Gagas Agrikanas, MUI Ajak Pesantren Wujudkan Swasembada Kacang

0
54
MUI bersama GarudaFood Group melakukan tanam perdana bibit kacang tanah di Desa Alang Kemangi Kecamatan Dander, Bojonegoro, Jawa Timur. Program Agrikanas merupakan inisiasi MUI dalam membangun Kemitraan Model Segitiga (MISETI) untuk mewujudkan Arus Baru Ekonomi Umat.

Nusantara.news, Bojonegoro – Saat ini akar Islam Kultur sudah hilang. Kultur itu adalah hilangnya mata pencaharian di pedesaan yang pernah diajarkan pendahulu. Jika tadinya masyarakat menggunakan kultur berbasis pertanian dan kehutanan, tapi karena perubahan gaya hidup, mereka berubah dari kultur produksi menjadi konsumsi.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) tampaknya percaya bahwa untuk menjaga pencaharian pedesaan adalah dengan menjaga kondisi hutan untuk tidak dirusak. Masyarakat bisa memanfaatkan areal hutan untuk menjadi tenaga harian lepas dengan tugas menjaga dan merawat tanaman yang ada di hutan.

Dengan munculnya program Perhutanan Sosial, MUI ingin membangkitkan kembali kultur Islam tersebut, yakni membangun ekonomi umat. Caranya, mengajak Ormas Islam dan pondok pesantren untuk memberdayakan jagung dan kacang-kacangan di Jawa Timur.

Ya, MUI bersama GarudaFood Group meluncurkan program Agrikanas (Agribisnis Kacang Nasional) di Desa Alang Kemangi Kecamatan Dander, Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (31/10/2017). Program ini merupakan inisiasi MUI dalam membangun Kemitraan Model Segitiga (MISETI) untuk mewujudkan Arus Baru Ekonomi Umat.

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) secara simbolis ini dilakukan oleh KH Ma’ruf Amin selaku Ketua Umum MUI dan Hartono Atmadja selaku Komisaris GarudaFood Group disaksikan Teten Masduki, Kepala Staf Presiden dan Sudhamek AWS Chairman GarudaFood Group. Realisasi tahap pertama kemitraan ini dibuktikan dengan melakukan tanam perdana bibit kacang tanah.

Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin dan Komisaris GarudaFood Group Hartono Atmadja (kanan) menandatangani nota kesepahaman (MoU) Program Agrikanas dengan disaksikan Kepala Staf Presiden, Teten Masduki.

Program Agrikanas merupakan upaya untuk mempercepat pelaksanaan dan realisasi dari Kongres Ekonomi Umat MUI yang melibatkan banyak pihak termasuk Perhutani, LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), PTPN, organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam (MUI) dan organisasi di bawahnya, pondok- pondok pesantren dan petani penggarap serta pihak swasta seperti GarudaFood Group.

Posisi MUI diwakili pengurus Pinbas KPEU (Pusat Inkubasi Bisnis Syariah Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat) sebagai regulator Ekonomi Umat (Ekomat), juga sebagai Koordinator & Pengarah Program. Dari unsur pemerintah adalah keterlibatan Perhutani sebagai pemilik lahan kosong. Sedangkan mitra pengusaha besarnya adalah GarudaFood Group.

Kiai Ma’ruf Amin menjelaskan, program Agrikanas ini termasuk program unggulan MUI melalui Pinbas MUI. Agribisnis modern komoditi kacang bertujuan untuk kemakmuran umat. Adapun pelaku kemitraan Agrikanas ini adalah terdiri dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), pelaku usaha besar dan Pemerintah.

“Agrikanas menggerakkan ekonomi umat (ekomat) melalui peningkatan produktivitas kacang (tanah) dengan manajemen modern, sehingga mampu memberikan manfaat optimal, laba dan berkelanjutan. Selain itu, diharapkan dapat membangun jaringan ekomat yang modern, kuat, makmur dan mandiri,” ujarnya.

Ditambahkan Kiai Ma’ruf Amin, program Agrikanas ini merupakan realisasi dari Kongres Ekonomi Umat yang dibuka Presiden RI Joko Widodo pada 22-24 April lalu. Dari kongres menghasilkan berbagai rekomendasi untuk memajukan perekonomian umat di Indonesia.

Ada enam keputusan yang dihasilkan dalam Kongres Ekonomi Umat. Pertama, dalam keputusan ditegaskan tentang sistem perekonomian yang adil, merata, dan mandiri dalam mengatasi kesenjangan ekonomi.

Kedua, mempercepat redistribusi dan optimalisasi sumber daya alam secara arif serta berkelanjutan. Ketiga, memperkuat sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing tinggi berbasis keunggulan IPTEK, inovasi, dan kewirausahaan.

Keempat, menggerakkan koperasi dan UMKM menjadi pelaku usaha perkonomian nasional. Kelima, mewujudkan mitra sejajar usaha besar dengan koperasi dan UMKM dalam sistem produksi dan pasar terintegrasi, namun tetap dalam bingkai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan keenam, membentuk Komite Nasional Ekonomi Umat untuk mengawal arus baru perekonomian Indonesia.

Dengan rekomendasi enam hasil Kongres Ekonomi Umat ini, MUI berkomitmen untuk menggerakkan koperasi dan UMKM menjadi pelaku usaha utama perekonomian nasional.

“Jika selama ini rekomendasi dari pertemuan akbar hanya tersimpan rapi di etalase sekretariat, kali ini MUI benar-benar melaksanakan dan dirasakan langsung oleh masyarakat, semoga program ini dapat berhasil dan berjalan dengan maksimal,” tambah Kiai Ma’ruf.

Sementara Hartono Atmadja mengungkapkan, bahwa GarudaFood berkomitmen untuk mendukung gerakan pemberdayaan ekonomi umat. Hal ini sejalan dengan misi perusahaan yakni membawa perubahan dengan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat berdasarkan prinsip saling menumbuhkembangkan (interdependent-co arising).

“Kami yakin bahwa kesuksesan GarudaFood hingga saat ini tidak terlepas dari peran berbagai pihak. Oleh karena itu kami ikut aktif mendukung gerakan Agrikanas ini, karena selain dapat memupuk budaya dan jiwa entrepreneurship, juga dapat meningkatkan pendapatan perekonomian masyarakat. Sehingga diharapkan kesejahteraan masyarakat juga meningkat,” ucap Hartono.

Dalam program Agrikanas, Perhutani telah menyiapkan pengelolaan lahan seluas 175.000 hektar. Sistem kerjasama dilakukan secara syariah atau bagi hasil antara Perhutani, LMDH dan Pinbas MUI.

Mengapa memilih perkacangan sebagai keunggulan bisnis? Ini antara lain karena produk kacang sangat disukai masyarakat. Memiliki potensi bisnis yang besar. Bisa langsung dikonsumsi, juga bisa sebagai bahan baku beragam produk dan cita rasanya.

Produk ini juga berkualitas, sehat, dan aman. Selain harganya relatif murah. Keunggulan kompetitifnya; melibatkan petani biasa, investasi & modal kecil, luasan lahan bisa fleksibel, Dari sisi pemasaran terjamin, perputaran bisnis relatif cepat, income memadai dan bisa besar, tergabung jaringan ekomat, kerja efektif dan biaya efisien, layak sebagai bisnis, prospeknya potensial.

Direktur Perhutani Jawa Timur, Sangudi mengatakan, selama ini pihaknya sudah bekerjasama dengan LMDH dengan target swasembada pangan. Pengalaman perjanjian dengan LMDH ada dua perjanjian makro dan perjanjian mikro. Dan kini, dengan adanya peran MUI menggandeng swasta (GarudaFood), maka ini akan membuat pengelolaan lahan hutan menjadi maksimal. Apalagi saat ini pemerintah menargetkan swasembada pangan khususnya jagung, kedelai dan kacang tahun 2019.

Kata Sangudi, masyarakat sudah biasa bertani di lahan Perhutani, yang penting bagi petani adalah untung. Sangudi berharap program Perhutanan Sosial yang digalakkan Jokowi bisa berlanjut dalam rangka meningkatkan taraf hidup ekonomi petani di Jawa Timur.

Secara teknis, pengelolaan lahan Perhutani seluas 175.000 Ha telah disiapkan di wilayah Jawa Timur. Adapun pilot project dilaksanakan di desa Dander, Bojonegoro, seluas 0,5 Ha. Dengan sistem kerjasama syariah atau bagi hasil antara Perhutani LMDH dan Pinbas MUI.

Upaya implementasi kemitraannya dengan sistem konsep Inti-Plasma, meliputi pendampingan, penyiapan benih unggul dan penyaluran offtaker. Untuk pendampingan tanam, GarudaFood Grup menyediakan benih Biga (Biji Tiga) sebagai Perusahaan Inti. Perhutani mempersiapkan lahan. Sedangkan pendampingan motivasi maupun mental, biaya pupuk serta herbisida dari Pinbas MUI.

Bisnis kacang nantinya bisa dikembangkan dengan pola tanam, trading dan industri rakyat. Sebagai analisa gambaran usaha ini setiap satu hektar lahan tiap petani dibutuhkan waktu panen dalam tempo 90 hari. Dengan target panen 3,5 ton/ha, dengan hasil kotor 18 juta per panen. Hasil panen dapat dijual sebagai kabas (kacang basah), ataupun dalam bentuk kacang Ose, kacang kulit kering dan kacang olahan.[]

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here