Ganti Cara Kuno Debat Capres

0
66

PEKAN depan, tepatnya 20 September, KPU akan menetapkan pasangan calon presiden dan wakil presiden yang resmi menjadi peserta pemilu. Sehari kemudian akan dilakukan pengundian nomor urut, dan mulai 23 September sampai 13 April 2019, mereka akan berkampanye untuk menarik simpati pemilih, atau kurang lebih selama tujuh bulan. Inilah kampanye terlama sepanjang sejarah pemilihan presiden secara langsung. Pemilu Presiden sebelumnya, kampanye calon presiden hanya kurang dari sebulan, 4 Juni-5 Juli 2014.

Di dalam masa kampanye itu, ada tahapan debat antarcalon. Menurut Peraturan KPU (PKPU) Nomor 23 Tahun 2018 tentang Kampanye Pemilu, akan ada lima kali debat antarcapres, antarcawapres dan antara capres melawan cawapres.

Forum ini sebenarnya untuk menguji wawasan dan kemampuan mereka jika terpilih menjadi pemimpin. Artinya, yang dicari adalah kelebihan kandidat, bukan kelemahan mereka. Sehingga rakyat bisa menilai kandidat mana yang memiliki banyak kelebihan. Sebab, kalau kelemahan yang diincar, pasti bisa ditemukan, sebab tak ada di antara mereka yang superman.

Meski demikian masih saja ada pendukung masing-masing kandidat yang tak paham substansi ini. Misalnya, usulan agar debat juga dilakukan dalam Bahasa Inggris. Jelas itu bertujuan untuk mencari kelemahan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Kemampuan Bahasa Inggris keduanya pastilah tidak se-excellent Prabowo dan Sandiaga yang bertahun-tahun hidup dan sekolah di Eropa dan Amerika. Lagi pula, tak terlalu penting presiden harus bisa berbahasa Inggris dengan sempurna. Toh menurut UU Nomor 24 Tahun 2009, presiden dan wakil presiden wajib menggunakan Bahasa Indonesia dalam pidato resmi di dalam atau di luar negeri.

Masalah yang harus diperbaiki bukanlah soal bahasa yang dipakai, tapi substansi debat tersebut. Sebab, melihat debat-debat capres sebelumnya, atau juga debat dalam pilkada tempo hari, harus diakui gagal menghadirkan tampilan konsepsional dari para calon. Karena keterbatasan format dan durasi, forum ini masih terlalu jauh untuk menggali konsep para kandidat secara menyeluruh.

Format debatnya memang tidak memberi peluang kepada para kandidat untuk menyampaikan paparan lengkap. Sebab, setiap calon diberi waktu untuk memaparkan visi dan misinya hanya rata-rata 2-3 menit. Setelah itu penajaman oleh panelis dan harus dijawab kandidat dengan durasi yang kurang lebih sama. Tentu mustahil memaparkan konsep pembangunan dalam tempo sependek itu.

Dengan pertanyaan mendadak yang diajukan panelis, sang calon harus menjawab dengan cepat dalam tempo singkat. Akibatnya yang muncul hanya gagasan-gagasan sloganistik, tanpa penggalian yang memadai tentang bagaimana kebijakan, strategi dan operasionalisasi gagasan tersebut.

Forum debat ini sebenarnya bagus untuk menggali konsep calon pemimpin negara. Tetapi, ya itu tadi, gagal mencapai tujuannya tersebut. Selama ini debat terkesan cenderung hanya menjadi adu mulut, bertengkar dan lomba kemeriahan yel-yel pendukung.

Waktu yang terbatas mensyaratkan kemampuan menjawab secara cepat. Kemampuan ini hanya bisa dipenuhi oleh orang-orang yang punya bakat orasi yang baik. Kemahiran bersilat lidah adalah syarat utama memenangkan debat. Padahal yang harus diuji dari seorang calon pemimpin adalah konsepsi, kepemimpinan dan kemampuan manajerial.

Debat dengan format seperti ini juga hanya terbatas menguji secara sekilas kemampuan pribadi sang calon, sementara dalam kepemimpinan yang mesti digali adalah adanya dukungan tim kerja sang kandidat.

Debat kandidat mestinya dihindarkan dari simplifikasi publik yang cenderung menilai orang pandai itu adalah orang yang mahir beradu mulut. Terlalu dangkal jika pemimpin hanya diuji dari kemahirannya “bertengkar”. Toh banyak pemimpin yang hebat, tetapi tidak pandai berdebat.

Debat adalah penggalian pandangan, yang di dalamnya terkait unsur keilmuan, penguasaan masalah yang relevan, manajemen serta kepemimpinan. Calon-calon pemimpin tertinggi eksekutif itu harus benar-benar tergali visi, misi dan strategi mereka. Sebab dari situlah publik bisa mengetahui apakah para calon itu adalah figur yang punya konsep dan rencana, atau hanya orang-orang yang tak tahu harus berbuat apa ketika mereka duduk di singasana.

Pertanyaan tertutup yang bersifat mendadak ada baiknya dihindari. Sebab itu hanya akan mendatangkan jawaban refleks yang belum tentu menyentuh aspek substansial. Tidak ada salahnya, pertanyaan dalam topik tertentu diberikan beberapa hari sebelumnya. Tujuannya agar sang kandidat bisa memberikan jawaban komprehensif yang dirumuskan bersama tim kerjanya. Dari sini akan terukur seberapa bermutu jawaban itu dan bagaimana kualitas tim kerjanya. Sebab, kinerja kepemimpinannya nanti juga sangat ditentukan oleh tim kerja yang berkualitas.

KPU harus mengevaluasi  agar diperoleh  format dan mekanisme debat yang tepat. Negara ini tidak membutuhkan pemimpin eksekutif yang hanya pandai bersilat lidah, merencanakan program yang rumit dan canggih, tapi bagaimana mewujudkan program sederhana dengan efektif dan efisien.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here