Gatot Mengkritik Partai Islam  

0
787

SEBUAH kritik mendasar disampaikan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo terhadap partai-partai Islam. Menurut Gatot, partai-partai politik Islam di Indonesia sulit bersatu. Akibatnya partai Islam tidak pernah bisa menawarkan pemimpin yang dipandang bisa mengayomi semua pihak.

“Jika sudah bersatu, partai-partai ini suara sah umat Islam Indonesia. Maka siapapun pemimpin yang nantinya ditawarkan akan disetujui oleh umat karena dianggap mampu mengayomi,” kata Gatot di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta Jumat (4/5). Menurutnya, partai Islam semestinya bersatu demi umat tanpa memikirkan pemilihan presiden dan wakil presiden.

Partai Islam seperti PKS, PAN, PPP, PKB, dan PBB tidak bersatu karena memiliki kepentingan berbeda dan melenceng jauh dari ajaran Islam yang menjadi dasar partai.

“Umat Islam memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan. Jika saat ini para elit politik partai Islam melaksanakan ajaran agama, saya yakin Indonesia kuat,” katanya.

Kritik Gatot ini sebenarnya kritik klasik bagi umat Islam Indonesia –tidak saja partai Islam di Indonesia. Dalam hitungan angka memang mayoritas, tetapi dalam hitungan politik kekuasaan justru sebaliknya.

Secara sosiologis, mengikuti pembagian oleh sejumlah sejarawan, umat Islam Indonesia terbagi dalam dua kelompok besar, kelompok tradisional dan kelompok modernis. Dua kelompok besar itu dalam beberapa hal furu’iyah keagamaan berbeda. Secara organisasi mereka terwakili oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Perbedaan dalam praktek keagamaan, dibawa pula ke politik. Dua kelompok ini tak pernah akur. NU, meski pernah bergabung dengan Masyumi, menjelang Pemilu 1955 keluar. Ketika fusi partai dilakukan 1971, dua kelompok ini dikawinpaksa di dalam PPP.

Ketika reformasi politik terjadi, faksi-faksi itu berloncatan sendiri-sendiri. Tetapi, parahnya, dalam satu kubu terdapat berbagai partai. Di basis massa Islam tradisional, ada PKB, atau di awal reformasi ada PNU, PKU dan sebagainya. PPP, karena sejak pasca-Orde Baru, selalu dipimpin oleh unsur NU, bisa digolongkan dalam ceruk yang sama dengan PKB. Dari basis massa modernis, ada PAN, PBB, atau PKS.

Teori Gatot Nurmantyo memang ada benarnya. Andai saja mereka bersatu, maka akan diperoleh satu kekuatan suara yang besar. Jika suara PKB, PAN, PKS  dan  PPP digabung menjadi satu partai, maka setidaknya partai tersebut akan menguasai sepertiga kursi DPR saat ini. Belum lagi tambahan suara partai-partai Islam yang tidak lolos ambang batas parlemen. Perolehan itu tentu sangat signifikan, ketimbang jika berdiri sendiri dengan jumlah perolehan kursi yang hanya berkisar 6-9 persen.

Tetapi itu semua hanya cita-cita. Dan antara cita-cita dan realita selalu ada jurang yang memisahkannya.

Kita menilai, ini bukan lagi perbedaan historis tadi, tetapi sudah dipengaruhi oleh ambisi kekuasaan. Para pemimpin partai Islam sejatinya adalah politisi dalam pengertian yang umum juga. Mereka adalah penghamba kekuasaan. Karena itu, sangat jauh dari pikiran mereka untuk saling membahu merebut kekuasaan itu.  Sebab, kalau nanti kekuasaan sudah di tangan, tidak ada yang mau menjadi nomor dua. Semua berebut menjadi nomor satu.

Kalau berpikiran negatif, kita bisa saja mencari dalih bahwa perpecahan itu karena umat Islam termakan rekayasa pihak luar yang tak ingin umat Islam bersatu. Tetapi, kendati hal itu bukan mustahil, perilaku pemimpin partai politik Islam sendiri juga memberi lahan subur bagi perpecahan.

Hitungan jumlah umat Islam yang besar baru merupakan data statistik, tapi belum signifikan secara politik. Dan keadaan ini akan selamanya begitu, karena upaya perubahan selama berpuluh tahun hanya menjadi wacana belaka di kalangan para pemimpin. Tetapi, tidak pernah bisa menjadi kenyataan, karena apa yang ada di hati para pemimpin partai Islam berbeda dengan di mulutnya.

Munafik, mungkin kata yang  terlalu kasar menggambarkan perilaku tersebut. Tetapi, yang jelas kepentingan umat Islam hanya menjadi gincu politik. Kepentingan utamanya tetap saja kekuasaan. Wallahu a’lam.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here