Gajah Mada, Keteladanan Bhayangkara Setia

0
264

Nusantara.news, Jakarta – Mengapa patung Gajah Mada yang dibangun di depan Mabes Polri? Barangkali lebih karena fungsi dan filosofi kepolisian yang dibangun Gajah Madalah yang kelihatannya paling mendekati ideal. Sehingga sebagian ajaran-ajarannya tetap dianut oleh Polri sampai sekarang. Istilah “bhayangkara” yang dikenal hingga sekarang di kepolisian Indonesia sebetulnya adalah sebutan untuk satuan polisi Kerajaan Majapahit yang dibentuk Mahapatih Gajah Mada.

Satuan Bhayangkara itu bertugas sebagai penjaga pribadi raja. Kalau sekarang mungkin semacam Paspampres. Dalam upaya menjaga keamanan raja itu, dengan sendirinya mereka bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat agar tidak muncul gangguan kepada kekuasaan raja.

Ada salah satu fragmen penting dalam kisah pasukan bhayangkara tersebut, yaitu ketika Gajah Mada murka dan membunuh salah seorang anggota pasukan pilihan tersebut.

Alkisah, pada tahun 1319, terjadi pemberontakan kelompok elit kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Ra Kuti. Kerusuhan merebak di seantero negeri Majapahit. Raja Jayanegara yang berada di ujung tanduk berhasil diselamatkan oleh satuan Bhayangkara yang dipimpin Gajah Mada. Raja dan keluarganya diungsikan ke desa Bedander.

Agar tidak tercium keberadaan tempat persembunyian itu oleh para pemberontak, Gajah Mada memerintahkan pasukan Bhayangkara yang beranggotakan lima belas orang pendekar tersebut untuk tidak meninggalkan tempat terpencil itu. Namun, ada seorang anggota pasukan yang membandel dan pergi meninggalkan desa. Gajah Mada murka melihat anak buahnya melanggar disiplin. Dicarinya prajurit itu sampai dapat dan dibunuhnya seketika.

Ini adalah teladan dalam penegakan hukum. Prajurit yang dihukum itu sudah pasti orang kepercayaan dan mempunyai kedekatan pribadi dengan Gajah Mada. Sebab, kalau tidak dekat dan dipercaya, tentulah dia tidak akan dipilih menjadi salah satu pengawal pribadi raja yang sedang dalam ancaman pembunuhan oleh pemberontak. Barangkali, ketika menjatuhkan hukuman itu, Gajah Mada sendiri juga berperang dengan batinnya. Itu suatu hal yang manusiawi. Karena sangat mungkin antara Gajah Mada dengan prajurit itu sudah terjalin semacam ikatan persahabatan dua anak manusia, apalagi sama-sama berada di sebuah tempat yang sangat terpencil.

Tetapi, Gajah Mada menepis semua perasaan itu. Hukum harus ditegakkan, walaupun harus mengorbankan persahabatannya. Itu merupakan harga yang harus dibayar demi tegaknya hukum. Sebab, kalau dia tidak membayar itu, maka harga yang harus ditebus kemudian hari akan jauh lebih mahal yakni keselamatan negara. Jika dia menomorsatukan perasaannya, Gajah Mada pun akan dicatat sebagai seorang mahapatih yang gagal menyelamatkan negara yang tengah terancam. Lebih dari itu, dia akan dikenang sebagai seorang pengkhianat negara.

Gajah Mada memberi pelajaran bahwa disiplin dan kesetiaan kepada negara adalah harga mati bagi prajurit bhayangkara. Tanpa disiplin dan kesetiaan kepada negara, seorang prajurit akan kehilangan kebhayangkaraan. Itu sebabnya kepada anak buahnya Gajah Mada selalu menekankan empat prinsip kebhayangkaraan, yang bahkan hingga kini tetap dianut oleh Polri dan dinamakan Catur Prasetya. Prinsip itu adalah Satya Haprabu (setia kepada pimpinan negara), Hanyaken Musuh (mengenyahkan musuh negara), Gineung Pratidina (bertekad mempertahankan negara) dan Tan Satrisna (ikhlas dalam bertugas).

Gajah Mada adalah tokoh besar Majapahit dan terkenal tetapi masih sangat gelap riwayat hidupnya. Bahkan keterangan mendasar ihwal Gajah Mada masih kabur: Siapakah sebenarnya Gajah Mada itu? Benarkah Sumpah Palapa  itu ide Gajah Mada? Siapakah sesungguhnya yang menjadi penyebab pecahnya Perang Bubat, benarkah itu skenario Gajah Mada untuk menaklukan Sunda? Benarkah wajah Gajah Mada yang kita kenal selama ini adalah wajah asli Gajah Mada? Memang, selama ini banyak mitos yang menempel pada tokoh Gajah Mada.

Soal wajah Gajah Mada yang kita kenal sekarang, itu merupakan hasil penafsiran Mr. Moh. Yamin dari hasil temuan gerabah terhadap pecahan atau fragmen terakota yang banyak ditemukan di Trowulan (situs kerajaan Majapahit). Di sana ada raut wajah perempuan, laki-laki, binatang, dan lainnya.

Dari sekian raut wajah terakota, tampaknya terakota yang akhirnya dipilih adalah yang ada sekarang karena ada pertimbangan tertentu. Raut mukanya tegas, sorot matanya tajam, tampak gagah, dan berwibawa. Itu murni imajinasinya Yamin untuk membangkitkan nasionalisme dan mendekolonisasi sejarah yang dulu sangat Belanda-sentris. Pada saat itu bangsa Indonesia sedang berjuang dan butuh figur pemersatu, butuh tokoh pejuang yang lengkap wajahnya seperti apa. Tak heran Sumpah Palapa Gajah Mada yang isinya ingin mempersatukan nusantara, pun dijadikan inspirasi bagi menguatnya semangat kebangsaan.

Dalam bukunya Gajah Mada: Biografi Politik, Agus Aris Munandar mengajukan penafsiran lain. Gajah Mada diumpamakan seperti sosok Bima. Berbadan tegap, kumis melintang, dan rambut ikal berombak.Agus menyitir dari sebuah temuan arca di Trenggalek yang saat ini patung itu ada di museum Nasional. Gambaran ini tentu berbeda dengan wajah Gajah Mada yang selama ini beredar: tidak berkumis dan pipinya tembem.

Namun, Sejarawan UGM, Bahaudin, menjelaskan tak ada gambaran yang eksplisit soal Gajah Mada di candi-candi peninggalan Majapahit. Di kitab Pararaton dan Negarakertagama juga tak menjelaskan deskripsi fisik Gajah Mada. Kitab Negarakertagama hanya dijelaskan soal negeri-negeri yang ditaklukkan Gajah Mada (tak ada deskripsi fisik Gajah Mada).

Gajah Mada (wafat k. 1364) adalah seorang panglima perang dan tokoh yang sangat berpengaruh pada zaman kerajaan Majapahit. Ia dilahirkan sebagai seorang biasa yang pada awal kariernya menjadi Begelen atau setingkat kepala pasukan Bhayangkara pada Raja Jayanagara (1309-1328). Menurut kitab Pararaton, Gajah Mada sebagai komandan pasukan khusus Bhayangkara berhasil memadamkan Pemberontakan Ra Kuti, dan menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) putra Raden Wijaya dari Dara Petak. Selanjutnya di tahun 1319 ia diangkat sebagai Patih Kahuripan, dan dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri. Akhirnya, pada tahun 1334, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih secara resmi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi (1328-1351) yang waktu itu telah memerintah Majapahit setelah terbunuhnya Jayanagara.***

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here