Cosmetic Development Laporan Keuangan Garuda (2)

Garuda Ngeyel Merasa Penyajian Laporan Keuangan Sudah Benar

0
344
Dirut PT Garuda Indonesia Tbk I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra sedang menjadi sorotan publik lantaran penyajian laporan keuangan yang dianggap aneh. Pendapatan 15 tahun ke depan diakui sebagai pendapatan tahun 2018.

Nusantara.news, Jakarta – Sejak gonjang-ganjing anehnya laporan keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (Garuda), komunitas di pasar modal banyak bertanya-tanya. Bagaimana mungkin perusahaan publik pelat merah sekelas Garuda mau membukukan laporan keuangan aneh tersebut.

Stakeholder pasar modal cepat memahami bahwa ada laporan keuangan yang ganjil yang disuguhkan Garuda. Dimana Garuda mendapat proyek pemasangan Wifi dari PT Mahata Aero Teknologi senilai US$239,94 juta atau setara Rp3,36 triliun untuk durasi 15 tahun. Namun Garuda mencatatkan dalam laporan keuangan perseroan menjadi penerimaan Garuda sepanjang 2018.

Hal ini berkonsekuensi pada membaiknya laporan keuangan Garuda dari rugi bersih Rp1,66 triliun pada kuartal III-2018 menjadi laba bersih Rp11,33 miliar hanya dalam tempo tiga bulan. Tentu saja kita sebagai anak bangsa senang dengan perbaikan kinerja Garuda yang bertahun-tahun defisit, mulai tahun ini mulai membukukan laba. Tapi kita cukup sedih karena proses itu semua dilakukan lewat cosmetic development laporan keuangan.

Akibat pencatatan pendapatan 15 tahun ke depan hanya dalam satu tahun tersebut, dua Komisaris Garuda menolak menandatangani, yakni Chairal Tanjung dan Dony Oskaria. Penolakan tersebut didasari pada profesionalisme sang komisaris sebagai pengawas Garuda.

Itu sebabnya diperlukan penjelasan yang transparan dari manajemen Garuda kepada publik sebagai bentuk pertanggungjawaban profesional dan itikad yang baik dalam penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance–GCG). Penjelasan ini juga diperlukan karena garuda adalah flag carrier nasional.

Manajemen Garuda sendiri akhirnya memberikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait laporan tahunan 2018 perseroan yang sedot perhatian publik baru-baru ini.

Penjelasan manajemen Garuda disampaikan dalam kerangka keterbukaan informasi di BEI pada Senin (29/4) yang ditandatangan oleh seluruh Direksi Garuda. Manajemen Garuda menjelaskan beberapa isu yang mengemuka terkait laporan keuangan yang membaik tersebut dalam beberapa hal.

Pertama, klarifikasi atas kebenaran informasi laporan keuangan. Pencatatan pendapatan atas hak kompensasi layanan konektivitas dan in-flight entertainment telah sesuai dengan Standar Akuntansi yang berlaku. Selain itu, laporan keuangan tahun buku 2018 telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik dengan opini wajar tanpa pengecualian.

Perseroan juga telah melakukan keterbukaan informasi dalam rangka pemenuhan Peraturan IX.E.2 tentang transaksi material dan perubahan kegiatan usaha utama sehubungan transaksi dengan Mahata pada 4 April 2019 melalui website BEI dan surat kabar suara pembaruan.

Sebagai tambahan informasi, mengacu kepada Peraturan IX.E.2 nilai transaksi yang tercantum pada laporan keterbukaan informasi tersebut merupakan nilai transaksi antara Perseroan dan Mahata, sementara itu LKT yang dipublikasikan pada 1 April 2019 merupakan laporan keuangan konsolidasian Perseroan.

Kedua, Penyebab dua komisaris perseroan tidak menandatangani laporan tahunan 2018. Sesuai dengan penjelasan Dewan Komisaris yang disampaikan pada RUPS Tahunan Perseroan yang diselenggarakan pada tanggal 24 April 2019 (RUPST) bahwa terdapat dua Anggota Komisaris yang berpendapat pendapatan Perseroan dari Mahata tidak dapat diakui dalam tahun buku 2018 karena tidak sesuai dengan PSAK 23.

Ketiga, dampak permasalahan tersebut terhadap pelaksanaan RUPS dan pemenuhan ketentuan Anggaran Dasar Perseroan dan ketentuan yang berlaku lainnya. Manajemen berpendapat tidak terdapat dampak apapun dari tidak ditandatanganinya Laporan Tahunan Perseroan tahun buku 2018 oleh 2 (dua) Dewan Komisaris terhadap pelaksanaan RUPS Perseroan.

Laporan Tahunan Perseroan tahun buku 2018 termasuk di dalamnya Laporan Keuangan Konsolidasian Perseroan tahun 2018, Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris dan Laporan Keuangan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Perseroan tahun 2018 telah mendapatkan persetujuan dari RUPS Tahunan yang diselenggarakan pada 24 April 2019.

Keempat, penjelasan mengenai kriteria pengakuan pendapatan atas kerja sama dengan Mahata beserta dasar Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)-nya. Pengakuan Pendapatan sesuai dengan PSAK 23 Sesuai dengan PSAK 23 Paragraf 29 pendapatan yang timbul dari penggunaan aset entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti, dan dividen diakui jika: kemungkinan besar manfaat ekonomik aset tersebut mengalir ke entitas, dan jumlah pendapatan dapat diukur secara handal

Sebagaimana yang tercantum pada Perjanjian Kerja Sama (PKS) penyediaan layanan konektivitas dalam penerbangan, antara PT Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink Indonesia No. Citilink/JKTDSQG/PERJ-6248/1018 pasal 3 dan 8 bahwa PT Citilink Indonesia menerima manfaat ekonomik berupa peningkatan kualitas layanan dan potensi pendapatan.

PKS sebagaimana tersebut di atas juga telah menyatakan jumlah nilai biaya kompensasi dan alokasi slot dari pesawat terhubung, sehingga pendapatan dari PT Mahata Aero Teknologi dapat diukur secara andal.

Atas dasar tersebut dan didukung oleh pendapat hukum dari Law Firm Lubis, Santosa & Maramis  tidak terdapat kewajiban kontraktual untuk mengembalikan biaya kompensasi. Maka biaya kompensasi dapat diakui sebagai pendapatan pada 2018.

Sesuai dengan perjanjian pasal 3 dinyatakan bahwa Mahata akan melakukan dan menanggung seluruh biaya penyediaan, pelaksanaan, pemasangan, pengoperasian, perawatan dan pembongkaran dan pemeliharaan termasuk dalam hal terdapat kerusakan, mengganti dan/atau memperbaiki peralatan layanan konektivitas dalam penerbangan dan hiburan dalam pesawat dan manajemen konten.

Oleh karena itu, secara substantial imbalan yang diterima atas penyerahan hak pemasangan dan hak pengelolaan tersebut di atas merupakan imbalan tetap atau jaminan yang tidak dapat dikembalikan dalam suatu kontrak yang tidak dapat dibatalkan yang mengizinkan pemegang hak untuk mengeksploitasi hak tersebut secara bebas dan pemberi hak tidak memiliki sisa kewajiban untuk dilaksanakan, pendapatan atas kompensasi hak pemasangan peralatan layanan konektivitas pesawat dan kompensasi hak pengelolaan layanan hiburan dalam pesawat dan manajemen konten sebesar US$211,94 juta diakui pada saat penyerahan hak kepada Mahata pada tahun 2018

Kelima, pertimbangan perseroan melakukan kerja sama dengan Mahata. Sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja, Perusahaan memiliki beberapa inisiatif untuk men- generate ancillary revenue yang salah satunya melalui kerja sama dengan investor yang memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam Layanan In-Flight Connectivity dan In-Flight Entertainment.

Dengan market share Garuda Group mencapai 51% atau dengan jumlah pelanggan sebesar 30 juta pelanggan per tahun, maka Garuda Grup merupakan market place yang potensial untuk sarana dan/atau media iklan.

Melalui transaksi ini, Perseroan dapat memperoleh manfaat-manfaat seperti meningkatkan service level kepada penumpang Garuda Indonesia dengan menyediakan layanan konektivitas pada seluruh pesawat Garuda Indonesia.

Selain itu sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja Perusahaan dengan men-generate ancillary revenue. Perseroan juga dapat melakukan efisiensi beban usaha dengan mengurangi biaya pengelolaan layanan In-Flight Entertainment yang akan menjadi beban Mahata yang akan meningkatkan laba Perseroan secara konsolidasi.

Perseroan akan memperoleh pendapatan yang berasal dari biaya kompensasi hak pemasangan peralatan layanan konektivitas dan hak pengelolaan layanan In-Flight Entertainment dari PT Mahata yang akan meningkatkan laba Perseroan secara konsolidasi.

Perseroan akan memperoleh pendapatan yang berasal dari alokasi slot dari Mahata yang akan meningkatkan laba Perseroan secara konsolidasi. Meningkatkan kinerja keuangan Perseroan secara konsolidasi yang dapat meningkatkan nilai saham Perseroan dan memberikan nilai tambah bagi Pemegang Saham.

Keenam, profil Mahata yang meliputi tahun berdiri, bidang usaha, pemegang saham sampai dengan ultimate shareholder, jumlah aset.

Mahata didirikan berdasarkan Akta No. 3 tanggal 03 November 2017 yang dibuat oleh Yeldi Anwar, SH, notaris di Jakarta. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Hukum dan Perundangundangan Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU- 0140899.AH.01.11.TAHUN 2017 tanggal 08 November 2018. Perusahaan berdomisili di Prosperity Tower 9th Floor, Unit F, District 8, SCBD Lot 28, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53 Jakarta Selatan 12190.

Kegiatan usaha Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan adalah berusaha dalam bidang industri jasa, perdagangan, pembangunan, percetakan, transportasi dan pertanian. Saat ini kegiatan usaha Mahata bergerak dibidang penyediaan layanan internet pada transportasi udara.

Susunan pemegang saham:

– Hendro Prasetyo dengan kepemilikan 32%, jumlah Rp3,36 miliar

– PT Wicell Technologies dengan kepemilikan 33,50%, jumlah Rp3,51 miliar

– Muhammad Fitriansyah dengan kepemilikan 32%, jumlah Rp3,36 miliar

– Edwar Sidharta Jayasubrata dengan kepemilikan 2,50%, jumlah Rp262,50 juta

 

Adapun Susunan Dewan Komisaris dan Direksi per 31 Desember 2018:

-Komisaris: Hendro Prasetyo

– Direktur Utama: Muhammad Fitriansyah

– Direktur: Yugo Irwan Budiyanto

– Direktur: Junirzan Murdian

– Direktur: Edward Sidharta Jayasubratap

Ketujuh, apakah perseroan memiliki kontrak sejenis dengan vendor lainnya? Jika ya mohon penjelasan yang meliputi nama vendor, nilai kontrak dan periode kontrak?

Manajemen Garuda menjelaskan Perseroan tidak memiliki kontrak kerja sama dengan penyedia layanan konektivitas sejenis dengan vendor lainnya. Perseroan hanya memiliki kerja sama dengan penyedia konektivitas dan bukan penyedia alat konektivitas.

Selain itu, perseroan juga memiliki kontrak kerja sama terkait dengan content management in-flight entertainment yang akan berakhir pada Juni 2019.

Pada bagian lain, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia, Fuad Rizal dalam keterbukaan informasi mengakui Garuda belum menerima pembayaran dari Mahata terkait kontrak selama 15 tahun tersebut. Jika piutang dari Mahata itu tak tertagih terhadap laporan keuangan Garuda Indonesia, perseroan sendiri akan melakukan assessment atas perjanjian kerja sama itu setiap dua bulan sekali.

Jika proses assessment hasilnya tingkat kolektivitasnya rendah, atau tidak bisa dibayar, maka dalam laporan keuangan Garuda Indonesia akan diakui sebagai beban piutang tak tertagih. Artinya beban itu akan menekan pendapatan di laporan keuangan setelahnya.

Fuad menjelaskan mengapa Garuda mengikat kontrak dengan Mahata, karena beberapa kontrak kerja sama yang telah diraih Mahata di antaranya dengan Lufthansa system, Lufthansa Tecnic dan Inmarsat. Menurut perseroan perusahaan itu merupakan perusahaan internasional yang memiliki Know Your Customer (KYC) dan due diligence dalam menentukan mitra.

"Mahata merupakan perusahaan startup yang didukung oleh induk usaha Global Mahata Group yang memiliki 10.000 karyawan dengan cakupan bisnis, pertambangan timah, inflight connectivity dan tenaga keamanan. Nilai bisnis Global Mahata Group secara total adalah US$640,5 juta," Fuad menambahkan.

Persoalannya, penyajian pembukuan Mahata apakah akan diterim BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)? Semua tentu akan berpengaruh pada berubah tidaknya laporan keuangan Garuda ke depan Bila perlu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit investigas khusus untuk kewajaran laporan keuangan Garuda..[bersambung]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here