Gagal di DKI, PDIP Siapkan Djarot di Pilgub Jatim?

0
345
Djarot Saiful Hidayat

Nusantara.news, Surabaya – Pilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran II, Selasa (19/4/2017) sudah rampung. Petahana gagal, meski belum memasuki perhitungan secara manual, namun hasil quick count dari beberapa lembaga survei yang terverifikasi menyatakan pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno unggul jauh dengan margin dua digit.

Pilkada DKI Jakarta memang syarat kepentingan. Adu strategi antara tiga figur politisi besar di Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Megawati Soekarno Putri dan Prabowo Subianto. Adu strategi di Pilkada DKI akhirnya berhasil dimenangkan Prabowo.

Bagaimana dengan SBY dan Megawati? Apakah akan tinggal diam? Hasil Pilkada memang tak bisa dijadikan patokan untuk mengukur kinerja sebuah partai dan koalisinya. Masih banyak agenda-agenda ke depan yang lebih penting, dan salah satunya adalah Pilkada Jawa Timur 2018 yang dinilai tak kalah seksinya dengan Pilkada DKI Jakarta. Baik Mega maupun SBY tentu sudah menyiapkan calonnya untuk bisa keluar sebagai pemenang di Pilgub Jatim.

Sebagai politisi, Mega dan SBY tak ingin menuai hasil pahit untuk kedua kalinya kalah dari Prabowo. Jatim dianggap sebagai salah satu barometer politik nasional.  Sementara arah kebijakan partai di Pilgub Jatim masih belum menunjukkan gejala yang jelas. Semua partai besar masih menunggu hasil Pilkada DKI Jakarta. Sampai saat ini mereka belum menentukan siapa calon yang dianggap pas untuk bertarung di Pilgub Jatim.

Sebagai partai pemenang Pemilu, PDIP tentu tak ingin kalah lagi di Jatim. Gagal di DKI, PDIP akan fokus untuk memenangkan Pilgub di Jatim. Namun yang menjadi pertanyaan saat ini apakah PDIP akan menarik Djarot Saiful Hidayat maju di Pilgub Jatim pasca kegagalannya mengamankan kursi DKI 1?

Sekretaris DPD PDIP Jatim, Sri Untari mengatakan ada beberapa mekanisme yang dilalui saat penjaringan calon gubernur Jatim. “Mekanismenya yaitu nanti DPC PDIP se Jatim menjaring beberapa nama. Lalu disetorkan di DPD PDIP dan oleh DPD diserahkan ke DPP. Nantinya oleh DPP diplenokan dan Ketua Umum  yang menentukan,” jelasnya.

Namun, Sri Untari menambahkan, setiap calon harus mengerti langsung tentang Jawa Timur. “Orang Jawa Timur belum tentu mengerti tentang Jawa Timur. Kalau dipimpin Gubernur tak mengerti Jawa Timur bisa susah nantinya. Harus mengerti Jawa Timur dari semua aspek,” tandasnya.

Nah, Djarot sendiri bukan nama yang asing di Jatim. Dia pernah menjabat sebagai Wali Kota Blitar sejak 3 Mei 2000 hingga 3 Agustus 2010 dan anggota DPRD Jawa Timur sejak 1999 hingga 2000. Dari sisi ini jelas dia memenuhi kualifikasi yang ditentukan itu. Artinya, peluangnya Djarot terbuka lebar untuk maju di Pilgub Jatim. Apalagi, partai berlambang mocong putih itu sampai detik ini belum memberikan dukungannya kepada calon yang dianggap pas.

Dia akan bersaing dengan opinion leader di Jatim saat ini, yakni Wagub Saifullah Yusuf dan Mensos Khofifah Indar Parawansa. Juga ada nama walikota Tri Risma Harini dan Bupati Abdullah Azwar Anas. Namun dua nama terakhir disebut masih enggan untuk maju di Pilgub Jatim dan lebih memilih pada daerahnya masing-masing.

 

Tetapi, pengamat politik yang juga Direktur Pusat Demokrasi dan HAM (Pusdeham) Universitas Airlangga Muhammad Asfar menyatakan, kurang tepat jika PDIP menarik Djarot ke Pilgub Jatim.

“PDIP adalah partai besar dan mempunyai kader yang lebih baik dan elektabilitasnya lebih tinggi ketimbang Djarot. Terutama Risma. Apalagi kalau PDIP bisa menduetkan Risma dengan Abdullah Azwar Anas, sebagai Cagub dan Cawagub atau sebaliknya. Duet ini akan lebih kuat untuk bertarung dengan Khofifah yang mempunyai dukungan kuat kaum nadhliyin Jatim,” jelasnya kepada Nusantara.news, Rabu (19/4). []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here