Gairah Hidup Dimulai Dari ‘Seruput’ Secangkir Kopi

0
225

Nusantara.news, Jakarta –Kopi adalah salah satu produk hasil bumi Indonesia yang belakangan ini masuk dalam daftar komoditas unggulan, menurut data terkini kopi Indonesia menempati posisi ke tiga dipasar ekspor dunia, setelah Brasil dan Vietnam. Kopi produk Indonesia dihasilkan dari perkebunan di daerah-daerah produksi yang tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia. Didukung iklim yang sesuai dan ketersediaan lahan yang luas dan subur berbagai jenis kopi dengan varietas yang berbeda berpotensi untuk dikembangkan agar mencapai kualitas yang sempurna dengan tingkat produktifitas yang tinggi.

Alam Indonesia yang luas, subur dengan curah hujan dan  iklim yang mendukung adalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri serta  dimanfaatkan sebaik-baiknya secara optimal agar kopi kita dapat tetap eksis dan unggul bersaing dalam merebut pasar dunia. Seiring dengan itu pemilihan varitas, seleksi benih unggul, tehnik penanaman maupun teknologi pengolahan yang tepat menjadi kunci penting keunggulan kopi Indonesia untuk dapat tetap bersaing di kancah persaingan internasional. Menyadari akan besarnya potensi dan peluang yang kita miliki maka kita hanya perlu terus meningkatkan standarisai produk dan tetap konsisten dalam memperbaiki sistem prosesnya.

Melalui kopi tercipta rantai usaha sebagian masyarakat Indonesia yang melibatkan petani, pengepul, pedagang, eksportir, industri pengolahan, resto dan kafe maupun warung kopi tradisional, menyerap banyak tenaga kerja dan mensejahterakan jutaan rakyat Indonesia.Tentu kita berharap agar komoditas kopi dapat terus memberi kontribusi yang signifikan bagi pengembangan dan ketahanan ekonomi nasional secara berkesinambungan.

Meningkatnya konsumsi kopi secara nasional antara lain didorong  oleh gaya hidup masyarakat. Minum kopi di resto dan kafe saat ini dipandang sebagai bagian dari life style yang merepresentasikan status sosial. Para pengusaha dan pemilik gerai kopi berlomba dalam cara penyajian dan variasi produk olahannya, berbagai resep aneka rasa kopi lengkap dengan rincian kandungan nutrisinyapun coba di promosikan, masing-masing dengan kekhasannya. Berbagai inovasi dicoba untuk ditawarkan kepada masyarakat penggemar kopi yang perkembangannya kini telah merambah wilayah lintas gender, sosial, profesi maupun usia.

Sementara itu resep, pengolahan dan cara penyajiannya telah menjadi cabang seni kuliner tersendiri yang akan terus berkembang seiring berkembangnya nilai-nilai sosial dalam masyarakat. Spektrum kegiatan minum kopi kini semakin luas, bukan sekedar alasan seorang penggemar kopi ingin ngopi, tetapi kini bermakna jauh lebih luas.

Minum kopi bersama kolega menjadi kegiatan yang diwarnai bermacam topik obrolan mulai dari issue politik, ekonomi, bisnis, sosial, seni budaya maupun sekedar melepas kangen antar teman. Maka tak berlebihan kiranya jika ada anggapan bahwa tren minum kopi saat ini sedang bermetamorfosis dari sebuah gaya hidup menuju lahirnya sebuah budaya yang menginspirasi banyak orang yang tanpa sadar ikut serta mewarnai kehidupan masyarakatnya.

Gaya hidup yang berkembang dan diikuti segolongan masyarakat mendorong lahirnya sebuah komunitas para penggemar kopi dengan latar belakang profesi yang beragam sesuai perannya di masyarakat. Komunitas para penggemar dan penikmat kopi ini di Jabodetabek jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan ribu (belum ada penelitian mengenai populasinya). Mereka adalah potential market segment manakala dikelola dan diberdayakan secara optimal. Berbagai kegiatan positif dapat ditawarkan untuk dapat diselenggarakan bersama mereka, antara lain olah raga, pentas seni dan musik, seminar, edukasi, bisnis, aksi sosial dan sebagainya masih banyak lagi.

Pada 2014,  UN Comtrade melansir data,  bahwa Amerika Serikat (AS) mengimpor kopi dari dunia sebesar 5,88 miliar dollar AS atau setara 19,10 persen dari total impor dunia. angka ini meningkat 10,48 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya. Dari nilai ini, sebesar 81,23 persen merupakan kopi biji tidak digongseng tidak dihilangkan kafeinnya (HS 090111 coffee, not roasted, not decaffeinated).

Pada 2015, nilai ekspor kopi Indonesia ke dunia tercatat 1,19 miliar dollar AS atau meningkat 15,21 persen jika dibanding periode yang sama pada 2014. Dari nilai tersebut, AS masih tetap menduduki peringkat pertama negara tujuan ekspor kopi Indonesia dengan nilai 281,15 juta dollar AS (pangsa 23,47 persen). Selanjutnya disusul Jepang dengan nilai 104,96 juta dollar AS (pangsa 8,7 persen), Jerman dengan nilai 88,4 juta Dollar AS (pangsa 7,4 persen). Lalu Italia dengan nilai 84 juta dollar AS  (pangsa 7 persen), dan Malaysia dengan nilai 70,8 juta dollar AS (pangsa 5,9 persen).

Ekspor Indonesia ke AS didominasi oleh kopi biji tidak digongseng tidak dihilangkan kafeinnya sebesar 99,97 persen (HS 090111 coffee, not roasted, not decaffeinated). Sedangkan ekspor biji kopi digongseng ke AS hanya sebesar 0,03 persen (HS 090121 coffee, roasted, not decaffeinated). Saat ini, pangsa pasar kopi Indonesia di pasar AS sebesar 5,5 persen atau urutan ke-6 di bawah Brasil, Kolombia, Viet Nam, Kanada, dan Guatemala.

Menurut International Coffee Organization, Indonesia menduduki urutan ke-4 sebagai produsen kopi terbesar di dunia pada 2014 dengan perkiraan produksi mencapai 622 ribu metrik ton per tahun. Indonesia juga dikenal memiliki varian kopi terbanyak dengan jumlah hampir 100 jenis varian kopi arabika yang dikenal sejak 1699. Beberapa yang terkenal antara lain Sumatra Lintong, Sumatra Solok Minang, Java Preanger, Java Ijen Raung, Java Estate, Sulawesi Toraja, dan Papua Wamena.

Di ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016 yang digelar di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat (AS) pada 14-17 April 2016 lalu, Indonesia menampilkan 17 speciality coffee, yang turut menggairahkan  perkembangan dan pertumbuhan kopi Indonesia di pasar dunia. Speciality coffee ternyata menarik minat Royal Coffee USA, di mana perusahaan Amerika itu akhirnya melakukan pembelian senilai 18 juta dollar AS. MoU pun ditandatangani Royal Coffee USA dengan beberapa eksportir kopi Indonesia; PT Indokom Citra Persada, PT Mandago, PT Ihtiyeri Keti Arad an CV Yudiputra di ajang SCAA pada 15 April 2016.

Istilah “Ngopi”

Culture ngopi sendiri sudah terbentuk sejak ratusan tahun yang lalu. Sebutan atau ajakan  “ngopi” itu hanya istilah saja. Ajakan ngopi  bisa berarti banyak hal; “ketemuan”,  ngobrol, membahas  masalah, atau hanya sekedar kongkow dengan teman lama, bisa juga berarti urusan politik, pebisnis, kesusastraan, kebudayaan dan sebagainya.

Dengan populernya gaya hidup minum kopi semakin bergairah pula pertumbuhan dan perkembangan  komoditas kopi di Indonesia. Hal itu juga ditandai dengan makin banyak petani yang mengalihkan lahan garapannya untuk bercocok tanam pohon kopi. ini disebabkan semakin tingginya permintaan kopi berskala domestik maupun luar negeri.

Dengan menjamurnya kafe di mana-mana,  kini telah turut membantu petani menaikkan harga komoditas kopi di pasaran. Beberapa dekade lalu, para petani sempat frustrasi dengan harga kopi di pasaran. Sehingga banyak yang mengganti tanaman kopi dengan tanaman komoditas lainnya.  Kini,  kebun-kebun kopi  itu pun diberdayakan kembali.

Di sisi lain, banyak  pengusaha muda yang terjun berbisnis membuka gerai atau kafe. Persaingan gerai kopi pun menjadi ramai. hal ini ditandai pembukaan cabang-cabang gerai kopi mereka di mana-mana. Pihak perbankan atau para investor pun tergoda untuk merogoh koceknya memberi  jalan  kepada para pengusaha muda untuk melebarkan sayap usahanya membuka gerai baru.

Para produsen alat elektronik  peracik dan penyeduh kopi modern pun bergairah mempersembahkan produksinya dengan berbagai merk serta harga yang bersaing. Kita memang tak bisa memungkiri bahwa kopi merupakan salah satu komoditas di dunia yang digemari dan dibudidayakan lebih dari 50 negara. Dua varietas pohon kopi yang dikenal secara umum yaitu Kopi Robusta (Coffea canephora) dan Kopi Arabika (Coffea arabica).

Lahan dan Produksi Kopi

Sekitar 95 % dari areal & produksi kopi di Indonesia merupakan kopi rakyat (smallholders coffee), sedangkan selebihnya adalah kopi perkebunan besar (estates coffee). Komposisi kopi robusta kurang lebih 83% dari total produksi kopi Indonesia dan sisanya 17% berupa kopi arabika.  Perbandingan produksi kopi robusta dengan arabika tersebut diharapkan prosentasenya dapat ditingkatkan, yaitu untuk kopi arabika menjadi 30% dan robusta 70%.

Beberapa di antara nama hasil produksi kopi Indonesia yang sudah dikenal di luar negeri secara komersial adalah Kopi arabika  spesialti yaitu Gayo Coffee, Lintong Coffee, Mandheling Coffee, Java Coffee, Luwak Coffee, Bali Kintamani Coffee, Toraja Coffee & Flores/Bajawa Coffee yang telah menjadi andalan dan Icon  Kopi Indonesia yang sangat terkenal di luar negeri, karena mempunyai karakteristik dan citarasa yang khas (spesialti).

Beberapa Daerah Penghasil Kopi

  • Sumatera Selatan: Pagar Alam, Indragiri Hulu.
  • Lampung : Kab. Lampung Barat, Tanggamus, Lampung Utara.
  • Bengkulu : Kepahiang, Curup, Rejang Lebong.
  • Jawa Timur : Kabupaten Jember, Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Malang, Jombang.
  • Sumatera Utara: Kabupaten Tapanuli, Pematang Siantar, Samosir, Sidikalang.
  • NAD : Aceh Tengah, Bener Meriah.
  • Sulawesi Selatan : Kabupaten Tana Toraja, Polmas dan Enrekang.
  • Sumbatera Barat: Kabupaten Agam, Padang Pariaman, Tanah Datar, Solok dan Pasaman.

 INDIKASI GEOGRAFIS ( IG ) TERDAFTAR KOPI

Terdapat 10 diantaranya  yamg sudah memperoleh IG Terdaftar : Kopi Arabika Gayo, Kopi Arabika Sumatra Simalungun, Kopi Robusta Lampung, Kopi Arabika Jawa Preanger, Kopi Arabika Sindoro Sumbing, Kopi Arabika Jawa Ijen Raung,  Kopi Arabika Kintamani Bali,Kopi Arabika Bajawa Flores, Kopi Arabika Kalosi Enrekang, Kopi Arabika Toraja,

Kopi yang dijual di dunia biasanya adalah kombinasi dari biji yang dipanggang dari dua varietas pohon kopi: arabika dan robusta. Perbedaan di antara kedua varietas ini terutama terletak pada rasa dan tingkat kafeinnya. Biji arabika, lebih mahal di pasar dunia, memiliki rasa yang lebih mild dan memiliki kandungan kafein 70% lebih rendah dibandingkan dengan biji robusta.

Wilayah subtropis dan tropis merupakan lokasi yang baik untuk budidaya kopi. Oleh karena itu, negara-negara yang mendominasi produksi kopi dunia berada di wilayah Amerika Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara. Kopi adalah komoditi yang diperdagangkan di bursa-bursa komoditi dan futures, yang paling penting di London dan New York. Di bawah ini, terdapat dua tabel yang mengindikasikan lima negara produsen kopi utama dunia dan lima negara eksportir kopi utama dunia.

Top 5 Negara Produsen Kopi Terbesar di Dunia – Tahun Tanaman 2014:

  1. Brasil            45,342,000
  2. Vietnam            27,500,000
  3. Kolombia            12,500,000
  4. Indonesia             9,350,000
  5. Etiopia             6,625,000


Top 5 Negara Eksportir Kopi Terbesar di Dunia pada Tahun 2014:

  1. Brasil            36,420,000
  2. Vietnam            25,298,000
  3. Kolombia            10,954,000
  4. Indonesia             5,977,000
  5. India             5,131,000

dalam bungkus 60 kilogram
Sumber: International Coffee Organization

Produksi Domestik, Ekspor dan Konsumsi Kopi Indonesia

Indonesia adalah salah satu negara produsen dan eksportir kopi paling besar di dunia. Kebanyakan hasil produksinya adalah varietas robusta yang berkualitas lebih rendah. Indonesia juga terkenal karena memiliki sejumlah kopi khusus seperti ‘kopi luwak’ (dikenal sebagai kopi yang paling mahal di dunia) dan ‘kopi Mandailing’ (lihat di bawah). Berkaitan dengan komoditi-komoditi agrikultur, kopi adalah penghasil devisa terbesar keempat untuk Indonesia setelah minyak sawit, karet dan kakao.

Kopi diperkenalkan di Nusantara oleh Belanda yang pada awalnya menanam pohon-pohon kopi di sekitar wilayah kekuasaan mereka di Batavia namun kemudian dengan cepat mengekspansi produksi kopi ke wilayah Bogor dan Sukabumi di Jawa Barat di abad ke-17 dan abad ke-18. Indonesia terbukti memiliki iklim yang hampir ideal untuk produksi kopi dan karenanya perkebunan-perkebunan segera didirikan di wilayah-wilayah lain di Jawa, Sumatra dan juga di Sulawesi.

Pada saat ini, perkebunan kopi Indonesia mencakup total wilayah kira-kira 1,24 juta hektar, 933 hektar perkebunan robusta dan 307 hektar perkebunan arabika. Lebih dari 90% dari total perkebunan dibudidayakan oleh para petani skala kecil. Seperti yang telah disebutkan di atas dan mirip dengan raksasa kopi regional Vietnam, sebagian besar hasil produksi biji kopi Indonesia adalah varietas robusta yang berkualitas lebih rendah. Biji arabika yang berkualitas lebih tinggi kebanyakan diproduksi oleh negara-negara Amerika Selatan seperti Brazil, Kolombia, El Salvador dan Kosta Rika. Oleh karena itu, sebagian besar ekspor kopi Indonesia (kira-kira 80%) terdiri dari biji robusta. Ekspor kopi olahan hanyalah bagian kecil dari total ekspor kopi Indonesia.

Provinsi-provinsi yang berkontribusi paling besar untuk produksi kopi Indonesia adalah:

           Robusta         Arabika
1. Bengkulu (Sumatra) a. Aceh (Sumatra)
2. Sulawesi Selatan b. Sumatra Utara
3. Lampung (Sumatra)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here