capres Prancis, setelah Francois Fillon, kandidat lainnya, popularitasnya menurun akibat skandal pekerjaan ilegal yang dilakukan istrinya (Penelope Gate) dan kedua anaknya yang diduga merugikan uang negara. Le Pen dan Macron berada pada dua kutub yang berlawanan menyikapi ‘Frexit’ dan agenda ini diprediksi bakal sangat menentukan kemenangan salah satunya.

Partai FN merujuk sebuah studi IMF baru-baru ini yang menunjukkan euro terdevaluasi hingga di bawah 15% di Jerman dan 6% di Prancis. Data ini sebagai bukti bahwa Prancis mengalami kerugian kompetitif.

Partai FN, dalam hal ini Marine Le Pen, berpendapat bahwa satu-satunya alasan Prancis dapat bertahan menjadi anggota “rezim nilai tukar”,  untuk mengejar devaluasi internal dengan memotong perlindungan sosial dan mengurangi upah. Alternatif lain, ‘berhenti dari zona euro’.

Sementara Macron, meski tidak secara eksplisit menolak atau mendorong Frexit, namun sejak awal mantan menteri ekonomi Hollande ini pro-Uni Eropa. Macron berkampanye tentang perubahan sektor publik, sistem kesejahteraan dan aturan ketenaga-kerjaan, yang katanya diperlukan untuk mengembalikan daya saing negara. Macron menganjurkan sistem kesejahteraan yang lebih fleksibel.

Di sisi Le Pen, meyakini tidak ada cara untuk pemotongan kesejahteraan, Front Nasional ingin memberikan keamanan ekonomi serta kesejahteraan sosial, membantu untuk menjaga konsumsi rumah tangga. Ia berpendapat bahwa satu-satunya cara untuk mempertahankan sistem kesejahteraan adalah berhenti dari zona euro.

Program Le Pen tentu saja bertumpu pada sejumlah asumsi. Pertama ‘Frexit’ dapat dikelola dengan cara yang teratur. Front Nasional percaya hal tersebut dimungkinkan karena di bawah hukum internasional semua utang pemerintah akan diredenominasi ke dalam mata uang nasional yang baru, sehingga tidak ada risiko kebangkrutan nasional.

Sebagai negara dengan ekonomi terbesar kelima di dunia saat ini, mereka yakin Prancis memiliki kekuatan untuk bernegosiasi dengan mitra Uni Eropa.

Namun demikian, tantangan Le Pen adalah meyakinkan rakyat Prancis bagaimana proses Frexit itu menguntungkan rakyat negara itu. Sebagaimana di ketahui, hingga saat ini Brexit yang dilakukan Inggris belum memiliki dampak yang banyak bagi ekonomi Inggris. Ini akan menjadi pertimbangan rakyat Prancis.

Macron dalam konteks ini dapat mengambil kesempatan untuk memenangkan “pertarungan” agenda kampanye. Masih banyak pemilih Prancis melihat Le Pen sebagai pemecah belah dan ancaman bagi demokrasi.

Sebuah jajak pendapat baru yang diterbitkan pada 17 Februari 2017 oleh PrésiTrack OpinionWay/ORPI menunjukkan bahwa elektabilitas Marine Le Pen terus memimpin di putaran pertama (26 persen). Emmanuel Macron dan Francois Fillon masing-masing dengan 20 persen suara. Capres lain, Benoit Hamon diperkirakan pada posisi berikutnya dengan 16 persen.

Meski Le Pen memimpin di putaran pertama, tapi diperkirakan dia akan kehilangan suara di babak kedua, meskipun dukungan untuknya masih terus bertambah.

Dalam survei head to head Macron-Le Pen, diprediksi Macron menang dengan mengantongi suara 60 persen (turun dari 64 persen dari survei sebelumnya). Jika Le Pen dihadapkan dengan Francois Fillon juga masih kalah meskipun tipis, Fillon akan menang dengan suara 57 persen (turun 2 persen dari survei sebelumnya).

Saat koresponden ditanya, “menurut pendapat Anda, siapa yang akan terpilih sebagai presiden,” 34% mendukung Macron (turun 4% dari survei sebelumnya), Le Pen (21%) dan Fillon (20%) serta Hamon tertinggal pada angka 12%. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here