FTC Selidiki FB Terkait Skandal Konsultan Politik CA

0
413
Mark Zuckerberg dan jajaran pimpinan Facebook lainnya bersiap menghadapi panggilan Federal Trade Commission (FTC) selaku lembaga perlindungan konsumen AS yang memiliki kewenangan penuh melakukan penyelidikan

Nusantara.news, JakartaFederal Trade Commission (FTC) – sebuah lembaga perlindungan konsumen di Amerika Serikat (AS) – diberitakan akan menyelidiki Facebook (FB) terkait tudingan penyalahgunaan 50 juta akun FB oleh perusahaan konsultan politik yang bermarkas di London. Saham FB pun dikabarkan jeblok menyusut sekitar US$ 60 miliar paska pemberitaan yang menghebohkan itu.

Cambridge Analytica (CA) yang disewa Tim Kampanye Trump pada Pemilu Presiden AS 2016 – dituding mengambil data pribadi tanpa diketahui oleh pengguna. Terkait berita heboh itu – pimpinan CA – Alexander Nix telah dibebas-tugaskan oleh Dewan Perusahaan. Langkah itu muncul setelah perusahaan itu terancam dakwaan telah melanggar UU Pemilihan AS. Namun CA menyangkal telah melakukan kesalahan sebagaimana yang dituduhkan.

Tanggung Jawab FB

Parlemen Inggris dan Uni Eropa pada Rabu (21/3) ini telah meminta pemilik FB Mark Zuckerberg untuk memberikan bukti kepada mereka – data-data pengguna tidak disalahgunakan oleh pihak mana pun.

Kantor Pusat Facebook di California

Saat briefing bersama staf yang membahas tentang krisis di kantor pusatnya, California, AS, pada Selasa (20/3) kemarin, Zuckerberg tidak terlihat hadir. Dia digantikan oleh Wakil Penasehat  Umum Paul Grewal yang memimpin rapat, demikian dilaporkan oleh kantor berita The Daily Beast.

Wartawan BBC yang membidangi teknologi informasi dengan wilayah peliputan Amerika Utara, David Lee, menganalisis kejadian yang menimpa Facebook dengan judul berupa pertanyaan, “Akhir Sebuah Era Pengaturan Diri?”

Kejadian dibobolnya data akun pengguna FB itu – ungkap David – telah menuai kecaman keras dan penuh amarah kepada pemiliknya Mark Zuckerberg yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Mereka marah karena “ditipu” oleh CA. Dan FB tampaknya “sedang bersiasat” bahwa perusahaannya juga berposisi sebagai korban.

Karyawan di perusahaan yang biasanya pagi itu ditelepon oleh Direktur Eksekutif mereka, kali ini langsung dihubungi oleh penasehat hukum perusahaan. Seorang juru bicara FB kepada media mengatakan, Zuckerberg dan wakilnya – Sheryl Sandberg – sedang begitu sibuk sehingga tidak ada waktu berbicara dengan stafnya sendiri.

Rabu (21/3) waktu setempat – atau Selasa dini hari waktu Indonesia – FB mengirimkan perwakilan ke Washington untuk menjawab pertanyaan Kongres – sebagai langkah pertama yang sudah dijadwalkan untuk menjelaskan kepada penyelidik bagaimana “kecerobohan” itu bisa terjadi.

Kerugian yang ditanggung FB telah lebih dari US$ 60 miliar sejak berita itu pecah di publik. Tentu itu akan memiliki dampak yang luas bagi Silicon Valley – karena tampaknya era teknologi informasi yang selama ini mengatur dirinya sendiri akan segera berakhir secara dramatis, begitu tulis David Lee di kolom analisisnya.

Penyelidikan FTC

FTC adalah lembaga Independen yang dibentuk pemerintah AS yang bertugas melindungi konsumen. Tidak seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang swadaya murni dan tidak memiliki kewenangan apa pun selain press conference – FTC memiliki kewenangan menyelidiki suatu produk – barang maupun jasa – yang beredar di AS.

Beberapa perusahaan raksasa seperti Nissan pernah berurusan dengan lembaga ini dan dipaksa menarik produknya yang terbukti bermasalah.

Kini FTC sedang menyelidiki apakah FB melanggar ketentuan yang diputuskan tahun 2011 tentang perlindungan privasi jejaring sosial, ungkap sebuah sumber di FTC yang mengaku tidak berwenang bicara atas nama FTC kepada Washington Post.

Hal itu dikonfirmasi oleh laporan kantor berita “Blomberg” yang juga mengutip keterangan dari “sumber yang tidak disebutkan identitasnya namun mengaku mengetahui masalah ini”.

Berdasarkan keputusan tahun 2011, FB harus memberi tahu pengguna dan mendapatkan izin mereka sebelum data miliknya dibagikan ke pihak luar. Itulah peraturan privasi yang mengikat semua perusahaan yang bergerak di bidang sosial media, tulis Washington Post. FB juga diwajibkan membuka akses 20 tahun pemeriksaan privasi untuk memastikan kepatuhan.

FB sendiri telah memberitahukan kepada media, pihaknya justru mengharapkan segera menerima surat dari FTC dengan pertanyaan tentang data yang diperoleh CA. Namun FB juga mengatakan pihaknya tidak memiliki indikasi penyelidikan formal, demikian pernyataan FB sebagaimana dikutip dari Reuters.

“Kami tetap berkomitmen untuk melindungi informasi pengguna,” terang wakil pejabat untuk urusan privasi di FB – Rob Sherman. “Kami menghargai kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang mungkin akan disampaikan FTC.”

Dalam pernyataannya hari Selasa kemarin – ungkap Rob : “Seluruh pimpinan dan staf di perusahaan kami marah karena tertipu. Kami berkomitmen menegakkan kebijakan kami untuk melindungi informasi pengguna dan akan mengambil langkah apa pun yang diperlukan untuk memastikannya.”

Dugaan Tindak Pidana CA

Christopher Wylie – yang bekerja dengan perusahaan konsultan – mengaku dia mengumpulkan sejumlah besar data melalui kuis kepribadian di FB yang disebut “This is Your Digital Live”. Dia bersaksi ada sekitar 270 ribu menjadi peserta kuis – namun ada data sekitar 50 juta pengguna – terutama di AS telah diunduh tanpa persetujuan eksplisit pemiliknya melalui jaringan teman-teman mereka.

Alexander Nix terlihat meninggalkan kantornya di London melalui pintu belakang

Wylie mengaku data itu dijual ke CA – yang kemudian diduga menggunakannya untuk memberi komentar secara psikologis di jaringan FB dan memberikan materi pro-Trump kepada mereka – dengan maksud mempengaruhi hasil pemilihan 2018.

Namun pernyataan itu telah dibantah CA yang mengaku pihaknya telah mengikuti prosedur secara benar dalam memperoleh dan menggunakan data – tapi itu data itu telah di-non-aktifkan oleh FB sejak pekan lalu.

Chanel 4 News yang melakukan investigasi rahasia ke sarang CA, melaporkan apa yang dilakukan CA mungkin telah melanggar UU Pemilihan AS – yang melarang koordinasi antara Tim Kampanye resmi dengan kelompok luar, atau istilah Amerika “PAC Super”.

Terlebih gambar eksekutif CA telah ditayangkan ke public saat mendiskusikan “strategi jalur kembar” untuk kampanye. Strategi jalur kembar itu : pesan-pesan positif akan disampaikan melalui kampanye calon presiden – ketika itu – Donald Trump, sedangkan iklan yang berisi serangan kepada musuhnya dilakukan oleh tim dari luar.

Bicara tentang kerja CA untuk kampanye Trump, Nix mengatakan kepada tim yang menyamar: “Kami melakukan semua penelitian, semua data, semua analisis, semua penargetannya. Kami menjalankan semua kampanye digital, kampanye televisi dan data kami menginformasikan semua strategi.”

Pada saat yang sama – direktur pengelola CA Mark Turnbull – juga menegaskan CA telah menciptakan iklan untuk menyerang Hillary yang didanai oleh sebuah “PAC Super” bernama Make American Number One.

Setelah investigasi itu ditayangkan di televisi CA membantah telah melakukan kesalahan. Mereka mengkalim beroperasi sesuai dengan “firewall” yang ketat dan transparan tentang kegiatan yang mereka lakukan.

Pengamanan Data

Bagi pengguna FB ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika Anda ingin membatasi siapa saja yang memiliki akses ke data anda, dengan cara

(1)   Awasi aplikasi – terutama yang mengharuskan Anda masuk menggunakan akun FB – mereka sering memiliki rentang izin yang sangat luas dan banyak yang sebenarnya memang dirancang untuk mengambil data anda.

(2)   Gunakan pemblokiran iklan untuk membatasi iklan.

(3)   Lihat pengaturan keamanan FB anda dan pastikan anda mengetahui apa yang diaktifkan. Periksa pengaturan aplikasi individu untuk melihat apakah anda telah memberi mereka izin untuk melihat teman-teman nda serta data diri anda sendiri

.(4)   Anda dapat mengunduh Salinan data yang disimpan di FB meskipun itu tidak komprehensif. Ada tombol download di bagian bawah tab Pengaturan Akun Umum. Tapi ingat, data mungkin kurang aman jika perangkat anda diretas

.(5)   Anda mungkin dapat meninggalkan FB, tapi kelompok International Privacy juga mengingatkan persoalan privasi sudah meluas di luar jaringan sosial.

“Fokus saat ini adalah melindungi data Anda yang dieksploitasi oleh pihak ketiga, namun data anda akan terus dieksploitasi,” ucap seorang Juru Bicara International Privacy – sekaligus mengingatkan banyak aplikasi di ponsel yang memiliki izin mengakses data lokasi, keseluruhan buku telepon dan sebagainya.

Jadi bobolnya data 50 juta pengguna FB hanya puncak gunung es. Karena faktanya data-data pribadi yang dicuri lewat perangkat ponsel lebih banyak lagi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here