G-30-S/PKI, Kisah Kelam yang tak Harus Diredam

1
63

Nusantara.news, Surabaya – Bangsa Indonesia berada di persimpangan ketika peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) terjadi. Jika sukses, peristiwa yang diawali penculikan dan pembunuhan 6 jenderal TNI AD dan satu perwira pertama di Jakarta serta 1 jenderal dan 1 perwira menengah di Yogyakarta, bakal menentukan ideologi bangsa. Tetap berpegang teguh pada Pancasila atau mengekor pada salah satu kekuatan besar kala itu, komunisme!

“Sebagai generasi muda, kita tergerak untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa G-30-S/PKI merupakan peristiwa sangat penting yang bisa menentukan nasib bangsa Indonesia dalam perjalanan berbangsa dan bernegara di masa depan,” Wakil Ketua Bidang Iptekkominfo DPD Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI) Jawa Timur, Junartha Yusuf kepada Nusantara.News, Rabu (4/10/2017).

Di tengah gejolak pro kontra masih relevankah ideologi yang tidak mengakui adanya Tuhan akhir-akhir ini, kewaspadaan memang harus terus digelorakan. Apalagi sejarah membuktikan jika PKI sudah 3 kali berupaya meraih kekuasaan kendati harus mengorbankan sesama anak bangsa. Ironisnya, sebagian besar korban merupakan umat Islam yang mayoritas di Indonesia.

Apa yang dilakukan DPD AMPI Jawa Timur dengan menggelar acara nonton bareng (nobar) Film G-30-S/PKI, Selasa (3/10/2017) malam di sebuah warung angkringan di kawasan Bratang Surabaya, menjadi cara untuk menunjukkan bahwa PKI dengan komunismenya harus tetap diwaspadai. Apalagi komunisme dalam setiap perebutan kekuasaan, selalu diikuti penghabisan rakyat yang tidak sepaham. Situasi itu yang coba dicegah beberapa elemen bangsa ini, seperti DPD AMPI Jawa Timur.

Memang setelah sempat dihentikan pada 1998, desakan agar film arahan Arifin C Noer diputar lagi untuk khalayak kembali merebak. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bahkan sudah menginstruksikan seluruh jajarannya untuk menggelar nobar dengan masyarakat umum. “Kejadian itu memang sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Sejarah itu tidak mustahil kembali terulang kendati banyak pihak saat ini menganggap komunisme dan PKI-nya hanyalah ancaman hantu di siang bolong,” kata pria yang akrab dipanggil Jojo tersebut.

Danramil 0831/03 Gubeng Mayor CHB Sujarwo dalam sambutan nobar malam itu, sempat menyiratkan jika banyak generasi muda yang mulai mengabaikan fakta sejarah tersebut. Padahal TAP MPRS Nomor XXV/1966 tentang pembubaran PKI dan pelarangan paham komunisme serta atributnya hingga kini belum dicabut pemerintah. “Generasi muda jangan sampai melupakan sejarah itu. Jangan sampai terulang dan harus bisa menjaga keutuhan dan persatuan dengan tidak mudah larut dalam isu pecah belah,” katanya.

Karenanya, kisah kelam yang dampaknya masih terasa hingga kini tersebut harus jadi pelajaran berharga bagi Bangsa Indonesia. Tidak harus diredam dengan dalih komunisme sudah tidak relevan dengan situasi global saat ini. Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan sangat mendukung jika luka sejarah itu tetap harus ditunjukkan dengan mendukung film G-30-S/PKI kembali diputar.

“MUI mendukung setiap usaha yang ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat Indonesia akan bahaya ideologi yang bertentangan dengan ideologi negara yaitu Pancasila. Salah satu usaha tersebut adalah pemutaran kembali film Penumpasan dan Pengkhianatan G30S/PKI yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan kewaspadaan kepada masyarakat, khususnya generasi muda terhadap bahaya ideologi komunisme,” kata Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid dalam keterangan tertulisnya beberapa waktu lalu.  []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here